Optimisme Yang Meluber di Proyek Bandara

Sumber: kontan

 

Publik Tanah Air terhenyak mendengar kabar kerugian besar yang menimpa maskapai nasional Garuda Indonesia. Perusahaan penerbangan pelat merah itu membukukan kerugian pada semester I/2017 sebanyak US$ 281,92 juta atau Rp 3,66 triliun (kurs Rp 13.000). Kerugian maskapai tersebut naik 343,33 persen dibandingkan semester I/2016 sebesar US$ 63,59 juta atau Rp 826,6 miliar.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N. Mansury, mengatakan bahwa kerugian tersebut salah satunya disebabkan biaya bahan bakar avtur yang membengkak pada semester I/2017 sebesar US$ 571,1 juta atau Rp 74,24 triliun. Mantan Direktur Keuangan Bank Mandiri ini menuturkan, kerugian tersebut juga disumbang oleh pembayaran amnesti pajak sebesar US$ 137 juta atau Rp 1,78 triliun.

Kondisi ini tak sebanding dengan begitu giatnya pemerintah membangun infrastruktur bandar udara (bandara) di mana-mana. Tercatat tak kurang dari belasan bandara dengan berbagai tipe siap dan tengah dibangun sepanjang tahun ini.

Pembangunan termasuk proyek pengembangan bandara yang telah ada, sebut saja Kertajati (Jawa Barat), Kulonprogo (Yogyakarta), Notohadinegoro (Jember), serta perluasan Ahmad Yani (Semarang) dan Syamsudin Noor (Banjarmasin). Belum lagi pembangunan sekitar 5-7 bandara kecil di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Mengapa pemerintah begitu berani? Tidakkah pemerintah belajar dari kasus yang terjadi di Sri Lanka?

Sebagaimana diketahui, dunia menyaksikan sebagian bandara yang dibangun oleh mantan Presiden Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa, akan dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan beras. Upaya ini terpaksa dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat sepinya lalu lintas bandara.

Seperti dirilis AsiaOne, Bandara Internasional Mattala Rajapaksa sering menjadi lokasi kecelakaan lantaran berada di rute migrasi burung. Tak ayal, berbagai maskapai pun menghindari bandara yang berlokasi di Hambantota, 250 kilometer dari Kolombo itu.

Sekitar 550 karyawan bandara menjadi perhatian para turis. Pasalnya, bandara tersebut hanya melayani satu maskapai, penerbangan murah Flydubai, dengan hanya segelintir penumpang setiap pekannya.

Namun, sepinya bandara ini merupakan berkah tersendiri bagi petani sekitar. Mereka menggunakan sebagian ruangan di bandara untuk menyimpan hasil panen mereka.

Sejak awal, pembangunan bandara  senilai US$ 210 juta atau setara Rp 2,9 triliun ini memang menuai kontroversi karena tak memperhatikan studi lingkungan. Maskapai milik negara, Sri Lankan Airlines, sempat diinstruksikan oleh Rajapaksa untuk mendarat di bandara tersebut. Ironisnya, pihak maskapai langsung menghentikan penerbangan melalui bandara itu sejak Rajapaksa lengser dari jabatannya pada Januari lalu.

Apakah Indonesia akan bernasib seperti Sri Lanka? Nanti dulu, paling tidak pemerintah punya hitung-hitungan tersendiri. Tengok data PT Angkasa Pura I (Persero) yang mencatat trafik penumpang di 13 bandara selama semester I/2017 mencapai 41.854.574 orang, tumbuh 4,32 persen dibandingkan dengan total trafik penumpang pada periode yang sama 2016, yaitu 40.119.773 orang.

Sementara itu, trafik pesawat semester I/2017 mencapai 380.365 pergerakan, tumbuh 2,32 persen dibandingkan trafik pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 371.736 pergerakan pesawat. Trafik kargo pada semester I/2017 tumbuh dua digit, yaitu 15,27 persen, dengan total 127.129.612 kilogram (kg) dibandingkan dengan 2016 yang hanya mencapai 110.001.491 kg.

Dengan tingkat pertumbuhan tersebut  pada semester I, pihak Angkasa Pura I optimis angka total trafik 2017 dapat mencapai 90 juta penumpang. Berarti tumbuh sekitar 7 persen dibandingkan dengan realisasi trafik penumpang pada 2016 yang sebesar 84,7 juta orang.

