Ketika Klaim Kemenangan Datang dari Survei

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo (kanan) bersama dengan Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana (Kasal) TNI Ade Supandi (kiri) dalam acara peringatan hari Nusantara 2017 yang digelar di Dermaga Muara Jati, Cirebon, Jawa Barat, Rabu (13/12/2017).(KOMPAS.com/ MOH NADLIR)

 

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, memprediksi bahwa hasil pemilihan daerah tak jauh dari hasil survei. Alasannya sederhana, setiap survei bisa dipertanggungjawabkan. “Sudah tinggal seminggu. Saya kira hasilnya nggak jauh-jauh dari hasil survei karena survei kan bisa dipertanggungjawabkan,” ungkap Tjahjo.

Dirinya juga tidak menampik bahwa dalam pilkada kali ini suasana dan kondisi akan lebih menegangkan karena aroma pileg dan pilpres jauh lebih kental dari apa yang pernah terjadi di putaran pilgub DKI Jakarta. “Saya yakin ini aman, memang aromanya 171 daerah pileg, pilpres, tetapi saya kira ini bagian dari dinamika. Saya yakin aman.”

Walau terkesan bercanda, sontak pernyataan Mendagri mengundang tanya publik. Bukan apa-apa, publik penasaran dengan optimisme Mendagri yang begitu tinggi. Sebab jika ditelaah lebih jauh, partainya, yakni PDIP, tidak mendominasi secara mutlak hasil survei pilkada.

Tengok survei atas pertarungan empat pasangan kandidat pilgub Jawa Barat Juni 2018 yang diwarnai persaingan yang sangat ketat. Dari empat pasangan, mengerucut menjadi persaingan antara Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) dengan capaian 38,0% dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM) 36,6%. Dua pasangan lainnya, Tb Hasanudin-Anton Charliyan (Hasanah) menjadi 7,7%, sedangkan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) juga naik sedikit menjadi 8,2%.

Survei dilakukan Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) pada 7-14 Juni 2018 dengan menggunakan metode standar, seluruh pemilih di Jawa Barat dipilih secara random dan wawancara tatap muka. Jumlah responden 440, dengan margin of error sebesar 4,8%.

Sebagaimana diketahui publik, PDIP mendukung penuh Hasanudin dan Anton. Nah, jika mengacu pada pernyataan Mendagri sebelumnya, survei di atas seolah berusaha menjelaskan bahwa PDIP telah menyiratkan untuk mengangkat handuk putih dalam pilkada di tanah Pasundan.

Apakah hipotesis seperti itu bisa ditarik berdasarkan survei yang dilakukan pada 440 responden saja? Sesuaikah prediksi Mendagri? Bukankah kekuatan politik dan preferensi suara di Jawa Barat kini lebih merata?

Yang tak boleh dilupakan, hasil survei LSI juga pernah dengan jitu menebak kekalahan pasangan Ahok-Djarot dari pesaingnya, Anies-Sandi, dalam pilgub DKI Jakarta. Hasil dua lembaga survei Median dan LSI Denny JA menunjukkan bahwa Ahok-Djarot akan keteteran. Namun, politisi Golkar Nusron Wahid menanggapi santai hasil survei tersebut.

Ketika itu, sebagaimana diketahui, Anies-Sandi unggul dalam hasil survei yang dilakukan oleh LSI Denny JA. Elektabilitas mereka 49,7%, Ahok-Djarot 40,5%. Sementara itu, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Median, elektabilitas Ahok-Djarot 39,7%, Anies-Sandi unggul dengan perolehan 46,3%.

Pilkada Daerah Lain

Pilgub Sumatera Utara tidak kalah menarik. Berdasarkan survei yang digelar Indo Barometer, menjelang hari pemilihan, ada tren positif paslon Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) dan Eddy Rahmayadi-Musa Rajeksah (Eramas). Keduanya sama-sama mendapat kenaikan suara 11%.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari, menyebutkan bahwa saat ini paslon Djoss dan Eramas mengalami tren kenaikan elektabilitas sebesar 11% dari survei sebelumnya, Februari 2018. Djoss yang elektabilitas sebelumnya 26% bergerak ke angka 37,8%. Serupa dengan pesaingnya, Eramas yang diusung oleh Partai Golkar, Gerindra, Nasdem, PKS, dan PAN mengalami kenaikan dari 25,8% menjadi 36,9%. Tentunya hasil ini menunjukkan ada persaingan ketat di Sumut.

