Belajar Politik dari Tuan Guru Bajang

Foto: Antara//Ahmad Subaidi

 

Nama Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), pasti tidak asing lagi. TGB digadang-gadang menjadi kandidat calon presiden oleh kelompok Persatuan Alumni (PA) 212.  PA 212 adalah salah satu kelompok yang masif berkampanye #2019gantipresiden. Selain TGB, ada beberapa nama lain yang juga diajukan menjadi kandidat calon presiden, antara lain Prabowo Subianto dan Habib Rizieq Shihab.

Namun, pernyataan mengejutkan datang dari TGB beberapa waktu lalu. Selama ini Sang Gubernur memang jarang mengungkapkan pandangan politiknya. Kendati dia berasal dari Partai Demokrat, tetapi beberapa waktu lalu secara terbuka TGB menyatakan dukungan untuk Joko Widodokembali menjadi presiden di periode berikutnya. Singkatnya, TGB mendukung Jokowi untuk menjabat dua periode.

Pernyataan TGB ini tentu menuai berbagai pendapat di masyarakat. Apalagi TGB juga diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang memberikan dukungan kepada Prabowo.

Alasan Dukung Jokowi

TGB punya alasan kuat mendukung Presiden Jokowi kembali maju pada pilpres 2019. TGB bilang, program Jokowi sebagai presiden tidak akan selesai hanya dalam satu periode pemerintahan. Itu sebabnya dia ingin memberikan dukungan kepada Jokowi untuk menyelesaikan program-programnya. Tidak cukup lima tahun untuk mengeksekusi keutuhan visi dan misi program. Diperlukan waktu yang relatif cukup. ”Dua periode,” kata TGB.

Dukungan tersebut juga berdasarkan pengalaman TGB memimpin NTB selama dua periode. Bagi dia, dua periode itu fair bagi seorang pemimpin. “Ini common sense dan pengalaman empiris saya,” kata TGB.

Kabar ini tentu cukup mengejutkan. Pasalnya, pada perhelatan pilpres 2014, TGB memberikan dukungan kepada Prabowo dan Hatta Rajasa. TGB menambahkan, perubahan arah dukungan itu tak serta merta terjadi begitu saja. Dia melihat dari berbagai kesempatan menyumbangkan pemikirannya dan moderasi Islam.

Dukungan TGB ke Jokowi tentu bukan hal keliru. Hal ini lumrah terjadi  di dunia politik. Hari ini mendukung A, esok hari bisa dukungan politik bisa berubah dan putar balik. Sepanjang 2014-2019 ini bukan hanya TGB yang putar haluan. Ambil contoh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Pada pilpres 2014 Anies menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Dia memang dipercaya menjadi tim sukses dan salah satu jubir Jokowi sepanjang pilpres. Anies bahkan beberapa kali juga mengkritik Prabowo, lawan politik Jokowi.

Faktanya, Anies sudah berubah. Setelah “dipecat’” Jokowi sebagai menteri, berpasangan dengan Sandiaga Uno, Anies kemudian maju sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan mendapat dukungan penuh dari Partai Gerindra.

Berbaliknya dukungan bukan hal baru, sesuatu yang lazim di dunia politik di belahan dunia mana pun. Bukan hanya Anies ataupun TGB yang pernah berbalik dukungan atau pindah parpol. Jika ditelusuri, banyak politisi yang berbalik dukungan atau pindah ke partai lain, contoh Oesman Sapta Odang yang pindah dari Golkar ke Hanura, ataupun yang terbaru, Titiek Soeharto yang pindah ke Partai Berkarya.

Menariknya di sini adalah, TGB yang berasal dari partai yang menjadi pesaing Jokowi justru memberikan dukungannya. PA 212 yang sempat membuat daftar capres pun dikabarkan sempat mencoret TGB dari daftar versi mereka. Namun, hal tersebut tidak akan berpengaruh apa-apa sebab PA 212 bukanlah partai politik dan diklaim tidak terafiliasi dengan parpol manapun.

Pendukung Harus Legowo

Entah apa reaksi pendukung TGB setelah dia menyatakan dukungan terhadap Jokowi. Sebab, sebagian besar pendukung TGB adalah “lawan politik” Jokowi. Meski pasti tidak suka, sudah seharusnya mereka legowo dan menerima keputusan TGB, bukan lantas kemudian menyerang dan menghujat TGB karena menanggapnya mbalelo.

Ada pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa ini. Bukan hanya bagi pendukung TGB, tetapi semua orang yang punya perhatian khusus di dunia politik. Dukungan politik bukanlah berdasarkan fisik, suka tidak suka, agama, etnis, dan juga ras, tetapi justru atas kinerja selama ini. Jika dia baik, katakan baik, dan jika buruk katakan buruk. Jika buruk dan perlu kritik, silakan saja melontarkan kritik, asal kritik yang kondusif.

Kepada media, TGB mengaku sangat risih dengan ungkapan politik antara “kecebong” dan “kampret” yang selama ini banyak beredar di media sosial. Menurut dia, ungkapan tersebut harus segera dihilangkan dari ruang publik.

TGB juga meminta sejumlah tokoh untuk berhenti berkontestasi politik dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran. ”Kita ini tidak sedang berperang,” kata dia. Menurutnya, permasalahan bangsa Indonesia ini akan selesai jika dirampungkan bersama-sama. “Beda gagasan semangatnya untuk saling mengisi,” imbuhnya.

Ucapan TGB yang bisa jadi pelajaran, dirinya tidak berani mengatakan benar dalam dunia politik, sedangkan lawan politiknya keliru seperti halnya kafir Quraisy. Pesan tersiratnya adalah, di dunia politik tidak ada yang paling benar dan kita juga tidak bisa memaksakan pemahaman kepada orang lain. Mulailah saling menghormati dan menghargai pilihan masing-masing. Semoga semua pihak bisa lebih dewasa berpolitik, terutama menjelang perhelatan pilpres 2019.

Fadila

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


20 − 1 =