Anggota DPRD, PKS, dan Paham Garis Keras

 

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Nadir Umar (44), ditangkap Densus 88 di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Sabtu, 8 April 2017. “Iya betul, yang ditangkap Tim Densus anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, MNU. Sekarang masih menjalani pemeriksaan di Polda,” kata Kapolres Pasuruan, AKBP Muhammad Aldian, Sabtu (8/4/2017) malam, seperti dikutip detik.com.

Densus 88 menangkap Umar dengan tuduhan memiliki hubungan dengan kelompok Islamic State, lebih dikenal sebagai ISIS, sekitar pukul 15.21 WIB. “Dia diperiksa terkait keterlibatannya dengan teroris yang ditangkap di Lamongan, beberapa hari lalu,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera, Minggu (9/4/2017), dikutip dari kompas.

Sementara itu, PKS telah mengonfirmasi bahwa benar Umar merupakan salah satu kadernya. Umar terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan periode 2014-2019.

Umar dideportasi di Turki setelah transit dari Malaysia bersama anggota Forum Dakwah Nusantara (FDN), Budi Mastur. Berdasar hasil interogasi, diketahui bahwa mereka mencoba masuk ke Suriah melalui Turki dan berencana mengantarkan bantuan kemanusiaan untuk pengungsi Lebanon.

Namun, setelah investigasi menyeluruh, kepolisian mengatakan bahwa Umar tidak memiliki koneksi dengan ISIS. Pihak kepolisian pun memulangkannya Senin (10/4/2017).

PKS dan Terorisme

Meskipun tidak terbukti, dugaan bahwa anggota DPRD terlibat dengan kelompok teroris, sangatlah mengagetkan. Sebagai lembaga legislatif, DPRD mempunyai kekuasaan membuat peraturan daerah. Tentu sangat berbahaya jika institusi dengan kekuasaan membuat peraturan disusupi orang-orang yang menganut paham garis keras.

Teroris merupakan penganut paham garis keras karena cenderung menggunakan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan kelompoknya. Tujuan biasanya berkaitan dengan politik.

Di sisi lain, peristiwa ini mengingatkan kita semua untuk waspada, bahwa teroris dapat menyusupi semua institusi kenegaraan. Dalam pemilihan langsung, semua orang dapat menjadi pemimpin atau legislatif selama mereka tergabung dalam partai dan mempunyai suara yang cukup.

Setan saja dapat menjadi pemimpin selama dia mempunyai suara yang cukup. Ingat Hitler? Hitler menjadi pemimpin Jerman karena partainya, Nazi, menang dalam pemilu. Dalam perjalanan kepemimpinannya Hitler menganggap bangsa selain Aria, sebagai musuh yang harus dilenyapkan.

Sebagai partai Islam di Indonesia, PKS dikenal mempunyai pandangan Islam yang konservatif. Pandangan tersebut dapat menjadi jembatan bagi penganut Islam garis keras untuk bergabung dalam partainya. Kesamaan ideologi antara PKS dan Islam garis keras membuatnya lebih mudah disusupi orang-orang penganut paham radikal, dan menggunakannya sebagai alat mereka.

Sejarah partai membuktikan, beberapa tahun yang lalu politisi dan mantan anggota DPRD Kabupaten Tangerang, Anugerah, diketahui juga mempunyai hubungan dengan anggota teroris. Dia merupakan kakak dua teroris yang terlibat dalam bom J.W. Marriott dan Ritz-Carlton pada 2009, yaitu Mohamad Syahrir (Aing) dan Ustad Syaifudin Zuhri bin Djaelani Irsyad alias Udin.

Pada 2014, mantan anggota PKS, Sadullah Rozak, juga ditangkap Densus 88 dengan tuduhan terorisme.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


5 × 5 =