MA Spanyol Usut Mantan Ketua Parlemen Katalonia

Foto : Pere Tordera

 

Mantan ketua parlemen Katalonia, Carme Forcadell, beserta lima mantan anggota parlemen lokal Katalonia, pada Kamis (9/11) menghadiri panggilan Mahkamah Agung Spanyol di Ibu Kota Madrid. Kehadiran mereka untuk menjawab tuntutan telah melakukan pemberontakan dan penghasutan terkait peran mereka dalam menggelar referendum 1 Oktober lalu untuk kemerdekaan Katalonia.

“Mereka semua dituding jadi pengikut dalam merancang strategi bagi mendeklarasikan kemerdekaan yang bakal menggiring Katalonia terpisah dari Spanyol,” demikian diberitakan kantor berita BBC.

Sebelumnya pada Rabu (8/11), Mahkamah Konstitusi Spanyol telah membatalkan deklarasi kemerdekaan Katalonia yang diumumkan parlemen Katalonia secara sepihak pada 27 Oktober lalu.

Sebelumnya pada akhir pekan lalu, Forcadell dan lima mantan anggota parlemen Katalonia dipanggil oleh Mahkamah Agung, yang menangani kasus ini. Akan tetapi, Mahkamah Agung memberikan mereka tambahan 1 pekan untuk mempersiapkan pembelaan.

Mahkamah Agung nantinya memutuskan apakah Forcadell dan ke-5 anggota parlemen Katalonia lainnya, akan dikirim ke penjara atau membebaskan dengan syarat tertentu, sementara proses investigasi terhadap mereka, berlangsung.

Saat ini, 8 mantan pejabat Katalonia dan dua ketua kelompok prokemerdekaan, sudah ditahan. Mereka sedang menunggu persidangan dengan tuduhan telah melakukan penghasutan dalam referendum 1 Oktober lalu, yang disebut oleh pengadilan Spanyol sebagai tindakan ilegal.

Sedangkan mantan pemimpin Katalonia, Carles Puigdemont, telah melarikan diri ke Belgia pada akhir pekan lalu atau tak lama setelah pemerintah pusat Spanyol mencabut status daerah otonomi Katalonia, membubarkan parlemen, dan mempercepat penyelenggaraan pemilu daerah pada Desember mendatang.

Pengadilan tinggi Spanyol pada akhir pekan lalu sudah menerbitkan surat penahanan terhadap Puigdemont dan 4 mantan anggota kabinetnya, yang juga berada di Brussels, Belgia, atas tuduhan telah melakukan penghasutan dan pemberontakan.

Sentimen Anti-Spanyol

Desakan kemerdekaan Katalonia dari Spanyol telah membuat Negara Matador terpecah-belah dan terpuruk pada krisis politik terburuk dalam 4 dekade sejak kembalinya Spanyol pada sistem pemerintahan demokrasi. Krisis politik ini juga telah membangkitkan sentimen anti-Spanyol di Katalonia dan wilayah lain.

Pada Rabu (8/11), para pengunjuk rasa menutup jalan-jalan dan jalur kereta api. Aksi unjuk rasa ini dilakukan oleh sebuah kelompok perserikatan prokemerdekaan.

Demonstrasi ini menutup jalan-jalan utama, termasuk rute ekspor Spanyol ke Prancis dan wilayah Eropa lainnya. Kekacauan akibat aksi unjuk rasa ini dirasakan seluruh wilayah Katalonia.

Para demonstran memasang spanduk raksasa setidaknya di satu terowongan kereta api di Barcelona, dimana menutupan ini berdampak luas. Para aktivis juga memutus jalan-jalan utama yang selama ini menghubungan 7,5 juta masyarakat Katalonia dengan Prancis dan Ibu Kota Madrid.

Otoritas berwenang di Prancis membenarkan penutupan jalan ini. Mereka mengatakan wilayah perbatasan Prancis-Spanyol di Kota Puigcerda ditutup dan beberapa rute jalan utama di sekitar Figueres, wilayah utara Barcelona, diputus.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


four × three =