Momen Cikeas dan Cendana Bersatu

Foto: Kompas.com/Andrea Lukas Altobeli

 

Politik itu dinamis. Siapa mengira, Prabowo Subianto memilih salah satu kader Partai Gerindra sekaligus Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno, sebagai calon wakil presiden (cawapres) pada pemilihan presiden (pilpres) 2019.

Tak ada yang menduga juga, akhirnya Partai Demokrat dan Partai Berkarya berada di kubu Prabowo bersama Gerindra, Partai Amanat Nasional, dan Partai Keadilan Sosial. Di menit-menit akhir Prabowo berhasil membawa dua klan politik, Cikeas dan Cendana, bersatu di bawah panjinya.

Keputusan Prabowo memilih Sandiaga memang di luar perkiraan banyak orang. Pasalnya, Demokrat yang diajak berkoalisi mengajukan syarat Prabowo harus menjadikan Agus Harimurti Yudhoyono, putra sang ketua umum, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai cawapres.

Di sisi lain, Forum Ijtima Ulama yang digagas kelompok ormas Islam, seperti Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama dan Persaudaraan Alumni (PA) 212, merekomendasikan Habib Salim Assegaf dan Ustadz Abdul Somad (UAS) sebagai cawapres untuk Prabowo. Keputusan Forum Ijtima Ulama yang mengedepankan Habib Salim Assegaf dan UAS ini didukung oleh PKS. Sementara itu, PAN tetap menginginkan ketua umum mereka, Zulkifli Hasan, sebagai kandidat cawapres Prabowo.

Prabowo seperti tersandera dengan kemauan dua kubu koalisinya itu. Keduanya bagai simalakama untuk Prabowo. Bila dia mengakomodasi keinginan Demokrat, dipastikan PKS dan PAN akan keluar dari koalisi. Ini kerugian besar baginya karena PKS dan PAN merupakan sekutu lama Gerindra. Kedua partai ini memiliki basis pendukung yang loyal pada partai serta militan.

Pilihan sulit lainnya bagi Prabowo jika dia menerima usulan Forum Ijtima Ulama dengan menggandeng Habib Salim Assegaf atau UAS, dia akan sulit mendapatkan pasokan logistik memadai untuk maju ke pilpres 2019. Demokrat yang memiliki kemampuan logistik untuk menyokong Prabowo sudah pasti hengkang.

Di tengah kegalauan sang jenderal, Sandiaga muncul bagai dewa penolong bagi Prabowo dan Gerindra. Diam-diam, lepas dari pengamatan orang banyak, Sandi sukses melakukan “operasi senyap” sehingga membuat PKS dan PAN bertekuk lutut dan bersedia memajukan wakil gubernur DKI Jakarta itu sebagai cawapres pendamping Prabowo.

Fakta ini sempat membuat kubu Demokrat marah, dan menuduh Prabowo tak bisa memegang komitmen. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief, sampai mengeluarkan cuitan di twitter dengan menyebut jenderal bintang tiga itu dengan sebutan “jenderal kardus”. Kubu Gerindra pun membalas dengan menyebut SBY sebagai “jenderal baper”. Kemesraan Partai Demokrat dan Gerindra seketika menguap.

Perwakilan GNPF dan PA 212 juga menemui Prabowo untuk meminta penjelasan soal terpilihnya Sandi sebagai cawapres seraya menyodorkan calon alternatif dari kalangan ulama, yakni Ustad Arifin Ilham dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Namun, hati Prabowo seperti sudah terkunci pada Sandi.

Menghadapi deklarasi Prabowo-Sandi, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U), Yusuf Martak, menyerukan kepada ulama dan umat untuk tetap tenang dan sabar. “Diserukan kepada segenap ulama dan umat Islam agar tetap tenang dan sabar serta tetap istiqamah bersatu bersama ulama di bawah satu Komando Imam Besar Umat Islam Indonesia, Habib Rizieq Syihab,” kata Yusuf lewat keterangan tertulisnya,

Kehadiran Sandi yang tiba-tiba muncul sebagai cawapres Prabowo menimbulkan dugaan bahwa dia menggunakan kekuatan uangnya guna mendapatkan posisi tersebut. Andi Arief menuding PKS dan PAN telah menerima uang mahar dari Sandi sebesar Rp 500 miliar.

Namun, Sandi tak mau berkomentar soal rumor uang mahar tersebut. PKS dan PAN pun siap membawa cuitan Andi Arief ke ranah hukum.

Dukungan Cikeas dan Cendana

Pada detik-detik akhir, peta politik kembali berubah. Prabowo kembali merangkul Demokrat. Kamis (9/8/2018) malam, Prabowo intens mendatangi kediaman SBY di Mega Kuningan, Jakarta. Prabowo seperti mengalah, dirinya yang bolak balik ke kediaman SBY. Deklarasi capres-cawapres pun baru bisa dilakukan jelang tengah malam.

Akhirnya semua berbuah manis. Koalisi partai pendukung Prabowo-Sandi bertambah. Jumat siang, dua anak SBY, AHY dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), terlihat di dalam rombongan yang mengantar Prabowo-Sandi ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk mendaftar sebagai capres dan cawapres.

Selain PKS dan PAN, Prabowo-Sandi didukung Demokrat dan Partai Berkarya yang dipimpin Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto). Dukungan Partai Berkarya terlihat dengan kehadiran mantan istri Prabowo, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto). Titiek yang menjabat wakil ketua Dewan Pembina Partai Berkarya di KPU.

Suatu kejutan karena selama ini hubungan Prabowo dengan keluarga Cendana disebut-sebut tidak harmonis. Setelah bercerai dari Titiek, Prabowo seperti sudah tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga Cendana.

Itulah dunia politik, tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada kepentingan yang abadi. Klan Cikeas dan Cendana punya kepentingan yang sama dengan Prabowo, yakni kembali meraih kekuasaan di Indonesia.

Saat ini Prabowo sudah tidak kekurangan logistik untuk merebut kursi kepresidenan 2019-2024. Apalagi dua dinasti politik di Indonesia, Klan Cikeas dan Cendana, memiliki sumber dana tak terbatas bersatu sehingga Prabowo-Sandi tak perlu galau memikirkan dana kampanye untuk merebut kekuasaan dari petahana Presiden Joko Widodo yang berpasangan dengan K.H. Ma’ruf Amin.

Pertarungan pilpres 2019 bakal berjalan ketat dan kedua kubu akan mengerahkan segenap sumber daya mereka untuk meraih simpati dan suara rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia berharap kontestasi kedua kubu tak lagi mengedepankan narasi-narasi berbau SARA yang menyerang kandidat serta memecah belah rakyat. Kedua kubu harus berkampanye secara sehat dengan mengedepankan program-program kerja yang bisa menarik simpati rakyat.

Abhyudaya Wisesa

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


four × 4 =