Sirine Ekonomi Indonesia Berbunyi Nyaring

Sumber: internet

 

Bulan Juni hingga awal Juli 2018 bisa dibilang masa paling berat bagi nilai tukar rupiah. Ramalan tentang tembusnya level psikologis Rp 14.400 sudah terjadi. Proyeksi pun kian seram: mata uang garuda diperkirakan akan terus merosot hingga melewati Rp 14.500. Di pasar spot, level ini telah ditembus melalui tarif jual Bank BNI yang memasang angka Rp 14.540, Selasa (3/7/2018) kemarin.

Kekhawatiran yang semakin besar mengenai arus keluar modal yang memengaruhi ekonomi Indonesia dapat semakin memperburuk keadaan rupiah. Di sisi lain, fundamental ekonomi Indonesia pun cukup tergoyang dengan keadaan ini.

Tercatat neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2018 defisit hingga mencapai besaran US$ 1,52 miliar. Padahal, bulan sebelumnya juga mengalami defisit sebesar US$ 1,63 miliar. Sebelumnya, berturut-turut neraca perdagangan Indonesia dari Desember 2017 hingga Februari 2018 juga mengalami kondisi minus.

Inilah mengapa banyak analis pasar keuangan memproyeksikan, bila situasi negatif ini berlanjut hingga Juli, mata uang pasar negara berkembang dapat semakin terpukul, termasuk rupiah. Yang menarik, beberapa bulan lalu Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, mengatakan bahwa permodalan perbankan masih aman meski kurs rupiah menembus level Rp 20.000 per dolar AS.

Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (30/4), Wimboh menyebutkan, OJK telah melakukan stressed test berupa simulasi yang menguji ketahanan permodalan perbankan bila kurs rupiah terus melemah bahkan ke level Rp 20.000 per dolar AS. Hasil dari pengujian itu, menurut Wimboh, permodalan perbankan masih aman dalam nilai kurs tersebut. Pada forum yang sama, Ketua KSSK yang juga Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, langsung menepis bukan berarti kondisi kurs tersebut yang diharapkan meski hasil simulasi aman.

Alih-alih memberikan rasa aman, kenyataannya nilai tukar rupiah terkini masih jauh dari kata stabil dan terkendali. Akankah rupiah mencapai nilai Rp 20.000? Tak ada yang tahu secara pasti. Namun, beberapa waktu lalu sebuah lembaga pemeringkat kredit pernah mengeluarkan pernyataan bahwa rupiah sangat potensial untuk mencapai Rp 15.000.

Sebuah proyeksi yang lama kelamaan mendekati kenyataan. Apa buktinya? Selain defisit neraca perdagangan, tekanan yang datang dari pasar obligasi negara pun memperlihatkan tanda-tanda tersebut.

Adalah posisi Credit Default Swap (CDS) Indonesia, khususnya tenor lima tahun, tercatat mengalami tren kenaikan. Seperti dilaporkan media Kontan dengan mengutip Bloomberg pada Kamis (28/6), CDS Indonesia tenor lima tahun menyentuh rekor tertinggi tahun ini di level 143,92 atau melonjak 3,8% dari perdagangan Rabu (27/6) yang berada di level 138,61. Sebelumnya, Moody’s Investor Service merilis riset yang menyatakan bahwa seiring penguatan dolar AS, risiko kredit di negara-negara emerging market yang mengandalkan pendanaan luar negeri cenderung meningkat.

Ternyata Indonesia tidak sendirian. CDS dari negara-negara yang peringkat utangnya mirip Indonesia, seperti India dan Filipina, juga mengalami kenaikan. CDS India tenor 5 tahun hari ini telah berada di level 91,10, yang merupakan level tertinggi pada 2018. CDS Filipina di tenor yang sama juga merangkak naik ke level 95,34 atau mendekati rekor tertinggi tahun ini di level 95,70 yang tercipta 19 Juni silam.

Yang menarik, dengan kedua negara ini Indonesia juga punya hubungan dagang erat, terutama melalui perdagangan komoditas batu bara. India adala salah satu negara pengimpor batu bara Indonesia terbesar, dengan perbedaan volume yang kian menipis dengan Cina. Dengan Filipina, seiring meningkatnya biaya listrik domestik negara itu, permintaan listrik berbasis batu bara nan murah kian meningkat.

