Patung Tuban dan Moncernya Investasi Cina

Sumber: kaskus

 

Kisruh pembangunan patung raksasa setinggi 30 meter, Kwan Sing Tee Koen, di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur, semakin membesar. Banyak pihak meminta patung jenderal besar dari zaman tiga negara di daratan Cina tersebut agar segera dirobohkan. Mayoritas menganggap bahwa pembangunan patung itu telah melukai dan melecehkan masyarakat Tuban yang mayoritas Muslim.

Di sisi lain, banyak pula kalangan menilai bahwa pembangunan patung besar tokoh dari kepercayaan Konghucu ini lebih merupakan simbol dari akan masuknya investasi gigantis asal Cina di Tuban. Investasi terutama yang terkait dengan bisnis industri dasar, petrokimia, manufaktur, hingga minyak dan gas bumi.

Benarkah itu?

Sebagaimana diketahui, di era pemerintahan Presiden SBY, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, mengatakan bahwa industri pemroses minyak terbesar di Asia, China Petroleum and Chemical Corporation atau Sinopec, berencana menanamkan modal di sektor kilang minyak di Indonesia. Mereka akan membangun kilang minyak berkapasitas 200 ribu barel per hari dengan pasokan berasal dari Exxon dan Santos.

Namun, akhirnya, pada awal 2017 ini Pertamina memutuskan bahwa investor kilang minyak di Tuban adalah Rosneft Oil dari Rusia dengan perkiraan nilai proyek mencapai US$ 13 miliar. Akankah Sinopec menggantikan Rosneft? Belum ada kepastian karena walaupun baik Pertamina maupun Rosneft dikabarkan telah menyetor uang panjar senilai US$200 juta, kelanjutan proyek tersebut tak terdengar lagi kabar beritanya.

Untuk mengandalkan keuangan internal Pertamina sekarang ini jelas tak mungkin. Walaupun menjadi penyetor deviden terbesar negara, arus kas Pertamina tak begitu lancar, terutama terkait dengan kebijakan ekspansi luar negeri dan masih “nyangkutnya” piutang subsidi pemerintah senilai Rp 38 triliun.

Proyek kilang Tuban bukan merupakan satu-satunya proyek yang ditawarkan kepada Rosneft. Proyek lain adalah kilang Bontang, yang ternyata berbiaya lebih murah US$ 3 miliar dari proyek kilang Tuban. Penyebabnya, proyek pengembangan kilang Bontang telah memiliki fasilitas yang dibutuhkan sehingga tinggal ditingkatkan saja kapasitas maupun daya dukung infrastrukturnya.

Apakah berdirinya patung jenderal tersebut jadi penanda akan masuknya investasi besar-besaran dari Cina di Tuban, terutama melalui proyek kilang minyak? Tak ada yang mengetahui secara pasti.

Namun, melalui media-media luar negeri terungkap bahwa saat ini kondisi keuangan Rosneft juga dalam keadaan tak begitu sehat, ditandai dengan laporan keuangan kuartalan yang menunjukkan nilai pendapatan bersih perusahaan minyak dan gas Rusia itu lebih rendah dari ekspektasi para analis. Beda nilainya pun lumayan, yakni 13 miliar rubel versus 22 miliar rubel yang diharapkan para analis. Padahal harga minyak Rusia sedang tinggi-tingginya, yakni kenaikan 28% secara tahunan.

http://www.reuters.com/article/us-rosneft-oil-results-idUSKBN1810TM

Tak hanya dari sisi pendapatan bersih. Kondisi guncang keuangan Rosneft juga bermuara pada perseteruan perusahaan tersebut dengan pemerintah Venezuela terkait kerja sama 40% saham proyek minyak di salah satu sumur minyak terbesar Venezuela yang dianggap ilegal. Tak ketinggalan. Rosneft juga teridentifikasi sedang melakukan proses pembelian Essar Oil dari India dengan nilai triliunan rupiah.

Jadi boleh dibilang, tak salah bila banyak kalangan yang menilai bahwa proyek Tuban saat ini bukan lagi menjadi prioritas bagi Rosneft karena jelas tingkat konsumsi minyak Indonesia dengan India sangat jauh berbeda.

Lalu, apa bukti bahwa investor Cina akan masuk menggantikan Rosneft di Tuban? Belum ada bukti memang. Yang pasti, di sektor energi, terutama migas, sejumlah perusahaan Cina selama ini telah menanamkan investasi di beberapa wilayah di Indonesia, antara lain pengembangan dan eksplorasi ladang gas alam cair di Tangguh, Papua, yang dikelola oleh CNOOC. PetroChina telah berinvestasi dan mengembangkan ladang minyak di Jabung dan Bangko (Jambi), Salawati (Papua), dan Tuban (Jawa Timur).

Sementara itu, Sinopec terkenal dengan kiprah investasinya di bidang energi terbarukan dan infrastruktur kilang pengolahan minyak. Untuk energi terbarukan, Sinopec membangun pabrik pohon jarak dan kelapa sawit di Papua dan Kalimantan Timur.

Terkait dengan pembangunan patung raksasa Kwan Sing Tee Koen yang bernama asli Guan Yunchang atau Kwan Yintiang, kaum Konghucu Indonesia telah memberikan bantahan bahwa proyek itu dikerjakan atas inisiatif umat secara swadaya. Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (gemaku.org), Kris Tan, kepada media mengatakan bahwa pembangunan patung Guan Yu merupakan sikap yang tidak peka terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.

Kris menegaskan, dalam tradisi ajaran leluhur Tionghoa sama sekali tidak dikenal doktrin membangun ikon patung yang megah dan absurd, bahkan menuju pada praktik-praktik menduakan Tuhan Yang Maha Esa. Menurut dia, dalam tradisi Konghucu, yang menjadi substansi religiositas dan spiritualitas seseorang bukan pada penyembahan terhadap benda-benda mati, melainkan harus diejawantahkan dalam mencontoh perilaku dan meneladani sikap yang ditunjukkan oleh tokoh yang dijunjung dan dihormati, seperti Guan Yu tersebut.

Oleh karena itu Generasi Muda Konghucu Indonesia mengimbau kepada seluruh etnis Tionghoa Indonesia untuk selalu meneladani sikap Kwan Sing Tee Koen dengan sikap terpuji dan rasional dengan teladan prilaku, bukan justru menyembah patung dan menduakan Sang Pencipta.

https://www.merdeka.com/peristiwa/umat-khonghucu-protes-keras-keberadaan-patung-guan-yu-di-tuban.html?utm_source=Detail%20Page&utm_medium=Berita%20Terkait&utm_campaign=Mdk-

Sebagaimana diketahui, setelah ramai diperbincangkan banyak pihak dan menjadi polemik, patung Guan Yu akhirnya ditutup kain putih.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1 + 6 =