Ketika Sukarelawan Asing Harus Pergi dari Palu

Sumber: Internet

 

Barisan sukarelawan asing di kawasan bencana di Sulawesi Tengah dibuat kaget. Ketika mereka telah siap sedia untuk memberikan pertolongan bagi korban musibah gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, turun “perintah” dari pemerintah Indonesia. Melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintahan Jokowi-JK telah menyatakan tidak membutuhkan bantuan sukarelawan asing, meski membuka keran bantuan internasional hanya sepekan sebelumnya.

Pengusiran sukarelawan asing diumumkan BNPB pada Selasa (9/10/2018). Menurut BNPB, LSM asing hanya bisa terjun ke lapangan dengan dampingan ormas lokal, dan harus mendaftarkan diri ke kementerian terkait. Pihak-pihak yang berkepentingan diminta memulangkan sukarelawan yang telah berada di lokasi bencana.

Selain itu, BNPB akan mengawasi semua aktivitas sukarelawan asing di Sulawesi. “Relawan asing diatur, tidak bisa nyelonong seenaknya ke mana-mana karena beda kultur, bahasa, dan lainnya. Hal itu biasa terjadi, diatur di semua negara,” kata juru bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, seperti dikutip Kompas. “Presiden sudah mengatakan kita tidak lagi membutuhkan bantuan asing, tetapi mereka tetap datang.”

Kekecewaan pun menerpa tim SAR dan tenaga kemanusiaan luar negeri yang telah datang ke Indonesia. Padahal hampir seluruh sukarelawan yang dikirimkan ke Indonesia bukan tanpa kualifikasi. Tak hanya itu, mereka juga dibekali dengan peralatan canggih dan sangat memadai.

LSM-LSM asing itu menilai perintah pengusiran tersebut bernilai politis, lantaran pemilihan presiden yang mendekat. Keterkaitan dengan tahun politik Indonesia ini beralasan. Banyak anggota LSM asing menyatakan keheranannya: bagaimana mungkin sukarelawan pemulihan bencana dilarang beraktivitas, sedangkan wartawan bebas berkeliaran?

Ada apa gerangan? Apakah benar semata karena terkait dengan dekatnya tahun politik, Presiden Jokowi sebagai petahana benar-benar ingin terlihat “sempurna”?

Yang lebih menarik, tak sedikit pula yang mencoba menghubungkan fenomena gempa Palu dengan terbuka lebarnya sumber-sumber minyak dan gas baru. Tandanya datang dari munculnya fenomena likuefaksi, yakni kejadian hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa.

Banyak pihak mencoba mengaitkan kejadian di Palu dengan semburan lumpur Lapindo di Jawa Timur. Apalagi kalangan netizen dikagetkan dengan kemunculan video semburan lumpur dari tanah pasca gempa Sulawesi Tengah yang kemudian menjadi viral. Inilah yang menyebabkan banyak pihak yang mencoba mencari persamaan fenomena ini dengan kasus lumpur Lapindo.

Bencana Membawa Berkah?

Fenomena likuefaksi pernah terjadi di tanah Palu. Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono, menuturkan bahwa nenek moyang masyarakat Palu sebenarnya telah merekam kejadian likuefaksi dalam istilah lokal, nalodo. “Menandakan bahwa mereka telah mengenalinya sejak lama. Likuefaksi disebut dengan istilah ‘nalodo‘ yang berarti ambles diisap lumpur. Daerah-daerah rentan nalodo ini dulu kosong,” kicau Daryono dalam akun Twitter 6 Oktober 2018.

Sementara itu, Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menyebutkan bahwa riwayat malapetaka nalodo pernah terjadi beberapa puluhan tahun lalu. Sayang, kisahnya tak diwariskan hingga generasi saat ini.

Jika benar bahwa Kota Palu tak asing dengan fenomena likuefaksi, adakah ini menyebabkan Palu punya kesamaan dengan yang pernah terjadi di Sidoarjo? Namun, menurut ahli geologi, Rovicky Dwi Putrohari, keduanya berbeda.

