Sengat Isu Panas Jelang Pilkada Jatim

Foto: ©2016 Merdeka.com

 

Awal 2018 menghadirkan banyak kejutan di panggung politik Indonesia. Tak hanya di tingkat nasional, panasnya pertarungan memperebutkan posisi gubernur dan wakilnya pun kian menggila, terutama yang terjadi di tanah Jawa, mulai dari bagian barat, tengah, hingga terus ke timur.

Betapa tidak, mendekati waktu pilkada, publik dikejutkan oleh berbagai manuver politik yang mencengangkan. Salah satu yang terseru dan mengagetkan adalah yang terjadi di Jawa Timur. Yang pertama adalah keputusan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk mencalonkan Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid sebagai calon gubernur dari Partai Gerindra.

Tak berhenti membuat kaget publik, Yenny yang merupakan putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu pun memberikan pernyataan penolakan. Padahal publik mengetahui, suami Yenny adalah salah satu pengurus teras Partai Gerindra.

Yang menambah keterkejutan publik adalah, peristiwa penolakan Yenny Wahid secara resmi itu terjadi berdekatan dengan keputusan mundur calon Wakil Gubernur, Abdullah Azwar Anas, yang dicalonkan oleh PDIP. Tersiar berita bahwa AAA yang merupakan Bupati Banyuwangi tersebut akan digantikan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharani, atau yang akrab dipanggil Bu Risma.

Apakah ini sebuah kebetulan? Tak ada yang berani memastikan. Namun, dalam politik yang begitu dinamis dan penuh dengan persaingan sengit, apa pun bisa terjadi.

Mengenai penolakan Yenny Wahid, Prabowo Subianto memberikan pernyataan memaklumi. Menurutnya, apa yang dilakukan Yenny adalah hak politiknya. Ia menghargai Yenny karena dirinya merasa juga menjadi bagian dari keluarga besar NU dan murid Abdurrahman Wahid.

Di sisi lain, banyak kalangan menilai apa yang dilakukan Yenny adalah langkah yang sangat cerdas. Seperti yang diketahui, Yenny selama ini dikenal sebagai aktivis HAM serta dekat dengan kalangan yang memang lama punya posisi kontra dengan Prabowo Subianto. Bila ia bergabung dengan Gerindra, akan berpotensi memutus banyak jaringan politik, baik dalam maupun luar negeri yang pelan-pelan telah ia rajut selama ini.

Penolakan Yenny Wahid dinilai oleh banyak kalangan bakal menghambat upaya Gerindra menggembosi kekuatan NU dari dalam. Terutama dari kalangan NU garis darah biru, yakni para penerus NU yang punya hubungan kekerabatan dengan para pendiri ormas islam tersebut di masa lalu.

Rumor lain yang beredar adalah, langkah Yenny jelas bertentangan dengan keinginan penguasa terkini yang telah membantu keluarga besar mantan Presiden Gus Dur untuk ikut punya peran yang kian signifikan di Timur Jawa, baik secara politik maupun ekonomi. Jika ia mengiyakan Prabowo, bisa dipastikan “dukungan” tersebut akan dicabut.

Prabowo kepada media berterus terang menyebut para kandidat, terutama Saifullah dan Khofifah, adalah kader terbaik NU dan menjadi bagian dari pemerintahan terkini. Keinginan dirinya maupun partainya untuk menominasikan Yenny Wahid bukan berarti tak menghormati mereka, tetapi sebagai bagian dari proses berdemokrasi dengan hak setiap orang mencalonkan atau dicalonkan.

Prabowo pun mengklaim bahwa Partai Gerindra tidak mau menyerah setelah Yenny menolak tawarannya. Gerindra masih memiliki kesempatan untuk menentukan sosok yang tepat sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur. Prabowo mengaku akan membahasnya dengan sejumlah pemimpin partai yang belum menentukan sikap, di antaranya Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, dan Presiden PKS, Sohibul Iman.

Kasus Bupati Banyuwangi

Selain heboh penolakan Yenny Wahid, kasus yang menimpa Abdullah Azwar Anas, pun tak kalah seru. Setelah baru-baru ini ia mengaku bahwa dirinya kerap menerima teror, muncul desas-desus ia mundur dari pencalonan sebagai wakil gubernur.

Isu yang muncul pun tak main-main, yakni dugaan affair sang Bupati dengan wanita yang bukan istrinya. Isu berkembang setelah publik Indonesia dihebohkan kemunculan foto seorang pria yang mirip dirinya sedang berada di sebuah mobil. Di sampingnya ada sebuah kaki jenjang seorang wanita dengan pose yang tak patut. Plus, sebotol minuman keras ikut masuk ke dalam gambar tersebut.

Terkait dengan foto tersebut, baik Anas maupun PDIP tak mau mengungkapnya secara jelas dan resmi. Namun, Anas telah membuat pernyataan kepada media bahwa ada upaya pembunuhan karakter terhadap dirinya beberapa hari menjelang masa pendaftaran Pilkada Jatim.

Bagi Anas, perlakuan seperti itu sudah kerap diterimanya sejak periode kedua dirinya menjabat Bupati Banyuwangi. Perlakuan yang sama persis, kata Anas, sudah diterimanya sejak tahun kedua menjabat Bupati Banyuwangi, tepatnya ketika dirinya menerapkan sejumlah kebijakan, seperti pelarangan pasar modern dan memperjuangkan saham bagi rakyat di sektor pertambangan.

PDIP sebagai partai pengusung Anas pun tampaknya bersikeras untuk tetap mencalonkan Bupati Banyuwangi itu. Namun, pengakuan dari Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berbeda. Ia mengatakan bahwa calon wakilnya di pilkada Jatim itu berkeinginan untuk mengundurkan diri. Sayangnya, Gus Ipul enggan menjelaskan alasan Anas akan mengundurkan diri.

Apa yang dikatakan Anas memang telah menjadi buah bibir di kalangan publik Jawa Timur. Terutama ketika akan bertarung di periode keduanya sebagai Bupati Banyuwangi. Saat itu santer berembus kabar bahwa ia punya kedekatan dengan beberapa artis Ibu Kota.

Anas bahkan pernah diisukan nikah siri dengan artis flamboyan, panas, dan sexy, Ayu Azhari. Menariknya, pemberitaan seputar nikah siri itu menyebar cepat, tetapi hilang seiring dengan berakhirnya pilkada. Anas memenangi pilkada periode kedua di Kabupaten Banyuwangi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


sixteen + fifteen =