Lari dari Wonosobo ke Gunungkidul untuk Anak Disabilitas

 

We continue the journey. Begitu tagline Nusantarun Chapter 6 yang menempuh jarak 169 kilometer dari Wonosobo, Jawa Tengah ke Gunungkidul, Yogyakarta. Perjalanan panjang acara lari untuk amal yang dimulai pada 2013 ini masih terus berlanjut. Chapter-1 kala itu menempuh rute Jakarta-Bogor (53,5 kilometer) dilanjutkan Chapter-2 dari Bogor ke Bandung (118 kilometer) pada 2014. Chapter-3 pada 2015 giliran Bandung-Cirebon (135 kilometer) dan Chapter-4 tahun 2016 menjajal Cirebon-Purwokerto (145 kilometer). Tahun lalu Chapter-5 menyusuri Purwokerto-Dieng (127,9 kilometer).

Acara lari ultra ini akan digelar 7-9 Desember 2018. Di tahun keenamnya, 201 peserta akan berlari untuk menggalang donasi demi mewujudkan mimpi anak-anak penyandang disabilitas dalam memperoleh kesempatan yang sama di dunia pendidikan dan dunia kerja. Nusantarun merupakan gerakan berlari (running movement), tempat kecintaan pada olahraga lari bertemu dengan jiwa sosial sebagai wujud cinta terhadap Nusantara.

“Nusantarun bukan ajang kompetisi lari. Kami ingin mengajak masyarakat untuk peduli kepada sesama melalui donasi untuk kegiatan sosial, melalui aktivitas lari,” kata Christopher Tobing di CGV Cinemas FX Sudirman, Jakarta, Jumat 30 November. Topher, panggilan akrabnya merupakan founder Nusantarun bersama Jurian Andika.

Selain memasyarakatkan olahraga lari, Nusantarun (NR) juga bertujuan memperkenalkan destinasi wisata di Indonesia, kegiatan sosial untuk pendidikan, serta kepedulian pada isu lingkungan. Para pelari akan menikmati trek lari yang bervariasi dan pemandangan indah di antara Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dan pantai eksotis di kawasan Gunungkidul.

Pengalaman ini bakal dilengkapi dengan keramahan warga lokal sepanjang rute. Para punggawa NR percaya melalui gerakan Nusantarun mereka bisa memberikan sarana berbagi untuk masyarakat melalui lari, donasi finansial, dan atau menjadi relawan.

Ingin ikut berkontribusi, tetapi tidak sanggup berlari ultra? Jangan khawatir, Anda tetap bisa ikut menjadi sukarelawan di ajang ini. Seperti yang dilakukan Chia Harjanto yang pernah ikut NR Chapter-1 sampai 4. Saat Chapter-2, 3 dan 4, ibu dua orang anak ini sekaligus menjadi panitia. Saat ini ia tidak jadi pelari, tetapi meluangkan waktunya untuk jadi sukarelawan.

Chia bahkan mengajak kedua anaknya ikut serta menjadi sukarelawan supaya mereka tahu bahwa untuk membantu orang lain itu tidak harus menunggu harus punya uang atau punya kemampuan tertentu. Membantu orang bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana seperti menyodorkan air minum untuk pelari yang masuk ke check point. Itulah yang nanti akan dilakukan putra-putri kecilnya. Sesederhana itu, tetapi ditanamkan sejak dini.

Dari sekian banyak pengalaman mengikuti NR, ada satu yang paling berkesan bagi Chia. “Saat jadi pelari disambut anak-anak penerima donasi di finish line dan mereka bilang, ‘Kak, terima kasih sudah mau berlari jauh supaya saya bisa sekolah lagi’. Duh… aku terharu banget,” tutur lulusan Kriminologi FISIP UI ini.

Kontribusi dan dukungan materiil untuk NR 6 juga hadir dari Telkomsel dan Pocari Sweat. Ketersediaan minuman isotonik untuk kebutuhan pelari supaya terhindar dari dehidrasi sangatlah penting. Apalagi NR adalah kegiatan lari amal dalam bentuk ultra marathon. Untuk alasan keselamatan pula, setiap pelari yang ikut NR 6 wajib pernah menjalani dan finis di ajang lomba lari maraton.

