AS dan Turki Bersitegang, Masing-Masing Kurangi Penerbitan Visa

Source: Internet

 

Amerika Serikat (AS) dan Turki, Minggu (8/10/2017), mengurangi penerbitan visa di masing-masing pihak, yang menandakan ketegangan diplomatik, menyusul penangkapan seorang staf lokal Turki pada kantor Konsulat AS di Istanbul.

Keduataan Besar AS di Ankara mengatakan, “kejadian baru-baru ini” memaksa pemerintah AS menilai kembali “komitmen” Ankara terhadap keamanan layanan dan personil misi AS di Turki.

Di samping penyebutkan “kejadian baru-baru ini”, Kedubes AS di Ankara tidak menyebutkan secara eksplisit penangkapan staf Konsulat AS di Istanbul oleh otoritas Turki, sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, Senin (9/10/2017.

Untuk mengurangi jumlah pengunjung pada saat penilaian dilakukan, “kami segera menangguhkan semua layanan visa non-imigran di semua fasilitas diplomatik AS di Turki,” katanya.

Visa non-imigran diterbitkan untuk semua perjalanan wisata, perawatan medis, bisnis, pekerja sementara, atau kepentingan belajar di AS.

Layanan visa imigran hanya untuk mereka yang ingin tinggal di AS secara permanen.

Duta Besar AS untuk Turki, John Bass, sebelumnya mengecam penahanan terhadap seorang pegawai konsulat AS di Istanbul.

Menurut Bass, tindakan aparat di Istanbul itu dilandasi oleh pembalasan dan bukan penegakan hukum oleh oknum di dalam pemerintahan Turki.

Bass membuat pernyataannya sehubungan kasus Metin Topuz, staf konsulat AS di Istanbul yang ditahan pada Rabu (4/10/2017) dengan tuduhan terorisme.

“Ada perbedaan besar antara upaya penegakan hukum dan pembalasan dari segi hukum dan norma demokratik yang dianut oleh negara ini dan negara saya, baik lewat Piagam Helsinki maupun konstitusi mereka sendiri,” kata Bass dalam pertemuan dengan reporter Turki.

Tanggapan Turki

Turki juga menanggapi langkah AS tersebut dengan menangguhkan “semua layanan visa” untuk orang Amerika di AS.

Dikatakan, langkah itu berlaku untuk visa yang dikeluarkan secara daring dan di perbatasan.

Dalam usaha untuk menyindir pengumuman AS, Kedutan Besar Turki di Washington DC juga mengeluarkan dua pernyataan yang menyalin kata-kata Kedubes AS di Ankara.

Pernyataan itu menyiratkan kekhawatiran atas komitmen AS terhadap keamanan fasilitas diplomatik Turki dan personilnya. Itulah faktor mengharuskan pembatasan tersebut.

Pernyataan pertama dari Kedubes Turki di Washington DC mengatakan, pembatasan itu berlaku untuk “visa paspor” dan kedua, mengganti kata itu dengan “visa stiker”.

Tidak jelas apakah itu berarti visa yang sudah dicap di paspor tidak akan diterima.

Namun, staf lokal Turki di Konsulat AS di Ankara itu telah ditahan oleh pengadilan Istanbul pada Rabu pekan lalu.

Juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin, membela penangkapan oleh aparat Turki atas staf lokal Turki di konsulat AS di Istanbul.

Ia mengatakan, ada bukti kuat soal keterlibatan Topuz, yakni dia menelpon Fetullah Gulen, ulama Turki, yang dituding berada di balik kudeta gagal tahun lalu pada malam menjelang kudeta, Juli 2016.

Staf konsulat itu didakwa terlibat jaringan Gulen. Namun, Gulen yang mengasingkan diri di Pennsylvania, AS dan menyangkal semua tudingan Ankara.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


19 + eleven =