Bau Kematian dalam Kasus KTP Elektronik

Umber: tempo.com

 

Berita duka datang menghampiri keluarga Johannes Marliem, Direktur Biomorf Lone LLC, perusahaan supplier produk automated finger print identification system (AFIS), di Amerika Serikat. Dikabarkan, pada Kamis tanggal 10 Agustus 2017 waktu setempat, Johannes meninggal bunuh diri dengan cara menembakkan peluru yang menghancurkan sebagian wajahnya.

Semuanya menjadi penuh kontroversi dan sengkarut karena pria muda pengusaha sukses ini adalah saksi kunci kasus megakorupsi senilai Rp 2,3 triliun untuk instalasi sistem kartu tanda penduduk (KTP) elektronik di Tanah Air. Korban lain yang diduga terkait kasus ini adalah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.
Kepada salah satu media nasional yang mewawancarainya, Johannes mengaku telah merekam seluruh pembicaraan dengan orang-orang yang terlibat dalam proyek KTP-el. Tak tanggung-tanggung, Johannes mengantongi bukti rekaman sebesar 500 GB. Rekaman itu dikumpulkan almarhum Johannes selama empat tahun lamanya.

Mendengar kabar ini, publik pun langsung melemparkan berbagai macam tuduhan. Apalagi bila bukan terkait kemungkinan Johannes dibunuh, bukan bunuh diri. Siapa lagi bila bukan oleh para pelaku yang kini terjerat sebagai tersangka, terutama karena terdapat nama besar Ketua DPR, Setya Novanto, di dalamnya.
Isu pun semakin kuat bergulir. Menghubung-hubungkan antara salah satu tersangka KTP-el, dengan lingkaran elite Gedung Putih. Apalagi publik pernah disuguhi foto keakraban antara Presiden terpilih AS, Donald Trump, dengan Setnov, panggilan Setya Novanto.

Inilah mengapa telunjuk publik secara otomatis langsung menuding ke arah Setnov sebagai tersangka dengan tingkatan paling tinggi dalam kasus ini. Sebagian publik yang marah itu menuding Setnov berada dalam kasus kematian Johannes, terutama karena hingga saat ini, walaupun sudah dalam status tersangka, dirinya belum juga ditahan di rutan tahanan kasus korupsi di KPK.

Masalahnya, sebagian kalangan menilai, jika itu yang terjadi, amat sangat mudah sekali untuk menerkanya. Akankah para terdakwa begitu ceroboh memerintahkan pembunuhan bagi seorang saksi kunci? Apalagi dilakukan di negeri orang. Negeri dengan tingkat keamanan tinggi, dan punya kapasitas untuk melacak siapa pun dan ke mana pun seorang pelaku kejahatan pergi atau melarikan diri.

Lagipula, dengan status sebagai pemegang barang bukti paling kuat dalam kasus tersebut, sebagai saksi istimewa, kenapa Johannes harus berada di negeri orang untuk mencari keamanan? Siapa yang memberikan jaminan keamanan bagi Johannes selama di AS dengan memegang data yang sangat krusial itu? Tak mungkin Johannes akan memilih suatu negara, tanpa terlebih dahulu mendapatkan jaminan keamanan dan keselamatan bagi dirinya ataupun mungkin bagi keluarga yang dibawanya.

Sebagai saksi kunci seharusnya Johannes sudah berada dalam perlindungan ketat oleh negara. Jika sampai lalai, negara harus bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatannya. Pejabat yang berwenang pun bisa dipaksa mundur, bahkan dipidanakan.

Pertanyaan kritis publik seperti itulah yang kemudian memantik kecurigaan lain dari sebagian publik Indonesia. Adakah pihak lain, atau bahkan negara lain, yang bermain dan mengambil keuntungan dari kekisruhan ini? Walaupun dalam status tersangka, Setnov adalah pejabat tinggi negara yang mengetahui dan punya kewenangan untuk mengambil keputusan penting bagi maslahat dan keamanan negara. Tersudutnya posisi Setnov akan mengakibatkan lubang besar dalam negosiasi tingkat tinggi dengan negara-negara lain. Terutama terkait perputaran uang investasi, perdagangan maupun utang luar negeri, yang sebagaimana diketahui, dengan kondisi perekonomian sekarang ini, masih mengalir deras ke pundi-pundi bendahara negara.

Posisi timpang negara dengan status tersangka ketua legislatif dengan kasus yang kian membara jelas bisa membuka celah sebesar-besarnya bagi pihak-pihak yang melakukan negosiasi penting dengan pemerintah Indonesia. Celah yang tentu sangat bisa dimanfaatkan bagi terciptanya kerugian besar bagi negeri ini, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga di masa yang akan datang.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


one × 4 =