Apakah hasil ini menunjukkan bahwa pemenang pilkada Sumut adalah pasangan Djarot-Sihar? Tak ada yang berani memastikan. Namun, dengan kecilnya kans dari pasangan Hasanudin dan Anton yang diusung PDIP di pilkada Jabar, Sumut akan menjadi daerah dengan kewajiban menang tinggi bagi Partai Banteng.

Hasil yang serupa juga terjadi pada survei pilkada Jawa Tengah. Pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen unggul, baik dalam tingkat elektabilitas maupun popularitas dalam tiga survei pilgub Jateng 2018. Hasil survei yang dilakukan lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), tingkat elektabilitas Ganjar-Taj Yasin 70,1% mengungguli pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah, 22,6%. Sisanya sebesar 7,3% menjawab tidak tahu.

Pasangan Ganjar-Taj Yasin juga unggul dalam survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Tingkat elektabilitas pasangan Ganjar-Taj Yasin sekitar 54%, sedangkan Sudirman-Ida 13%. Banyak kalangan menilai pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin diperkirakan akan menang telak atas pasangan Sudirman-Ida.

Berdasarkan survei Indo Barometer, pasangan Ganjar-Taj Yasin diperkirakan bakal meraup suara hingga 67,3%, Sudirman-Ida 21,1%. Survei digelar pada 7-13 Juni, terhadap 800 responden yang tersebar di 35 kabupaten/kota Jawa Tengah.

Seperti Ganjar, Taj Yasin juga unggul atas Ida Fauziyah dalam elektabilitas calon wakil gubernur. Taj Yasin memperoleh suara 56,4%, Ida 22,4 %. Responden yang tidak akan memilih/rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab sebesar 21,3%.

Hasil survei Indo Barometer ini tak berbeda jauh dengan survei sebelumnya. Dalam survei Charta Politika, pasangan Ganjar-Taj Yasin mendapat suara 70,5% suara dan Sudirman-Ida 13,6%. Sementara dalam survei Indikator, pasangan Ganjar-Taj Yasin mendapat suara 72,4%, Sudirman-Ida 21%

Sebaliknya, hasil survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) yang dilakukan pada 5-20 Juni lalu, menyebut pasangan Sudirman-Ida unggul tipis. Menurut Direktur Eksekutif LKPI Region Jateng, Onesimus Hihika, penyebabnya adalah kasus dugaan korupsi KTP-el yang menyeret nama Ganjar yang menggerus elektabilitasnya dalam dua bulan terakhir ini.

“Pemanggilan Ganjar Pranowo oleh KPK semakin menguatkan dugaan di masyarakat akan keterlibatannya dalam kasus e-KTP,” kata Onesimus Hihika.

Bagaimana untuk daerah di timur Pulau Jawa? Keyakinan Mendagri Tjahjo berbanding terbalik dengan hasil survei. Sebagaimana diketahui, berdasarkan survei pilgub Jatim 2018, SMRC kembali menempatkan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak sebagai pemenang. PDIP mengusung pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno.

Survei SMRC menunjukkan tingkat keterpilihan yang dimiliki pasangan calon yang diusung Demokrat, Golkar, Nasdem, PPP, Hanura, PAN itu lebih tinggi. Peneliti SMRC, Sirajuddin Abbas, mengatakan bahwa elektabilitas Khofifah-Emil 48,5%, pesaingannya, Gus Ipul-Puti Soekarno, hanya 40,8%. “Khofifah-Emil pendukung kuatnya sebesar 72%, sedangkan Gus Ipul-Puti Guntur 65%,” katanya.

Dari segi popularitas, mantan Menteri Sosial (Mensos) itu juga lebih unggul atas Gus Ipul. Pasalnya, Khofifah mendapatkan angka dari responden sebesar 90%, Gus Ipul 87%. Survei melibatkan 820 sampel responden yang diambil dengan metode multistage random sampling. Responden terpilih kemudian diwawancarai dengan cara tatap muka.

Perbedaan angka begitu tipis? Jelas karena sebagaimana diketahui publik, kedua kandidat gubernur berasal dari Nahdlatul Ulama. Jadi dengan mudah bisa teraba, mana saja populasi yang menjadi basis suaranya.

Berdasarkan data itu pula sebagian publik menilai pernyataan Mendagri tentang hasil pilkada yang tak akan jauh dari hasil survei ada benarnya. Mendagri seperti memberi sinyal bahwa PDIP telah begitu siap dengan berbagai skenario politik yang terjadi di berbagai pilkada besar di seluruh Indonesia.

Benarkah begitu? Hanya waktu yang bisa membuktikan.

Gustav Perdana

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


20 − sixteen =