“Berbeda. Di Sulteng, lapisan batu pasir yang berubah perilakunya akibat getaran, menjadi seperti likuida (cair),” kata Rovicky kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Minggu (30/09/2018). “Perubahan perilaku ini terjadi ketika pasir yang butirnya lebih kecil atau halus naik ke atas dan bercampur dengan air.”

Dengan kata lain, video kejadian di Palu sebenarnya menampilkan air bercampur pasir, bukan lumpur. Dalam kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, material yang meluap adalah lumpur panas, dan hari ini luapan lumpur tersebut masih berlangsung. Hal inilah yang membedakan fenomena di Sulteng pasca gempa dengan kasus lumpur Lapindo.

Di sisi lain, publik Indonesia juga membaca berita bahwa ada sebuah tim peneliti dari Universitas Bonn, Jerman, yang mengatakan bahwa luapan lumpur Lapindo disebabkan bencana alam yang dipicu gempa bumi di Yogyakarta. “Lusi (lumpur Lapindo) ada kaitannya dengan gempa bumi di Yogyakarta sebelumnya,” kata Profesor Stephen Miller, Rabu (04/06/2014). Meski demikian, banyak pihak yang mengatakan bahwa lumpur Lapindo lebih disebabkan oleh aktivitas pengeboran, bukan gempa.

Tak puas dengan pernyataan likuefaksi tersebut, perbincangan tentang fenomena ini semakin menghangat di dunia maya. Terutama yang mencoba mengaitkan dengan posisi Kota Palu yang berada tepat di atas sesar atau patahan bumi. Para ahli geologi menyebutkan bahwa daerah Petobo dan Balaroa ternyata persis berada di atas garis merah sesar Palu-Koro.

Publik Tanah Air pun sontak menghubungkan kondisi geologi ini serupa dengan apa yang terdapat wilayah Papua. Hal ini pernah diakui oleh Dosen Faukultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Bob Wilkan Adibrata, beberapa waktu lalu. Lokasi Papua yang terletak pada pertemuan lempeng-lempeng bumi aktif menjadikan daerah itu kaya sumber daya alam sekaligus rawan terhadap terjadinya bencana.

“Salah satu tempat di Papua yang kondisi geologis cukup kompleks adalah di sekitar kepala burung, yaitu daerah bagian barat dari pulau ini,” ujarnya. Daerah kepala burung ini terletak di atas pertemuan tiga lempeng bumi, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Filipina, dan lempeng Pasifik. Selain itu, terbentuk jalur patahan batuan atau sesar, bernama Sesar Sorong.

Struktur geologi ini memanjang relatif barat-timur mulai dari sebagian Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, sampai Jayapura bagian utara. Hingga saat ini Sesar Sorong dikatakan masih aktif dengan bergeraknya lempeng-lempeng bumi penyusun geologi daerah kepala burung.

Menurut Bob, gempa bumi yang melanda Manokwari pada 4 Januari 2009 punya sisi lain. Kompleksitas geologi yang rawan bencana tersebut, ternyata mengandung ceruk-ceruk mineral serta minyak dan gas bumi (migas) di beberapa tempat tertentu di Papua.

Cebakan migas yang telah dieksplorasi dan saat ini sedang berproduksi adalah di Kota Sorong dan Bintuni, Kabupaten Sorong Selatan. Sementara itu, di daerah Pegunungan Tengah Papua terbentuk deposit mineral-mineral logam seperti emas, tembaga, dan alumunium dalam jumlah melimpah.

Kabar terbaru dari pemerintah Indonesia adalah wilayah yang terdampak fenomena likuefaksi direncanakan akan dikosongkan dari bangunan. Rencananya lokasi tak berpenghuni itu meliputi tiga kelurahan di Kota Palu, yaitu Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. Di atas tanah di ketiga kelurahan itu, akan dibangun ruang terbuka hijau dan monumen untuk dijadikan sebagai tempat bersejarah.

Gustav Perdana

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


4 + fourteen =