Ketika Potensi Kekalahan Jokowi Terbuka Lebar

Presiden Joko Widodo (Jokowi). Foto/SINDOphoto

 

Hasil mengejutkan datang dari survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Hasil yang diumumkan Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan, terdapat sejumlahfaktor fundamental yang akan memberikan pengaruh terhadap dukungan Jokowi. Dengan kata lain, SMRC memberikan sinyal peringatan jelas bahwa posisi sang petahana masih tidak aman.

Survei SMRC juga mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi, politik, hukum, dan keamanan saat ini secara umum masih lebih baik. Kondisi ekonomi nasional 39,1 persen lebih baik dan 2,7 persen jauh lebih baik, tidak ada perubahan 29,3 persen, lebih buruk 21 persen, dan jauh lebih buruk 1 persen. Kondisi politik nasional saat ini 1 persen sangat baik, 34 persen baik, baik 37 persen dianggap sedang, buruk 12 persen, dan 2 persen sangat buruk.

Kondisi penegakan hukum dianggap sangat baik 3 persen, baik 49 persen, sedang 28 persen, buruk 14 persen, dan sangat buruk 1 persen. Adapun kondisi keamanan dianggap sangat baik 4 persen, baik 63 persen, sedang 23 persen, buruk 8 persen, dan sangat buruk 1 persen.

Sementara itu, publik Tanah Air menyaksikan bahwa para lawan politik Jokowi seolah tidak lelah untuk terus melakukan serangan di sektor ekonomi. Sampai-sampai Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, harus membuat pernyataan kepada publik bahwa kritikan dan serangan di bidang ekonomi kepada Jokowi sebagai sesuatu yang tak mendasar dan sebaiknya tidak digunakan.

Hasto meminta agar tak memakai isu ekonomi untuk menghajar Jokowi-Ma’ruf Amin. Dan reaksi itu segera dianggap oleh banyak pihak sebagai blunder komunikasi politik nan fatal.

Seolah memanfaatkan kesalahan lawannya, calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, kian gencar mengampanyekan hal tersebut. Menurut Prabowo, saat ini ekonomi Indonesia dalam keadaan lampu merah. Kondisi yang ditunjukkan dengan kian melemahnya rupiah yang berimbas ke segala sektor.

Seolah setuju dengan pernyataan Prabowo, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, pun mengakui kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini telah menembus level terlemah sepanjang masa. Bahkan SMI, begitu ia akrab disebut oleh media, menyebutkan kondisi saat ini belum mencapai puncaknya karena tekanan masih akan berlangsung hingga tahun depan.

Hal tersebut dikatakan SMI ketika ia berbicara di sela-sela rangkaian Annual Meeting IMF-Bank Dunia 2018. “Normalnya equilibrium belum tercapai karena yang dikatakan Powell [Gubernur Bank Sentral],” ungkap SMI di Hotel Melia, Nusa Dua Bali, Senin (8/10/2018).

Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global yang bersumber dari Negeri Paman Sam akan memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap kondisi perekonomian negara berkembang.

Cadev Terus Turun

Gempuran pelemahan rupiah pun terlihat jelas pada kondisi cadangan devisa Indonesia. Salah satu indikator penting ekonomi itu menunjukkan nilai per akhir September 2018 yang terus turun dibandingkan dengan Agustus 2018. Penurunan cadev sebesar 3,1 miliar dolar AS, dari 117,9 miliar dollar AS pada akhir Agustus menjadi 114,8 miliar dolar AS pada akhir September. Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Junanto Herdiawan, mengatakan bahwa posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor.

Meski turun, BI menilai cadangan devisa tersebut masih cukup kuat mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Penurunan cadangan devisa pada September 2018 dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, pemerintah juga melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Data dari BI itu pun diperkuat oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Lembaga ini mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$ 1,02 miliar secara bulanan pada Agustus 2018. Dengan demikian, defisit dalam periode tahun berjalan mencapai US$ 4,09 miliar pada Januari-Agustus 2018.

Menurut Kepala BPS, Suhariyanto, defisit perdagangan pada Agustus 2018 terjadi karena nilai ekspor hanya sebesar US$ 15,82 miliar atau turun 2,9 persen dari bulan sebelumnya. Impor lebih tinggi dari ekspor, yaitu senilai US$16,84 miliar, meski nilainya sudah merosot 7,97 persen dibandingkan dengan Juli 2018.

Tak pelak, fakta tersebut diatas menunjukkan bahwa rekomendasi hasil survei SMRC tak sepenuhnya bertipe ABS (Asal Bapak Senang). Bahwa potensi anjloknya suara Jokowi memang terbuka lebar, dan itu datang dari sisi ekonomi.

Lalu, bagaimana dengan sektor lain, politik dan keamanan misalnya? Walaupun tak sebenderang sisi ekonomi, publik melihat dari sisi politik Jokowi-Ma’ruf bukanlah pasangan yang saling menunjang dari sisi elektabilitas.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny JA beberapa waktu lalu menunjukkan hal tersebut. Hasil survei itu menunjukkan pasangan Jokowi-Ma’ruf masih unggul atas pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan hasil survei 52,2 persen, Prabowo-Sandiaga 29,5 persen, dan yang belum memutuskan sebanyak 18,3 persen.

Meskipun unggul cukup signifikan, ada hal menarik dari hasil survei. Elektabilitas Prabowo meningkat saat berpasangan dengan Sandiaga, sedangkan elektabilitas Jokowi menurun jika dipasangkan dengan Ma’ruf. Jika tanpa pasangan, Jokowi mendapatkan hasil 53,6 persen, Prabowo hasil 28,8 persen. Sementara itu, pemilih yang belum memutuskan sebanyak 17,6 persen.

Jika Jokowi sendiri, persentase pemilih Muslim sebesar  51,7 persen, disandingkan dengan Ma’ruf Amin mencapai 52,3 persen. Untuk di kalangan pemilih non-Muslim, elektabilitas Jokowi menurun setelah berpasangan dengan Ma’ruf. Semula mencapai 70,3 persen, setelah berpasangan mengalami penurunan.

Sementara itu, di kalangan pemilih pemula, lagi-lagi elektabilitas Jokowi menurun usai berpasangan dengan Ma’ruf. Sebelum berpasangan dengan Ma’ruf, elektabilitas Jokowi 47,1 persen, dan setelah berpasangan menjadi 39,5 persen.

Berdasarkan hasil survei tersebut, adalah logis jika dikatakan bahwa jumlah swing voters yang mencapai lebih dari 17 persen berpotensi menjadi batu sandungan bagi Jokowi. Dengan perkiraan kubu oposisi akan terus mengeksploitasi sisi ekonomi terutama efek pelemahan rupiah terhadap pengangguran dan angka kemiskinan, pergeseran suara kemungkinan besar akan terjadi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


nineteen − 1 =