Belanja Iklan 2016 Kembali Bergairah

Source: Internet

 

Belanja iklan di televisi dan media cetak kembali bergairah setelah dua tahun hanya tumbuh satu digit.

Menurut data Nielsen Advertising Information Services pada 2014 dan 2015 pertumbuhan belanja iklan hanya 8 persen dan 7 persen. Padahal, 2012 dibanding 2013 nilainya melonjak hingga 21 persen menjadi Rp101,9 triliun.

“Tahun 2016 menunjukkan mulai kembali bergairah dengan pertumbuhan tren belanja iklan sebesar 14 persen,” ujar Executive Director, Head of Media Business Nielsen Indonesia Hellen Katherina seperti dinukil dari Katadata.co.id.

Belanja iklan sepanjang 2016 lalu mencapai Rp134,8 triliun. Angka ini tumbuh 14 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp118 triliun.

Riset Informasi belanja iklan diambil dari data Advertising Information Services yang memantau aktivitas periklanan Indonesia.

Pemantauan mencakup 15 stasiun TV nasional, 99 surat kabar, dan 123 majalah dan tabloid. Riset berdasar pada harga iklan, tanpa menghitung diskon, bonus, promo, dan lain-lain.

Hellen menjelaskan, belanja iklan terbesar disumbang oleh pemerintah dan organisasi politik. Sepanjang 2016, dua kategori itu menggelontorkan duit Rp8,1 triliun buat beriklan. Dalam 10 tahun, dua kategori ini merupakan pembelanja iklan terbanyak.

Kategori rokok kretek menyusul di peringkat kedua dengan total belanja Rp6,3 triliun. Sedangkan kategori produk perawatan rambut menempati posisi ketiga dengan nilai iklan sebesar Rp5,7 triliun.

Hellen memaparkan, sebanyak 77 persen atau Rp103,8 triliun belanja iklan tahun lalu merupakan belanja untuk media televisi.

Sedangkan iklan buat media cetak seperti koran dan majalah menurun. Belanja iklan di koran sebesar Rp29,4 triliun atau 22 persen. Belanja iklan di majalah hanya menyumbang 1 persen atau Rp1,6 triliun.

“Belanja iklan di koran dan majalah turun karena adanya penurunan jumlah media yang beroperasi. Kita tahu kan banyak media cetak yang tidak lagi terbit pada 2016,” ujar Hellen seperti dikutip dari Kompas.com.

Tren penurunan belanja iklan di media cetak juga turut dipengaruhi berkurangnya jumlah koran dan majalah beredar. Jika pada 2012 ada 102 koran yang diteliti oleh Nielsen, tahun lalu hanya ada 98. Majalah juga berkurang dari 162 menjadi 120.

Jenama yang paling banyak menggeluarkan duit untuk iklan adalah rokok Dunhill. Produsen rokok ini membelanjakan Rp956 miliar atau hampir enam kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Jenama Indomie, walau belanja iklannya turun 19 persen dibanding tahun lalu, tapi tetap besar dan menempati peringkat dua dengan belanja Rp787 miliar. Layanan pemesanan tiket dan hotel Traveloka menempati posisi ketiga dengan belanja iklan Rp688 miliar.

Kalau anda kerap melihat mars Perindo di layar kaca, jangan heran, partai politik besutan pengusaha Hary Tanoesoedibjo ini telah menggelontorkan dana Rp643,7 miliar sepanjang tahun lalu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


14 − 13 =