APRIL, Yang Disayang Juga Dikecam

Sumber: radarbangka

 

Sebuah berita dari laman foreshint menunjukkan apresiasi tinggi pemerintah terhadap perusahaan Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Diberitakan bahwa empat perusahaan pulpwood utama di bawah kendali Asia Pulp & Paper telah menunjukkan tingkat kepatuhan hukum yang jelas dalam memperbaiki tata kelola gambut setelah berhasil merevisi rencana kerja 10 tahun mereka (2017-2026) di Indonesia.

Keempat perusahaan pulpwood yang bersangkutan adalah PT AA, yang berada di Provinsi Riau, Sumatra, bersama dengan PT BAP, PT BMH, dan PT SBAWI, yang kesemuanya berada di satu ekosistem gambut di Kabupaten OKI, Sumatera Selatan. Keempat perusahaan APP tersebut mencakup total 880 ribu hektare, lebih dari 12 kali ukuran Singapura.

Rencana kerja keempat perusahaan tersebut telah divalidasi oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Putera Parthama, atas nama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, pada 29 September lalu. Menteri LHK bahkan mengaku telah melaporkan perkembangan baik ini langsung kepada Presiden Joko Widodo. Menteri menjelaskan bahwa prosesnya sangat ketat dan melelahkan, tetapi telah menyampaikan satu set pelajaran penting yang sangat penting dalam konsistensi kebijakan teknis dan kepemimpinan.

Yang menarik adalah, Kementerian LHK juga melayangkan surat peringatan terhadap induk usaha RAPP, yakni APRIL. Surat peringatan itu dilayangkan pada tanggal 28 September 2017. Surat peringatan tersebut ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kementerian LHK, Bambang Hendroyono, atas nama menteri, memberikan batas akhir Senin (2/10) kepada PT RAPP, untuk menyerahkan rencana kerja yang telah direvisi. Menurut sumber kementerian, surat peringatan ini adalah surat ketiga kepada perusahaan APRIL karena tidak mengajukan rencana kerja 10 tahun yang telah direvisi dengan substansi yang sesuai dengan peraturan gambut yang baru.

Selanjutnya, kementerian tersebut juga “mengejar” APRIL atas rencana pengembangan gambut baru di lanskap Semenanjung Kampar di Sumatra. Tak main-main, kementerian pun menjatuhkan sanksi dengan mewajibkan untuk membuang semua akasia yang baru ditanam, bahan baku pembuatan kertas dan bubur kertas. Perwakilan kementerian yang datang ke sana secara simbolis melakukan pencabutan terhadap akasia yang baru ditanam.

Akhirnya perusahaan APRIL terpaksa memindahkan akasia yang baru ditanam itu sendiri, dan juga mengisi kanal yang baru dibangun. Sementara itu, perusahaan rupanya membiarkan izinnya ditangguhkan.

Apa yang terjadi tentunya membingungkan publik. Bagaimana mungkin kementerian memberikan lampu hijau, tetapi di sisi lain malah menghantam perusahaan yang tengah berproses mematuhi peraturan dan menguntungkan negara?

Sebagaimana diketahui, RAPP kini tengah mengejar target ekspor yang dibebankan oleh Kementerian Perindustrian yang mencapai Rp 40 triliun. Apalagi, digadang-gadang Menteri Perindustrian kini tengah menyiapkan draf tax holiday atas perusahaan tersebut agar pabrik mereka yang baru di Pelalawan Riau bisa langsung tancap gas mencari dan menembus pasar ekspor.

Dikabarkan, kapasitas terpasang industri kertas dan bubur kertas nasional masing-masing sebesar 7,93 juta ton per tahun dan 12,98 juta ton per tahun, di mana realisasi produksi bubur kertas mencapai 6,4 juta ton per tahun dan produksi kertas mencapai 10,4 juta ton per tahun. Jumlah tersebut menyebabkan Indonesia menduduki peringkat keenam produksi kertas dan peringkat kesembilan produksi bubur kertas dunia.

