Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari angkat bicara menanggapi insiden yang mengakibatkan empat nyawa prajurit TNI Angkatan Darat (AD) tewas saat menggelar latihan perang di Natuna, Kepulauan Riau.

Menurut Abdul, insiden kecelakaan dari meriam Giant Bow buatan Tiongkok ini, diharapkan TNI lebih meningkatkan pemeliharaan dan perawatan terhadap alutsista yang dimiliki. “Karena ‎perawatan alutsista selama ini memang sering terabaikan,” ujar Abdul saat dihubungi, Rabu (17/5).

Dalam insiden kecelakaan tersebut TNI perlu mengusut faktor penyebabnya. Apakah karena memang kondisi meriam yang‎ sudah tidak layak. “Atau kondisi pemeliharaan dan perawatan tidak layak,” katanya.

Wilayah Natuna memang diketahui menjadi prioritas strategis dalam pertahanan Indonesia. Oleh sebab itu, ungkap politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), tentu semua alutsista yang dimiliki TNI harus dalam kondisi prima dan siaga tempur saat konflik di Laut Cina Selatan.

‎Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen Alfret Denny Tuejeh‎ membenarkan adanya kejadian tersebut. Kecelakaan itu terjadi sekira pukul 11.00 waktu setempat pada saat latihan menembak gladi bersih yang dilakukan oleh Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI AD.

Denny membantah kecelakaan latihan tersebut karena drone. Tapi‎ karena senjata seperti meriam. Di mana kejadiannya senjata seperti meriam itu tidak dapat dikendalikan sehingga tiba-tiba menembak prajurit TNI yang sedang latihan.

Jumlah korban, lanjut Denny, total ada 12 orang, di mana empat orang dinyatakan tewas dan delapan mengalami luka-luka. ‎Adapun empat prajurit TNI AD yang meninggal dunia, adalah Pratu Marwan, Praka Edy, Pratu Ibnu Hidayat, dan Danrai Kapten Arh Heru.

TINGGALKAN KOMENTAR

seventeen − 14 =