Lebih rinci lagi, pertumbuhan trafik penumpang tertinggi pada semester I/2017 terjadi di Bandara Adi Soemarmo Solo. Tingkat pertumbuhan mencapai 34,79 persen atau naik menjadi 1.241.199 orang dari 920.828 orang pada 2016.

Sebagai informasi, tren pertumbuhan trafik penumpang tertinggi di Bandara Adi Soemarmo ini juga terjadi pada masa angkutan Lebaran 2017, kurun waktu 15 Juni hingga 3 Juli 2017. Pertumbuhan mencapai 35,5 persen dengan total 166.658 orang dari 122.999 orang pada 2016.

Realisasi jumlah penumpang tertinggi terjadi di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dengan total penumpang mencapai 10.156.009 orang. Angka ini tumbuh 8,93 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016 yang hanya 9.323.779 orang.

Trafik penumpang tertinggi kedua terjadi di Bandara Internasional Juanda Surabaya, dengan total penumpang mencapai 9.350.555 orang. Meski tertinggi kedua, tercatat terjadi penurunan 0,19 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2016 yang sebesar 9.368.646 orang.

Pembangunan bandara di Indonesia memang pesat, bahkan boleh dibilang salah satu yang tersibuk di Asia. Sebagaimana diberitakan media, pada 2017 ini saja Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal meresmikan tujuh bandara dan satu terminal baru di berbagai wilayah Indonesia.

Bandara baru tersebut adalah Bandara Maratua yang berlokasi di Berau (Kalimantan Timur), Tebelian (Kalimantan Barat), Letung (Anambas, Kepulauan Riau), Morowali (Sulawesi Tengah), Namniwel (Buru, Maluku), Werur (Tambrauw, Papua Barat), Koroway Batu (Tanah Merah, Papua). Satu lagi yakni gedung terminal baru Bandara Radin Inten II yang terletak di Tanjung Karang, Lampung.

Tidak berhenti di situ, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, juga mengeksekusi proyek pengembangan Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin yang dimulai Maret 2017. Banjarmasin bukan satu-satunya. New Yogyakarta International Airport yang berlokasi di Kabupaten Kulon Progo, tidak lama lagi juga akan dimulai pembangunannya.

New Yogyakarta International Airport diharapkan dapat selesai pada Maret 2019. Perkembangan terkini, proses penyelesaian pembebasan secara fisik lahan warga untuk pembangunan bandara, porsi lahan milik Paku Alam mencapai 27% (160 hektare) dari total luas lahan warga yang dibebaskan sebesar 587,2 hektare.

Sebanyak 58% lahan atau 340 hektare lahan sudah dibayar, sedangkan 6% lahan atau sekitar 35 hektare yang merupakan tanah milik instansi pemerintah berupa fasilitas umum dan fasilitas sosial masih dalam proses. Sisanya, yakni 9%, merupakan lahan warga yang menolak dan masih dalam sengketa waris yang juga diproses melalui penitipan ganti kerugian (konsinyasi) di Pengadilan Negeri (PN) Wates.

Di kawasan tengah Jawa, ada juga proyek bandara yang kini tengah dikebut, yakni Ahmad Yani. Direncanakan, bandara itu akan dibuat lebih luas dengan fasilitas lebih modern. Bandara itu juga dirancang Eco Airport dengan konsep go green.

Di Bali, percepatan pembangunan bandara di Buleleng, terus dimatangkan. Peletakan batu pertama North Bali International Airport (NBIA) atau yang dikenal dengan Bandara Internasional Bali Utara dilaksanakan 28-29 Agustus 2017 di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, dan di Resort Sheraton, Kuta.

Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tepatnya di Desa Kertajati, tengah dibangun Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Diketahui, bandara yang memiliki luas sekitar 1.800 hektare ini bakal memiliki 2 runway.

Bandara yang dimiliki bersama pemerintah provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat ini akan digunakan pada 2018 nanti. BIJB terutama untuk memecah kesibukan penerbangan pada musim haji di Bandara Soetta, yang didominasi jamaah asal Jawa Barat.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


18 + ten =