Manuver Politik AHY Kala Bertemu Jokowi

 

Kedatangan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY ke Istana Merdeka untuk menyampaikan undangan pembukaan The Yudhoyono Institute (TYI) kemarin siang, memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat.

Secara mengejutkan, putra sulung Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY itu memilih menemui Presiden Jokowi, yang pemerintahannya kerap dikritik ayahnya tersebut.

Selain agenda formal untuk memperkenalkan TYI, tak sedikit yang menduga kedatangan AHY ke tempat Jokowi itu sebagai manuver atau langkah praelektoral yang dilakukan seorang politikus. Demikian disampaikan pengamat politik dari Universitas Gajah Mada (UGM) Abdul Gaffar Karim.

“Saya rasa para aktor politik sedang saling menjajagi. Ini tahap pra-elektoral yang lumrah dilakukan oleh para politisi, apalagi menuju 2019,” kata Gaffar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (10/8) malam.

Apalagi, sambung Gaffar, Agus adalah sosok yang baru terjun ke politik. Agus yang sebelumnya berkarier di Tentara Nasional Indonesia (TNI) itu memilih mundur demi ambisi ikut berkompetisi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Sayang, Agus yang berpasangan dengan mantan pejabat teras DKI, Sylviana Murni itu kalah pada putaran pertama Pilkada DKI 2017.

Gagal menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan sudah mundur pula dari TNI membuat Agus kini berkarier di politik. Seperti pula adik kandungnya Eddie Baskoro yang saat ini duduk di kursi legislatif.

Agus sebagai sosok politikus baru, kata Gaffar, akan berupaya menjalin kedekatan sebanyak mungkin dengan tokoh nasional. Hal ini pun kata dia, sekaligus dilakukan untuk mengecek reaksi publik terhadap berbagai kedekatan yang dia jalin.

Menurut Gaffar, kekuatan-kekuatan politik nasional di Indonesia saat ini cenderung menyebar dan kecil-kecil. Akibatnya, tak ada yang bisa benar-benar sendirian memenangkan politik elektoral.”Mereka memerlukan koalisi dengan tokoh-tokoh yang sudah dikenal masyarakat. Dan, bagi siapa pun, Jokowi adalah calon kuat yang patut didekati,” kata pengajar ilmu pemerintahan di Fisipol UGM tersebut.

Sejauh ini, Gaffar menilai Joko Widodo adalah tokoh yang paling rasional diajak berkoalisi dalam pemilu 2019 mendatang. Bagaimana pun, Gaffar menilai, mantan Gubernur DKI Jakarta itu masih mendapat kepercayaan dari masyarakat yang terbilang besar.

Apalagi, hingga saat ini belum ada satu nama pun calon wakil presiden yang digadang-gadang bisa mendampingi Jokowi dalam pilpres mendatang.

“Bursa cawapres pendamping Jokowi di tahun 2019 akan sangat seksi, jauh lebih seksi daripada bursa capres pesaing Jokowi. Bisa jadi Agus tertarik untuk dampingi,” kata Gaffar.

Demokrat Ingin Kembali Ke Istana

Secara terpisah, pengamat politik dari LIPI Wasisto Raharjo Jati menilai kedatangan AHY menemui Jokowi itu sebagai bagian dari manuver politik Partai Demokrat untuk kembali ke Istana.

AHY, kata Wasisto, adalah tokoh yang digunakan oleh Partai Demokrat sebagai bagian dari upaya diplomasi mengelus koalisi demi kepentingan 2019 mendatang.

“Ini manuver Demokrat untuk kembali ke Istana melalui AHY,” kata Wasisto.

Demokrat sendiri telah membangun komunikasi politik tingkat tinggi dengan partai oposisi, Gerindra. Itu dilakukan lewat jamuan makan malam SBY sebagai Ketum Demokrat kepada tamu di rumahnya, Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto pada Juli lalu.Wasisto menilai dalam Pilpres 2019 mendatang tak terkecuali Demokrat bisa berbalik arah dan mendukung koalisi Jokowi. Apalagi ketika partai lain –yang umumnya koalisi partai pemerintah saat ini– sudah mulai terang-terangan memberi dukungan kepada Jokowi untuk 2019.

Manuver Politik AHY Lewat Kunjungan ke Istana

Tren itu pun dinilai Wasisto sebagai langkah paling rasional bagi Demokrat jika partai penguasa sebelum era Jokowi tersebut ingin kembali ke Istana.

“Istilahnya AHY bisa jadi merupakan upaya perkenalan politis yang disodorkan Demokrat kepada Jokowi, apalagi AHY sendiri memang sudah masuk radar politik Jokowi,” kata dia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


10 + 14 =