Ketika Indonesia Tidak Melupakan Pakistan

Sumber: daily Sabah

 

Indonesia dan Pakistan adalah dua negara Muslim yang punya sejarah pertemanan yang panjang lagi unik. Mantan Presiden Pakistan, Zia Ul Haq, adalah salah satu komandan pasukan Gurkha dalam palagan hebat Surabaya, 10 November. Indonesia juga memilih berada di belakang Pakistan ketika negara itu berkonflik dengan India pada tahun 50-an. Indonesia bahkan sempat mengirimkan pasukan Angkatan Laut beserta perlengkapan perang seperti kapal perang dan kapal selam.

Sekarang publik Indonesia seolah digiring untuk ber-dejavu. Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla memutuskan untuk meningkatkan perdagangan sumber daya alam dengan negeri itu, terutama batu bara. Sebagaimana diketahui, pada 2014, akibat hantaman krisis ekonomi dan jeratan utang luar negeri, Pakistan terancam gelap gulita karena kekurangan pasokan listrik. Kondisi yang berpotensi terulang pada tahun ini.

Setelah Turki, Brasil, Afrika Selatan, dan Argentina, saat ini Pakistan juga sedang di ujung tanduk krisis moneter. Perdana Menteri (PM) Pakistan yang belum lama dilantik, Imran Khan, menghadapi pembayaran utang yang cukup besar, bahkan sudah menggerus setengah cadangan devisa dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, pada 2017 pertumbuhan ekonomi negeri kriket itu lebih tinggi dari Indonesia.

Pakistan butuh bantuan sekitar US$ 12 miliar untuk menghindari gagal bayar utang. Salah satu pilihan adalah meminta bantuan International Monetary Fund (IMF) agar bisa membereskan utang-utangnya, salah satu yang terbesar kepada Cina.

Mengenai ekspor batu bara itu, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengatakan bahwa Indonesia dan Pakistan telah sepakat untuk meningkatkan hubungan perdagangan, apalagi setelah adanya Perjanjian Perdagangan Preferensial (PTA) kedua negara sehingga memudahkan saling tingkatkan bisnis. “Pada dasarnya Indonesia terbuka melakukan perdagangan dengan Pakistan dan menyambut baik keinginan itu,” kata Enggartiasto di Shanghai, seperti dikutip Antara, Selasa (6/11/2018).

Dia menjelaskan, Pakistan selama ini cukup banyak mengimpor crude palm oil (CPO) dari Indonesia. Pakistan akan membangun pembangkit listrik yang membutuhkan batu bara dari Indonesia, dan mereka meminta agar Indonesia mau impor lebih banyak, mengingat selama ini selalu defisit. Menurutnya, ada tujuh perjanjian PTA kedua negara yang sampai saat ini belum diratifikasi DPR sehingga agak menghambat perkembangan perdagangan.

Pasar Baru

Yang menarik adalah Pakistan seolah menjadi destinasi baru pasar batu bara setelah pasar India dan Cina mulai stagnan. Ekspor batu bara ini bahkan berpotensi kian membesar karena Pakistan berada dalam keadaan yang sangat membutuhkan, dan bersedia untuk menyerap batu bara termal dengan tingkat kalori yang bervariasi. Terbukanya pasar batu bara baru ini dikonfirmasi oleh salah satu pemain besar, PT ABM Investama Tbk (ABMM).

Direktur Keuangan ABMM, Adrian Erlangga, mengatakan bahwa Pakistan menjadi target karena negara itu tengah membangun cukup banyak pembangkit listrik. Pakistan butuh pasokan bahan baku energi yang murah, yakni batu bara.

Adrian menjelaskan, realisasi ekspor ke Pakistan akan dilakukan pada pertengahan tahun depan. Batu bara yang diinginkan Pakistan berkalori rendah, di level 2.000-an Kcal. Karena itu, ekspor ke Pakistan akan berasal dari tambang batu bara milik “cucu” usaha ABMM di Aceh, yaitu PT Mifa Bersaudara.

Tak hanya dari Indonesia, Pakistan juga impor batu bara dari Afrika Selatan dengan kadar kalori yang lebih tinggi. Nantinya kedua batu bara berbeda kalori itu dicampur untuk kemudian menjadi sumber listrik di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di negeri itu.

Tahun lalu Pakistan mengumumkan keinginan mengimpor batu bara dari Indonesia sebanyak 4,2 juta ton per tahun menyusul rencana Jamshoro Power Company Limited (JPCL) yang akan membangun dua pusat pembangkit listrik. Dua pembangkit yang masing-masing berkapasitas 660 MW tersebut akan menggunakan bahan baku batu bara berkalori rendah 5.300 sampai dengan 5.700 Kcal per kg.

Muhammad Hassan Chang, CEO JPCL, mengatakan bahwa pada pembangkit listrik tersebut telah dilakukan studi kelayakan dan akan dibiayai menggunakan pinjaman dari Asian Development Bank dan Islamic Development Bank.

India Kurangi Impor

Yang menarik, di tengah gempita optimisme pasar batu bara ke Pakistan, baru-baru ini media di India memuat kabar bahwa pemerintah India berniat mengurangi impor batu bara kelas tinggi yang sebagian besar diimpor dari Indonesia. Media India bahkan gencar mempromosikan teknologi pencampuran batu bara oleh Paradip Port Trust, yang diklaim akan mampu mengurangi impor.

Di India, batu bara kelas tinggi dengan kalori tinggi disediakan oleh perusahaan ECL, CCL & SECL, sedangkan pasokan batu bara kadar rendah dari perusahaan MCL. Dalam proses blending yang dilakukan di Mechanized Coal Handling Plant (MCHP) PPT, dua kelas batu bara yang berbeda dari berbagai jenis kalori secara homogen dicampur dengan proses mekanisasi. Proses ini diklaim sebagai salah satu sistem penanganan material curah terbesar di Asia.

Apakah hubungan Pakistan, India dan Indonesia di masa lalu akan kembali terulang dengan kancah yang berbeda? Hanya waktu yang bisa membuktikan.

Gustav Perdana

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


nineteen − 18 =