Tak ayal, situasi ini akhirnya melambungkan impor batu bara Filipina, terutama dari Indonesia sebagai tetangga. Karena itu, jika sampai ekonomi kedua negara itu mengalami kemunduran, efeknya akan memukul ekspor batu bara Indonesia yang sampai sekarang masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Mimpi buruk yang tertransfer ke perdagangan komoditas rupanya tak hanya berhenti di level CDS yang kian terbang. Tak dinyana, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun juga terus naik hingga ke level 7,81% hari ini. Beberapa pengamat dan ekonomi menilai kenaikan yield SUN Indonesia sudah tidak wajar karena inflasi sendiri cenderung rendah sepanjang tahun ini.

Bila dibandingkan dengan yield US Treasury tenor 10 tahun masih di berada di posisi yang stabil di level 2,83%, spread di antara keduanya terbilang sudah terlalu besar. Dan kondisi ini jelas tak sehat bagi ekonomi Indonesia.

Menyikapi kondisi terkini, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan bahwa BI terus memantau pergerakan kurs rupiah. Jika dibutuhkan, BI akan melakukan intervensi pasar. “Kami terus melakukan upaya stabilisasi nilai tukar,” ujar Perry dalam pertemuan dengan media di Kantor BI, Jakarta, Selasa (3/7).

Tak menyebut angka, Perry menyebut, BI selalu hadir di pasar dengan melakukan intervensi valas. BI juga terus masuk ke pasar dengan memborong surat utang negara (SUN). Otoritas moneter tertinggi itupun meminta supaya publik Tanah Air tetap tenang dan tidak panik karena depresiasi rupiah diklaim masih bisa dikendalikan oleh BI.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, menambahkan bahwa jika dihitung sejak awal tahun hingga 29 Juni, pelemahan rupiah terhadap dolar AS mencapai 5,6%. Negara lain seperti India melemah 7,31%, Filipina 6,83%, Turki 20,93%.

“Mayoritas pelemahan nilai tukar terjadi di negara-negara dengan current account deficit,” kata Mirza. Bahkan ada klaim, Thailand yang memiliki current accountpositif pun belakangan juga ikut terpapar dengan pelemahan terhadap dolar AS 1,72%.

Jika dibilang panik, mungkin publik Indonesia telah banyak belajar dari berbagai turbulensi keuangan yang pernah melanda negeri ini. Namun, jika dibilang kondisi terkini tak memengaruhi, jelas itu tak mungkin.

Tengok saja keputusan pemerintah memotong proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional. Bila sebelumnya optimis dengan angka pertumbuhan 5,6%, belum lama ini pemerintah mengumumkan memotong target pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 5,2-5,4% saja.

Apakah semata karena kondisi rupiah? Berdasarkan pernyataan resmi pihak terkait, faktor eksternal menjadi sumber terbesar terpangkasnya ramalan pertumbuhan ekonomi tersebut. Tak hanya dari kenaikan suku bunga dolar AS, kabar tidak enak dari Negeri Tirai Bambu pun berpotensi menjadi salah satu penyebab.

Baru-baru ini, media Bloomberg menyebutkan bahwa rekor gagal bayar obligasi China akan pecah tahun ini. Sejauh ini, nilai default obligasi korporasi Cina sudah lebih dari tiga perempat rekor sebelumnya pada 2016.

Tercatat, perusahaan Cina telah membukukan gagal bayar obligasi senilai 16,5 miliar yuan atau setara US$ 2,5 miliar tahun ini. Jumlah ini nyaris menyamai rekor default obligasi Cina pada 2016 yang sebanyak 20,7 miliar yuan.

Gagal bayar obligasi korporasi Cina masih bisa membesar lagi mengingat ekonominya tengah melambat. Apalagi, kalau pemeringkat kredit memangkas peringkat perusahaan Cina akibat margin yang menurun.

Sepanjang tahun ini setidaknya 20 obligasi domestik yang gagal bayar. Dagong telah melaporkan 13 penurunan peringkat kredit dibandingkan dengan 10 upgrade peringkat di sepanjang tahun ini. Tren serupa juga terjadi dalam pemeringkatan kredit dari China Chengxin International Credit Rating Co. dan China Lianhe Credit Rating Co.

Sebagaimana diketahui, Cina adalah salah satu partner utama Indonesia, terutama sebagai pemberi pinjaman bank terbesar bagi BUMN dan swasta nasonal. Tak ketinggalan, Cina juga merupakan pembeli ekspor batu bara terbesar Indonesia. Jika negeri itu kolaps, hantaman keras juga akan menimpa ekonomi nasional.

Inilah mengapa, tak berlebihan bila sebagian pengamat mengatakan bahwa sirine ekonomi Indonesia kini tengah berbunyi keras. Akankah Indonesia bisa melaluinya dengan selamat? Hanya waktu yang bisa membuktikan.

Gustav Perdana

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


two × 3 =