Al-Baghdadi Tewas, Apa Dampaknya di Asia Tenggara?

 

Pemimpin ISIS, Imam al-Baghdadi, dikabarkan tewas akibat serangan udara Rusia. Kabar ini pertama kali diungkapkan pihak militer Rusia, yang kemudian diperkuat pernyataan Pengawas Hak Asasi Manusia (HAM) di Suriah dan telah dikonfirmasi oleh ISIS berdasarkan berita yang dilaporkan TV Al Sumaria.

Meskipun demikian, kematian Al-Baghdadi masih jadi bahan perdebatan. Masih banyak orang yang tidak mempercayainya. Intelijen Irak dan Kurdi bahkan mengatakan bahwa pentolan ISIS itu masih hidup.

Perdebatan tentang kematian Al-Baghdadi memang bukan berita baru. Maklum saja, sudah beberapa kali dirinya diklaim tewas oleh serangan Rusia maupun Amerika Serikat (AS). Kenyataannya, klaim tersebut salah, pimpinan ISIS tersebut masih hidup.

Terlepas benar-tidaknya, kematian Al-Baghdadi akan berdampak besar bagi organisasi tersebut maupun terorisme di dunia. Kematian Al-Baghdadi diyakini akan menurunkan aksi terorisme.

Terorisme adalah sebuah gerakan yang dilakukan karena gagasan menyimpang dari orang-orang radikal. Selama gagasan ini masih diyakini sebagai kebenaran, meski pemimpinnya tewas, pelaku terorisme akan tetap ada. Lihat saja, tewasnya pemimpin Al-Qaedah, Osama bin Laden, pada 2011, tidak mematikan terorisme dan malah melahirkan gerakan baru.

Berita kematian Al-Baghdadi, jika memang benar, dapat berdampak pada munculnya gerakan ISIS baru dan bermarkas di Asia Tenggara. Asia Tenggara sejak 2016 dianggap sebagai wilayah yang berpotensi dijadikan markas baru oleh ISIS. Keberadaan ISIS yang semakin terdesak di Suriah dan Irak membuat organisasi teroris ini menjadikan Asia Tenggara potensial sebagai markas baru.

Posisi ISIS yang terdesak juga membuat kombatannya memilih pulang kampung. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait Narkoba dan Kejahatan, sekitar 516 warga Indonesia, 100 warga Filipina, 100 warga Malaysia, dan 2 warga Singapura merupakan kombatan ISIS.

Kombatan-kombatan yang pulang kampung ke negaranya masing-masing berpotensi meningkatkan serangan teroris. Serangan-serangan tersebut muncul dalam skala yang lebih kecil yang dilakukan oleh kelompok kecil dan individu.

Di Indonesia contohnya, sejak posisi ISIS semakin terdesak, serangan-serangan teroris semakin marak. Dalam serangannya, pelaku teror saat ini semakin berani menjadikan aparat keamanan sebagai target.

Di Filipina, kelompok teroris Maute Group pada 23 Mei 2017 melakukan penyerangan untuk mengambil alih kekuasaan di Kota Marawi. Kelompok teroris ini merupakan salah satu yang berafiliasi dengan ISIS, pada 2015 menyatakan sumpah setia terhadap Al-Baghdadi.

Upaya kelompok Abu Sayyaf menguasai Marawi merupakan bagian dari usaha ISIS mendirikan markas baru di Asia Tenggara. Sebetulnya kelompok teroris di Filipina sudah dari jauh-jauh hari menyatakan sumpah setianya kepada ISIS, seperti Abu Sayyaf pada 2014Ansar al-Khilafah pada Agustus 2014, dan Khalifa Islamiyah Mindanao (KIM) pada 2015.

Meskipun kelompok teroris di Filipina telah menyatakan sumpah setianya kepada ISIS sejak 2014, upaya-upaya serangan secara massif yang ditujukan untuk melumpuhkan kota mulai dilakukan pada 2017. Posisi ISIS di tempat asalnya, yaitu Suriah dan Irak, yang semakin terdesak, membuat sel-sel ISIS di Asia Tenggara berusaha mencari wilayah baru yang dapat dijadikan markas mereka.

Serupa jika ISIS benar-benar kehilangan pemimpinnya, mereka akan membuat sel-selnya di wilayah luar Suriah dan Irak, seperti Asia Tenggara. Tidak menutup kemungkinan, pemimpin-pemimpin sel ISIS di luar Suriah dan Irak akan mulai unjuk kekuatan untuk memperlihatkan pengaruhnya di wilayah masing-masing karena gagasan atau ide ISIS masih diamini oleh mereka.

Jadi, meskipun ISIS dapat dikalahkan di Suriah dan Irak atau pimpinannya, yakni Al-Baghdadi, sudah dinyatakan tewas, gagasannya masih akan tetap ada. Semua harus waspada karena gagasan tersebut dapat berevolusi menjadi jauh lebih berbahaya dari yang ada sekarang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


two × 1 =