Menanti Magis Dirjen Pajak Baru

Sumber: kabar24.com

 

Direktur Jenderal Pajak yang baru, Robert Pakpahan, akhirnya dilantik pada Kamis (30/11/2017) malam. Tak main-main. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, langsung memberikan beban berat. Apalagi bila bukan mengejar target pajak tahun 2017 yang masih bersisa lebih dari 20% per November.

Kemudian Sri mengingatkan Robert tentang program reformasi pajak yang masih berlangsung saat ini. Reformasi pajak yang harus diselesaikan adalah di lingkungan internal Direktorat Jenderal Pajak dan sistem informasi serta database perpajakan.

Sebagaimana diketahui, Robert Pakpahan resmi menduduki posisi Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak menggantikan Ken Dwijugiasteadi, yang jabatannya berakhir karena pensiun. Sebelumnya Robert menjabat sebagai Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan Risiko. Dia menjabat di posisi tersebut mulai tahun 2015 setelah ada perombakan struktur organisasi pada 2013. Kini posisinya digantikan oleh Lucky Firmansyah, yang sebelumnya menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Kebijakan Penerimaan Negara.

Pada 2014, Robert juga sempat mengikuti bursa pemilihan Dirjen Pajak. Sayangnya, dia gagal pada seleksi tahap kedua perekrutan terbuka untuk menduduki posisi orang nomor satu di Direktorat Jenderal Pajak.

Pertanyaan yang menggelitik adalah, kenapa Robert Pakpahan masuk menjadi Dirjen Pajak, ketika sisa tahun 2017 tinggal satu bulan lagi? Apakah berhubungan dengan keahlian Robert di manajemen risiko, ataukah ada maksud lain?

Berdasarkan data Bloomberg, sebelumnya Robert Pakpahan berkarier di Dirjen Pengelolaan Pembiayaan Anggaran dan Manajemen Risiko Departemen Keuangan. Pada Agustus 2014 ia menjabat sebagai Direktur Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Sebelum itu, ia berkarier sebagai salah satu Komisaris PT Antam pada April 2013 hingga Maret 2014.

Dengan “curriculum vitae” yang sedemikian mentereng, apakah Robert juga akan mengikuti jejak pendahulunya yang berhasil menyeret perusahaan sebesar Google untuk taat pajak? Seperti diketahui, Google Asia Pacific Pte Ltd melunasi pajaknya untuk Tahun Pajak 2015. Yang luar biasa, itu terjadi pada hari terakhir Ken Dwijugiasteadi menjabat sebagai Dirjen. Google dipastikan sudah membayar pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Pajak yang dibayarkan pihak Google terdiri atas Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Nilainya konon sungguh fantastis, yakni mencapai Rp 114 triliun, belum termasuk dengan pembayaran dari BUT (Badan Usaha Tetap).

Indonesia termasuk dalam empat negara yang membebankan pajak atas Google selain Inggris, India, dan Australia. Di Indonesia, aturan perundang-undangan perpajakan sudah memenuhi ketentuan yang disepakati antara perusahaan G dengan otoritas perpajakan negeri ini. “Jadi sama sekali enggak ada yang dilanggar,” ujar dia.

Dengan demikian, Ken berharap perusahaan aplikasi dan layanan konten di internet (over the top/OTT) lainnya seperti Facebook dan Twitter juga mengikuti langkah serupa. Tarifnya sama dengan PPh lain. Apakah tugas ini yang diemban Robert Pakpahan?

Sampai sekarang tak ada konfirmasi lebih lanjut. Namun, merujuk pengalaman Robert Pakpahan, mayoritas kalangan fiskus menunjukkan optimismenya.

Profil Dirjen Baru

Robert Pakpahan adalah pria kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, pada 20 Oktober 1959 itu sudah lama berkecimpung di dunia perekonomian. Robert pernah belajar di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Dia mengambil Diploma III Keuangan Spesialisasi Akuntansi dan lulus pada 1981.

Setelah Diploma III, Robert melanjutkan studinya ke Diploma IV di kampus yang sama pada 1985. Tidak hanya sampai Diploma IV, dia kemudian hijrah ke Amerika untuk meraih gelar Doctor of Philosophy in Economic dari University of North Carolina, Amerika Serikat, pada 1988.

Selain bertugas di Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan menjabat sebagai direktur di Credit Guarantee and Investment Facility yang mewakili ASEAN sejak Maret 2014. Robert juga ditunjuk sebagai Komisioner di Indonesia Deposit Insurance Corporation sejak April 2016 dan Komisioner di Indonesia Infrastructure Finance.

Yang sering dilupakan orang adalah prestasi Robert di PT Antam di tahun 2013. Kala itu Laba bersih PT Aneka Tambang Tbk (Antam) anjlok hingga 86 persen. Padahal pada 2012, perseroan mampu membukukan laba bersih hingga Rp 2,99 triliun.

Kinerja Antam pada 2013 jauh lebih buruk dibandingkan dengan kinerja pada 2009. Ketika itu harga nikel sedang turun yang menyebabkan penjualan Antam ikut merosot hingga 9,2 persen. Sementara pada 2013, penjualan Antam justru menunjukkan peningkatan 8,1 persen menjadi Rp 11,30 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan kala itu, penyebab turunnya laba bersih PT Antam berasal dari beban lain-lain yang mencapai Rp 553,96 miliar sehingga perseroan mengalami rugi sebelum pajak penghasilan (PPh) sebesar Rp 132,93 miliar. Padahal tahun sebelumnya, perseroan justru mencetak laba sebelum PPh senilai Rp 3,90 triliun.

Begitu pula dengan laba per saham (earning per share/ EPS) perseroan yang selama 2013 hanya Rp 43, yang merupakan terendah sejak 2006. Analis sebelumnya menargetkan laba per saham Antam pada 2013 bisa mencapai Rp 59 per saham.

Turunnya laba bersih Antam tersebut sebetulnya sudah diprediksi para analis ketika itu. Konsensus analis memperkirakan laba bersih perseroan sebesar Rp 665,5 miliar seiring dengan turunnya harga emas dunia sepanjang 2013.

Banyak kalangan memberi pujian, di tengah penurunan harga emas global yang begitu tajam, Robert bisa berkontribusi agar rugi yang dialami oleh perusahaan pelat merah itu tak terlalu dalam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


five × 1 =