Target Donasi Rp 2,5 Miliar

NR pertama berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 137 juta. Tahun lalu, gerakan ini berhasil mengumpulkan donasi sebesar RP 2 miliar. Tahun ini target donasi adalah Rp 2,5 miliar, yang akan disumbangkan untuk pendidikan melalui Kampus Guru Cikal.

NR percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara paling efektif dan paling strategis untuk mengubah masa depan seseorang menjadi lebih gemilang. Bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal, NR akan menjalankan program yang bertujuan untuk menyediakan dukungan dan kesempatan bagi anak-anak penyandang disabilitas agar bisa mendapat akses pendidikan yang sama.

Founder Kampus Guru Cikal, Najeela Shihab, berharap murid penyandang disabilitas dapat melanjutkan pendidikan tinggi, orang tua dan guru memberikan dukungan sepenuh hati terhadap keberlanjutan studi, guru bimbingan karier mampu mengenal dan memahami potensi. Berbagai faktor yang menghambat penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan yang sama di dunia pendidikan dan dunia kerja antara lain persepsi negatif, perlakuan diskriminatif, serta sarana dan prasarana yang tidak menunjang.

Hasil donasi yang terkumpul 100% akan digunakan untuk program pengembangan anak-anak penyandang disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang meliputi edukasi, support system anak, serta pemberian beasiswa bagi penyandang disabilitas hingga jenjang perguruan tinggi.

Bekerja sama dengan kitabisa.com, setiap pelari wajib menggalang dana. Untuk tahun ini kriteria pelari lebih diperketat dengan cara mewajibkan pelari mencapai target Rp 3,5 juta rupiah sebelum ikut start tanggal 7 Desember nanti.

Bagi Sufi Hamdan Mazida, ini pengalaman pertama ikut NR. Pelari dari komunitas Couchsurfing Runners Indonesia ini sudah lima kali ikut lomba kategori full marathon (42K) sehingga masuk kualifikasi berpartisipasi lari di NR 6. Ia mengambil kategori half course sejauh 85 km. Persiapan untuk lari ultra ini lebih keendurance. Ia tidak mengejar lari dengan pace kencang, tetapi lebih ke pace yang stabil supaya mampu bertahan lebih dari 15 jam.

Lulusan ITB ini mau turut berlari di NR 6 karena ini bukan lari jarak jauh biasa tetapi memiliki konsep berbeda, yaitu mengusung tema charity. Selama 6 tahun penyelenggaraan, banyak temannya yang berpartisipasi dan Sufi pun aktif sebagai donatur. Tahun ini ia memutuskan untuk menjadi fund raiser.

Ingin mendukung Sufi yang berlari demi membantu anak-anak penyandang disabilitas? Silakan titipkan donasi di sini: https://m.kitabisa.com/sufinr6

Sementara itu, bagi Neil Ahmad, selain ingin berlari dengan nuansa yang berbeda dan tantangan yang lebih besar, ia juga mau membantu anak-anak penyandang disabilitas memperoleh pendidikan yang lebih baik. Pelari dari komunitas Run For Indonesia (RFI) ini didukung oleh solidnya komunitas tempat ia bernaung. Ada 15 orang pelari RFI yang ikut serta, 4 orang di antaranya mengambil kategori full course 169 km dan 11 orang akan berlari 85 km. Tim support mereka ada 2 mobil dengan 1 mobil berangkat sejak start di Wonosobo dan 1 mobil khusus mendukung kategori half course yang start dari Karang Wuni (Wates). Anda juga bisa ikut jadisupporter Neil dengan menitipkan donasi di sini: https://m.kitabisa.com/neil

Donasi juga bisa dilakukan di https://m.kitabisa.com/nusantarun.

Penggalangan dana masih berlangsung sampai 40 hari ke depan. Untuk membantu anak-anak penyandang disabilitas ini semudah memesan Go-food di aplikasi Gojek, karena Anda juga bisa langsung menyumbang melalui Go-pay.

Semua orang bisa menyumbang mulai dari Rp 10.000 rupiah hingga sebanyak-banyaknya. Luangkan sedikit waktu untuk klik m-banking, internet banking atau mampirlah sebentar ke ATM terdekat. Kirimkan tanda kasih Anda bagi anak-anak penyandang disabilitas yang membutuhkan pendidikan berkualitas.

Thepressweek

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


14 + four =