Anwar Ibrahim selangkah lagi pimpin Malaysia

Foto: via Mashable

 

Mantan Wakil Perdana Menteri (PM), Anwar Ibrahim, tinggal selangkah lagi untuk mengambil alih kursi PM yang kini diduduki mentor dan bekas sekutunya, sekaligus eks seterunya, Mahathir Mohammad. Kepastian itu diperoleh setelah Anwar memenangi Pemilu Parlemen (Pemilu Sela) di Port Dickson, Malaysia, Sabtu (13/10/2018).

Anwar, 71 tahun, meraih 71 persen suara dan mengalahkan enam kandidat lain. 71 persen itu berarti 31.016 suara, sementara pesaing terdekatnya cuma mengantongi 7.456 suara.

Anwar menang berkat koalisi partai Pakatan Harapan (PH) yang menguasai 70 persen kursi di Malaysia. PH adalah kekuatan politik baru yang langsung memenangi pemilu 2018.

Pemimpinnya pun tak main-main, ya Mahathir yang biasa disapa Tun M. Melalui PH, Tun M — yang membesarkan dua partai besar Malaysia; United Malays National Organization (UMNO) dan Barisan Nasional (BN) — bisa mengambil alih kekuasaan dari Najib Razak melalui pemilu pada 9 Mei 2018.

Tun M pun menjadi PM tertua di dunia yang meraih jabatan melalui pemilu karena usianya sudah 92 tahun. Namun sejak awal, Tun M tak berniat memimpin Malaysia untuk kedua kalinya lebih lama dan justru sedang “menyiapkan jalan” bagi Anwar.

Jalan yang dipersiapkan itu adalah meminta kepada Raja Malaysia agar memberi grasi kepada Anwar setelah bebas dari penjara akibat kasus sodomi pada 8 Juni 2018. Dengan begitu, Anwar yang berada di sel selama tiga tahun bisa kembali ke kancah politik.

Namun, ketika itu, Tun M mengingatkan Anwar harus mengikuti ketentuan yang berlaku dengan meraih kursi di parlemen lebih dulu. Dan Tun M memang serius untuk menyerahkan jabatan dan kursinya kepada Anwar.

“Paling lama saya hanya dua tahun menjabat, setelah itu Anwar akan meneruskan,” ujar Tun M usai memenangi pemilu lalu.

Ini memang suksesi yang dijalankan menurut koridor legal. Anwar mengatakan dirinya akan disumpah menjadi anggota parlemen pada Senin (15/10) dan bersama anggota lain parlemen akan melakukan reformasi.

Dalam sambutan kemenangannya, Anwar pun mengajukan pesan persatuan. “Sekarang kita bisa menyatukan semua ras di Malaysia. Semuanya mayoritas; Melayu, Tionghoa, atau India. Lupakan istilah Orang Asli,,” katanya dilansir kantor berita Bernama (h/t Channel News Asia).

Warga Malaysia memang menaruh simpati dan harapan kepada Anwar. Warga Port Dickson, misalnya, memenangkan Anwar lantaran hanya dia yang dipercaya bisa menghadirkan perubahan serta meningkatkan kualitas hidup.

“Kami merasa terhormat memiliki Anwar di Port Dickson. Selama bertahun-tahun sejak kota ini berdiri, kami tak pernah punya calon PM dari sini,” kata seorang pemilik toko, CK Teo, Minggu (14/10).

Meski demikian, seorang pengusaha lokal Port Dickson secara tersirat tak yakin dengan upaya Anwar untuk memajukan kota tersebut, setidaknya bukan prioritas. Anwar disebutnya akan fokus pada urusan reformasi politik.

“Saya yakin Anwar akan mengembalikan kekuasaan kepada parlemen sehingga ada check and balance kepada eksekutif (pemerintah),” ujar sang pengusaha yang menyembunyikan identitasnya dikutip The Star.

Di sisi lain, sebagian pengamat percaya bahwa setelah Anwar dilantik menjadi anggota parlemen pada saat itu pula dia akan bermanuver menjadi PM. Tentu saja Tun M merestuinya dan bisa jadi suksesi akan berjalan lebih cepat.

“Anwar bertekad memenangi pemilu sela di Port Dickson lantaran dia ingin berada di parlemen masa kerja mendatang saat ada rapat APBN. Dan sebagai anggota parlemen, dia bisa menjadi PM sesegera mungkin,” ujar seorang politisi Parti Pribumi Bersatu Malaysia yang tak disebut namanya.

Beritagar 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


five × five =