Pilkada Tak Mampu Putus Dinasti Soekarno?

Foto: Farid/ngopibareng.id

 

Gonjang ganjing pilkada Jawa Timur belum juga mereda. Setelah Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, mundur dari pencalonan sebagai wakil gubernur, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) resmi mengusung Puti Guntur Soekarno.

Langkah ini menuai keheranan publik. Bukan apa-apa, Puti dikenal sebagai salah satu anggota dewan yang mewakili daerah di Jawa Barat. Tepatnya di sekitaran Kabupaten Ciamis, Banjar, Pangandaran, hingga Kuningan. Dalam suatu kesempatan Puti mengaku sebagai orang Sunda karena ibundanya, Henny Guntur, adalah wanita kelahiran Ciamis.

Banyak pihak menilai langkah yang dilakukan PDIP adalah terobosan berani lagi cerdas, di tengah serangan balik lawan politik yang memberikan pukulan telak. Puti tentu berhak mewakili trah Soekarno, dan dipastikan akan berpeluang besar menuai dukungan di daerah-daerah di mana nama Soekarno masih begitu berkumandang harum.

Paling kentara tentu di daerah kelahiran Sang Proklamator di Blitar dan kabupaten di sekitarnya. Puti dianggap mampu memberikan perlawanan ke basis massa perempuan Khofifah Indar Parawansa. Walaupun Khofifah dikenal sebagai Ketua Umum Muslimat NU, dengan pengaruh struktural NU yang begitu terkonsentrasi di PKB dan PPP, ada peluang bagi PDIP melalui Puti untuk mencuri sebagian suara pemilih perempuan.

Puti bagai kartu truf terakhir untuk memenangi pertandingan. Sebelumnya tak terdengar gaungnya di antara beberapa nama yang dijagokan akan mendampingi Gus Ipul, panggilan Syaifullah Yusuf. Nama-nama yang muncul malah Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini; Bupati Ponorogo, Ipong Muchlisoni; Bupati Ngawi, Budi Sulistyono; serta Ahmad Basarah, Said Abdullah, dan Bambang Dwi Hartono. Empat nama terakhir adalah kader PDIP.

Ketua Bappilu PDIP, Bambang Dwi Hartono, meyakinkan bahwa nama besar Soekarno masih mampu mengatrol suara dukungan. Kepada media ia mencontohkan ketika Guruh Soekarnoputra mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI di Dapil Jatim 1. Terbukti nama besar Soekarno langsung membuat dukungan bagi Guruh membludak.

Sementara itu, Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, enggan menanggapi bahwa trah Soekarno menjadi alasan mengusung Puti. Menurut dia, nama Puti baru muncul dalam penggodokan tadi malam. Dia berdalih Puti masuk penjaringan karena saran para kiai di Jatim.

Banyak kalangan pengamat politik Indonesia menganggap langkah darurat yang diambil PDIP adalah sangat wajar. Permasalahannya, walaupun punya perolehan suara besar, PDIP bukanlah yang terbanyak mendulang kursi di wilayah Jatim.

Berdasarkan hasil pileg 2014, PKB menjadi pemilik kursi terbanyak di DPRD Jatim dengan 20 kursi, diikuti PDIP, 19 kursi. Gerindra dan Demokrat masing-masing punya 13 kursi. Partai Golkar memperoleh 11 kursi, PAN 7 kursi, dan PKS 6 kursi. Sisa kursi diduduki PPP dengan 5 kursi, Nasdem 4 kursi, dan Hanura 2 kursi. Jelas penggabungan dua kekuatan politik besar berdasarkan jumlah kursi di DPRD Jatim akan punya potensi kemenangan yang lebih besar.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Centre (SSC) di 38 kabupaten/kota di Jatim, pasangan Gus Ipul dan Puti berpeluang menang di Pantura. Hasil itu berdasar survei terdahulu yang menunjukkan pasangan Gus Ipul-Anas unggul di wilayah Arek dan Pantura. Arek meliputi Surabaya, Sidoarjo dan Malang, sedangkan kawasan Pantura meliputi Gresik, Lamongan, Tuban.

