JPMorgan: Krisis Finansial Global Bakal Melanda pada 2020

Foto: Michael Brochstein—SOPA Images/LightRocket

 

Seberapa buruk krisis finansial global berikutnya akan terjadi setelah kejatuhan Lehman Brothers 10 tahun lalu? JPMorgan Chase & Co. punya pendapatnya.

Satu dekade setelah bangkrutnya Lehman Brothers memicu kejatuhan di pasar finansial serta mendorong sejumlah langkah darurat, para pakar strategi JPMorgan telah menciptakan sebuah model yang ditujukan untuk mengukur waktu dan tingkat keparahan krisis finansial berikutnya.

Menurut mereka, investor harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi tersebut yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2020.

Kabar baiknya adalah, krisis berikutnya mungkin akan menghasilkan pukulan yang kurang menyakitkan dibandingkan dengan episode-episode sebelumnya, menurut analisis mereka. Berita buruknya? Likuiditas pasar finansial yang menurun sejak dentuman pada 2008 adalah “wildcard” yang sulit untuk diperhitungkan.

Model yang diciptakan JPMorgan menghitung hasil berdasarkan panjang ekspansi ekonomi, durasi potensial dari resesi berikutnya, tingkat leverage, valuasi harga aset, serta tingkat deregulasi dan inovasi finansial sebelum krisis.

Dengan asumsi resesi panjang rata-rata, model tersebut muncul dengan perkiraan kinerja tersebut di bawah ini untuk berbagai kelas aset dalam krisis berikutnya.

– Penurunan bursa saham AS sekitar 20%.

– Lonjakan dalam premium imbal hasil obligasi korporasi AS sekitar 1,15 poin persentase.

– Merosotnya harga energi sebesar 35% dan logam dasar sebesar 29%.

– Pelebaran sebesar 2,79 poin persentase dalam selisih utang pemerintah pasar negara berkembang.

– Penurunan sebesar 48% dalam bursa saham emerging market dan 14,4% dalam mata uang emerging market.

“Di seluruh aset, proyeksi ini terlihat relatif tidak berbahaya dibandingkan dengan apa yang disebabkan GFC (Global Financial Crisis) lampau dan mungkin tidak mengkhawatirkan dibandingkan dengan rata-rata resesi/krisis di masa lalu,” tulis pakar strategi JPMorgan, John Normand dan Federico Manicardi, dalam risetnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Rekan mereka, Marko Kolanovic, sebelumnya telah menyimpulkan bahwa pergeseran besar dari investasi yang dikelola secara aktif – melalui peningkatan index fund, exchange-traded fund, dan strategi perdagangan berbasis kuantitatif – telah meningkatkan bahaya gangguan pasar.

Dia dan beberapa rekan lain, dalam riset terpisah, menuliskan potensi “Great Liquidity Crisis” di masa mendatang.

“Pergeseran dari manajemen aset aktif menjadi pasif, dan khususnya penurunan investor aktif, mengurangi kemampuan pasar untuk mencegah dan pulih dari penurunan besar,” tulis Joyce Chang dan Jan Loeys dalam riset mereka.

Perubahan ini telah “menghilangkan kumpulan besar aset yang akan siap untuk membeli sekuritas publik murah serta menghalangi gangguan pasar,” lanjut mereka.

Aspek positif terlihat dalam pergolakan di pasar negara berkembang baru-baru ini. Aset-aset negara-negara berkembang telah menjadi lebih murah tahun ini, sehingga membantu membatasi penurunan selama krisis berikutnya sekaligus mengimbangi penumpukan utang, tulis Normand dan Manicardi.

Selain masalah likuiditas, Normand dan Manicardi menyoroti durasi penurunan berikutnya sebagai ketidakpastian yang penting dalam mengukur seberapa buruk kondisi nanti akan terjadi. Semakin lama resesi berlangsung biasanya semakin besar pukulan terhadap pasar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


twenty + one =