Penambahan produksi dari RAPP nantinya diharapkan bisa memiliki kapasitas produksi sebesar 250 ribu ton per tahun dengan produksi utama berupa high grade digital paper. Dengan kapasitas produksi RAPP saat ini sebesar 2,8 juta ton bubur kertas dan 820 ribu ton kertas.

Waktu Tepat

Kalangan pengamat menyatakan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk meningkatkan kinerja industri bubur kertas (pulp) dan kertas nasional karena terjadi permintaan kertas di pasar global ketika perekonomian justru masih lesu. Pengamat industri bubur kertas dan kertas, Rusli Tan, mengatakan bahwa ada tren bagus berupa peningkatan ekspor kertas ke pasar global seiring naiknya biaya konversi dari bubur kertas ke kertas yang mencapai US$ 250 per ton.

Apalagi, tambahnya, pengelolaan HTI, termasuk yang berada di lahan gambut sebagai sumber bahan baku industri bubur kertas dan kertas, kini semakin membaik. Terbukti dengan bebasnya areal pengelolaan HTI dari kejadian kebakaran besar pada 2016 hingga saat ini.

Proyeksi menarik pun datang dari IBISWorld. Menurut konsultan strategis tersebut, harga pulp kayu diperkirakan meningkat lebih jauh pada tingkat tahunan sebesar 5,1% dalam dua tahun sampai 2019. Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga saat ini adalah pasokan yang tidak dapat mengikuti kenaikan permintaan untuk produk kemasan berbasis kertas.

Ada beberapa hal yang memengaruhi proyeksi positif tersebut. Pertama, belanja konsumen yang terus meningkat. Satu faktor yang memengaruhi tren ini adalah peningkatan aktivitas ekonomi yang akan mendorong lebih banyak bisnis untuk membuka dan bisnis yang ada untuk meningkatkan perekrutan sehingga tercipta lebih banyak pekerjaan.

Selain itu, tingkat pengangguran diperkirakan akan tetap stabil untuk dua tahun ke depan. Dengan tingkat pengangguran yang stabil dan kepercayaan yang lebih tinggi terhadap belanja konsumen ekonomi, akan mendorong pertumbuhan permintaan berbagai barangdiscretionary dan non-discretionary, yang sering dikirim menggunakan kemasan berbasis kertas sehingga terjadi peningkatan permintaan.

Tak ketinggalan, meningkatnya jumlah koneksi internet broadband dan koneksi internet mobile diperkirakan akan meningkat dan selanjutnya mendorong penjualan e-commerce. Kemampuan internet yang lebih kuat dan kemudahan untuk melakukan pembelian dari hampir mana pun dengan penggunaan smartphone dan tablet yang semakin dikenal akan meningkatkan kecepatan dan meyakinkan pembelian e-commerce,mendorong permintaan berbagai produk kemasan yang digunakan untuk memberikan pembelian online.

Selain itu, ada akselerasi positif dari indeks produksi industri, yang mengukur output dari industri pertambangan, manufaktur, listrik, dan gas yang diperkirakan akan meningkat hingga 2019. Kegiatan industri yang terus meningkat diperkirakan akan mendorong permintaan produk kemasan berbasis kertas karena penggunaan secara luas untuk mengangkut berbagai barang yang diperlukan bagi keperluan produksi dan distribusi. Selain itu, jumlah usaha diperkirakan akan tumbuh, yang akan mendorong permintaan sebagai bisnis pembelian dan distribusi barang dalam kemasan produk kertas.

Jadi, apa yang telah dilakukan kementerian pun menimbulkan tanda tanya besar. Ada apa gerangan? Sebab September dan Oktober 2017 ini adalah momen tepat untuk melakukan ekspor, apalagi dengan stok melimpah.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


6 + five =