Direktur SSC, Mochtar W. Oetomo, berkata bahwa pasangan Gus Ipul-Anas cenderung mendominasi wilayah perkotaan. Sebab, kata dia, kawasan Arek dan Pantura kultur masyarakatnya lebih pada perkotaan.

Pasangan Khofifah-Emil Dardak diperkirakan akan unggul di wilayah Madura dengan dukungan 35 persen, sedangkan Gus Ipul-Anas 31,3 persen. Khofifah-Emil kembali mendulang suara di wilayah Mataraman dengan 38 persen, Gus Ipul-Anas hanya mendapat 31,6 persen.

Dalam survei tersebut, terlihat bahwa pasangan Gus Ipul-Puti harus lebih bergerilya untuk menggaet dukungan, terutama di wilayah Pandalungan (Tapal Kuda) yang merupakan basis massa PKB-PDIP. Walaupun menjadi basis massa, perolehan di sana cenderung berimbang. Begitu kira-kira hasil survei yang disampaikan.

Tak hanya di wilayah Pandulangan, pasangan Gus Ipul-Anas juga kalah di wilayah Mataraman, yang notabene merupakan kantong suara PDIP. Kekalahan dukungan di wilayah Mataraman masih bisa dimaklumi karena Emil Dardak merupakan Bupati Trenggalek.

Dalam pilgub 2014, wilayah Pandalungan menjadi basis suara Khofifah yang saat itu diusung PKB secara penuh. Dukungan masyarakat setempat terhadap Khofifah masih kuat. Buktinya, hasil survei menunjukkan Khofifah-Emil unggul atas pasangan Gus Ipul-Anas.

Data tersebut diperoleh melalui survei yang dilakukan oleh Surabaya Survey Center (SSC) di 38 kota/kabupaten di Jatim pada kurun waktu 25 November-8 Desember 2017. Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan 940 responden. Tingkat kepercayaan dari hasil tersebut sebesar 95 persen dengan margin of error 3,2 persen.

Darah Biru

Penunjukan Puti memang sangat mengejutkan. Dia didapuk menjadi andalan PDIP dan PKB setelah Azwar Anas mengundurkan diri. Padahal, sebelumnya nama Puti lebih santer diisukan maju di pilgub Jabar.

Wakil Sekjen DPP PDIP, Ahmad Basarah, mengaku mendapat tugas khusus dari Megawati Soekarnoputri. Dia diminta untuk mengawal pasangan Gus Ipul-Puti. Yang menarik, Basarah telah menunjukkan strategi branding pasangan tersebut.

Menurutnya, dengan menyatukan Gus Ipul dan Puti, masyarakat Jatim menunjukkan penghormatan bagi dua tokoh pendiri NKRI, yaitu KH Hasyim Asy’ari (tokoh pendiri NU) dan Bung Karno. Basarah menyebut Gus Ipul adalah cicit Mbah Hasyim. Berdasarkan nasabnya, Gus Ipul juga cucu KH Bisri Syansuri, yang merupakan besan dari Mbah Hasyim.

Puti adalah cucu pertama Bung Karno. Pemilik nama lengkap Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri ini sebelumnya digadang-gadang akan maju di pilgub Jabar 2018. Apalagi kepada media kala itu, Puti mengaku masih keturunan kerajaan di tatar Sunda, yakni Kerajaan Galuh.

Dengan berbekal darah biru tanah Pasundan itulah, Puti berani mengklaim bahwa darah Sunda mengalir kental di darahnya. Bermodalkan hal ini, Puti diantar Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, memberanikan diri mengambil formulir pendaftaran bakal calon gubernur/wakil gubernur di DPD PDIP Jabar, 6 Juni 2017. Dia mendaftar bertepatan dengan tanggal kelahiran kakeknya, Soekarno.

Inilah mengapa, pencalonan Puti menjadi pukulan balik yang lumayan telak bagi para lawan politik PDIP. Tak ada yang menyangka bahwa peserta yang telah mengambil formulir pendaftaran, pada akhirnya ikut kontestasi di wilayah lain. Sebuah taktik yang luar biasa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


11 − 10 =