Perang Terbuka Rizal Ramli dan Partai Nasdem

Sumber: Riaumandiri

 

Dalam sebuah acara perbincangan ekonomi di sebuah televisi swasta, tudingan mantan Menko Perekonomian, Rizal Ramli, menuai polemik. Ia tanpa tedeng aling-aling menunjuk salah satu menteri menjadi penyebab anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rizal Ramli menuding kebijakan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, yang tak bijaksana telah membuat tidak seimbangnya ekspor dan impor. Impor lebih besar ketimbang ekspor.

Menurut Rizal, Enggar menambahkan impor garam 1,5 juta ton, impor gula 2 juta ton, impor beras 1 juta ton. Kebijakan itu membuat petani di dalam negeri menjerit, terutama petani garam. Enggar, menurut Rizal, begitu leluasa mengatur kebijakannya karena mendapat sokongan politik dari Surya Paloh.

“Saya katakan, ‘Pak Jokowi, panggil saya saja, biar saya yang tekan Surya Paloh karena ini brengsek, impor naik tinggi sekali, petani itu dirugikan, petambak dirugikan, akibatnya elektabilitas Pak Jokowi juga merosot digerogoti,” seru Rizal.

Pada acara yang sama, penyampaian Rizal senada dengan pendapat ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri. Mantan komisaris sebuah BUMN itu menuding kebijakan Mendag Enggar menyebabkan impor yang masuk ke Indonesia saat ini sangat tinggi.

Faisal mencontohkan, sejak Januari hingga Juli 2018, impor ban melonjak mencapai lebih dari 100% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Semua itu dipicu kebijakan Mendag yang memutuskan untuk tidak perlu lagi rekomendasi dari Kementerian Perindustrian untuk bisa impor ban.

Sontak polemik yang beredar di ruang publik tersebut mendapatkan reaksi keras dari Partai Nasional Demokrat, alias Nasdem, yang dipimpin Surya Paloh. Adalah Ketua DPP Partai Nasdem Bidang Otonomi Daerah sekaligus Komandan Strategis, Syahrul Yasin Limpo, menyatakan bahwa Nasdem mendesak Rizal mengklarifikasi ucapannya yang dinilai tak sopan dan mendiskreditkan sang ketua umum dan Presiden Jokowi.

Syahrul mengatakan, pernyataan yang berisi tuduhan bahwa Surya Paloh menekan Presiden Jokowi terkait kebijakan ekonomi, ekspor, dan impor adalah fitnah yang keji. Tudingan itu telah menyebabkan pembunuhan karakter pada diri Surya di masyarakat karena telah dikutip oleh berbagai media.

Selain itu, Syahrul mengklaim Surya Paloh tak pernah turut campur dengan kebijakan impor yang dilakukan pemerintah, apalagi ikut mengatur ataupun mengambil keuntungan baik dalam kapasitasnya sebagai ketum Nasdem maupun secara pribadi. Surya Paloh disebut tidak memiliki bisnis terkait impor beras, impor gula, impor garam seperti yang dikesankan dalam pernyataan Rizal.

“Ketua Umum Surya Paloh juga tidak pernah bermasalah jika menteri yang berasal dari Partai Nasdem tidak becus kinerjanya dan oleh karenanya harus di-reshuffle,” kata Syahrul.

Selama terjadinya reshuffle kabinet, Syahrul menyebut sudah beberapa kali menteri dari Nasdem diganti, dan pergantian itu tidak menjadi masalah bagi partainya.

Dia menyatakan, kebijakan impor yang diputuskan pemerintah selalu memiliki dasar dan alasan yang kuat berdasarkan data dan situasi pasar. Penetapan dilakukan atas kesepakatan lintas kementerian yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Ditambahkan, Nasdem tak bisa menebak maksud pernyataan Rizal dan menyayangkan kritikan vulgar yang disebutnya tak berbasis data tersebut.

Tim Advokasi Partai Nasdem memastikan akan melayangkan somasi terhadap Rizal, Rabu (12/9/2018). Somasi terkait pernyataan Rizal yang menuding Surya Paloh telah menekan Presiden Jokowi agar tak menegur Mendag Enggartiasto terkait impor.

Dalam somasinya, Nasdem menunggu pertanggungjawaban Rizal berupa permintaan maaf dan menarik ucapannya. Jika tak dipenuhi dalam tempo 3×24 jam, Nasdem akan melakukan proses hukum lebih lanjut.

Jika menelisik ke belakang, perseteruan antara Rizal dan Enggartiasto tidak berlangsung kali ini saja. Mendag sudah pernah menjawab tudingan Rizal yang menyebut bahwa kebijakan impor selama ini menguntungkan golongan pihak tertentu. Menurut dia, penerbitan Surat Persetujuan Impor (SPI) dilakukan setelah ada rekomendasi dari kementerian terkait.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor nonmigas Indonesia pada 2017 tercatat US$ 132,61 miliar. Angka ini meningkat 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu US$ 116,91 miliar.

Tercatat lonjakan terbesar terjadi pada Juli 2018 mencapai US$ 18,27 miliar atau naik 62,17% dibandingkan dengan Juni 2018. Demikian pula jika dibandingkan Juli 2017 impor meningkat 31,56%. Kenaikan ini salah satu yang tertinggi. Peningkatan impor nonmigas terbesar Juli 2018 dibandingkan Juni 2018 adalah golongan mesin dan pesawat mekanik hingga 71,95%, sedangkan penurunan terbesar adalah golongan gula dan kembang gula 20%.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Juli 2018 ditempati Cina dengan nilai US$ 24,83 miliar, Jepang US$ 10,45 miliar, dan Thailand US$ 6,34 miliar. Impor nonmigas dari ASEAN naik sebesar 20,55%, sedangkan dari Uni Eropa naik 9,27 persen.

Kondisi ini telah menyebabkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang Juli 2018 mengalami defisit sebesar US$ 2,03 miliar. Padahal neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 1,74 miliar pada Juni 2018. Hal ini berarti kenaikan impor hampir mencapai US$ 4 miliar, hanya dalam waktu satu bulan!

Juga tak heran jika kemudian rilis neraca dagang Indonesia pada semester I/2018 juga mengalami defisit sebesar US$ 1,02 miliar. Rapor merah neraca dagang tersebut merupakan yang pertama jika dibandingkan dengan perolehan neraca perdagangan Indonesia pada semester awal 2015-2017 yang terus mengalami surplus.

Menurut catatan BPS, pada semester I/2015 neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$ 7,67 miliar. Kemudian semester I/2016 dengan raihan surplus US$ 9,53 miliar serta semester I tahun lalu dengan realisasi surplus yang lebih tinggi, yakni sebesar US$ 11,84 miliar.

Apakah data tersebut kian menunjukkan kebenaran berada pada pihak Rizal Ramli? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, publik kadung mengetahui bahwa Rizal Ramli menjadi salah satu mantan menteri yang di-reshuffle oleh Jokowi. Ia juga pernah mendeklarasikan diri sebagai salah satu calon presiden 2019.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


seventeen − 7 =