5 Kota Paling Ramah Lingkungan di Dunia

Foto: Flickr/DavidStanley

 

TINGGAL di kota yang bebas dari polusi adalah impian masyarakat dunia. Sejumlah warga di beberapa kota yang ada di berbagai belahan dunia cukup beruntung karena pemerintahnya menempatkan kelestarian lingkungan yang perhatian utama. Berikut ini adalah kota-kota di dunia yang dinobatkan sebagai kota paling ramah lingkungan dan patut dicontoh, seperti dilansir BBC.

1. Vancouver, British Columbia

https://momentummag.com/wp-content/uploads/2016/02/5862685992_ec62a2c626_b.jpg

Foto: MomentumMag/PaulKrueger

Dengan terus mengampanyekan green energy dan penggunaan hydropower, kota ini memiliki skor yang baik dalam hal emisi CO2 dan kualitas udara. Vancouver juga berjanji akan mengurangi emisi sebanyak 33% di tahun 2020. Bagi seorang pemilik blog Green Briefs, Lorne Craig, Vancouver telah menjadi tuan rumah budaya green counter sejak tahun 1960-an, dan dikenal sebagai pelopor Greenpeace. “Dengan menara gunung di atas kota mengingatkan bahwa, kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dan cantik,” tuturnya.

Saat kota-kota lain tengah mementingkan pembangungan jalan raya, Vancouver tetap fokus pada kehidupan kotanya. Misalnya pengembangan Pulau Granville yakni pulau yang ramah pejalan kaki, dimana masyarakat bisa menikmati pasar umum dan studio seni. Lingkungan lain pun dibuat seramah mungkin, misalnya pembuatan rute khusus sepeda di perkotaan. Pengendara sepeda dimudahkan dengan adanya rute tersebut, terutama West 10th.

 

2. Curitiba, Brazil

https://dgunderblog.files.wordpress.com/2015/08/trinary-road-spine.jpg

Foto: via Urbanizehub

Kota yang terletak di selatan Brazil ini berhasil membangun sistem transportasi dan transit yang cepat pada 1960. Mereka juga telah mengembangkan program daur ulang terkemuka di dunia tahun 1980. Tidak hanya itu, Curitiba juga berhasil meraih skor green ranking tertinggi pada South American Index. Masyarakat Brazil Selatan terus mengembangkan pikiran yang berbasis lingkungan. Penggunaan transportasi publik ternyata bisa meningkatkan kualitas udara.

Saat ini Curitiba tengah merencanakan pembangunan sistem metro dan 300 km jalur tambahan untuk sepeda. Sama halnya dengan wilayah Merces yang kini telah memiliki pasar yang nyaman, transportasi umum yang layak dan taman luas di sekitarnya. Para petani pun menjajakan produknya ke sekitaran kota, agar masyarakat dapat merasakan produk lokal.

 

3. Copenhagen, Denmark

http://sourcethestation.com/wp-content/uploads/2012/11/copenhagen_stroget_01.jpg

Foto: via Sourcethestation

Di kota ini, hampir semua tempat tinggal penduduknya berjarak 350m dari transportasi umum. Adapun 50 % lebih dari mereka rutin menggunakan sepeda untuk bepergian. Alhasil Copenhagen miliki emisi CO2 yang sangat rendah untuk kota seukurannya, sehingga Oslo dan Stockholm pun tertinggal jauh.

Masyarakat di Copenhagen rela merogoh kocek yang banyak demi ‘Den Gronne Sti’ jalur hijau, suatu area sepanjang 9 km khusus untuk pejalan kaki dan pesepeda agar dapat mencapai kota dengan cepat dan mudah. Jalur itu bukan hanya hamparan jalan aspal saja, namun di kiri kanannya ada taman, sehingga tidak membosankan. Selain suka bersepeda, warga Copenhagen juga gemar mendaur ulang dan melakukan pengomposan untuk menghemat gas dan listrik.

 

4. San Fransico, California 

http://sfcitizen.com/blog/wp-content/uploads/2009/06/img_6181-copy.jpg

Foto: via SFCitizen

San Fransisco dinobatkan sebagai kota terhijau di Amerika Utara. Kesadaran lingkungan di kota ini telah dimulai sejak abad ke-19, dipelopori oleh Sierra Club. Pemerintah kota memberlakukan aturan untuk memisahkan bahan daur ulang dan kompos dari sampah reguler, sehingga angka tingkat daur ulang di kota itu sebesar 77%, salah satu yang tertinggi di dunia.

Masyarakatnya juga mendukung, misalnya dalam makanan. Mereka membeli produk lokal karena peduli terhadapat apa yang dikonsumsi. Maka dari itu, banyak wilayah yang memiliki pasar petani sendiri dengan karakter masing-masing, seperti pasar musiman di Haight-Ashbury dan Panhandle Utara.

 

5. Cape Town, Afrika Selatan

https://media1.popsugar-assets.com/files/thumbor/HUsiIDhVRYlVJ-oVhWd3jdrUAT8/fit-in/1024x1024/filters:format_auto-!!-:strip_icc-!!-/2017/11/03/039/n/43645388/3027acacd85c0b0a_17919667120_64521d4959_o/i/Cape-Town-South-Africa.jpg

Foto: Flickr/DavidStanley

Kota kedua terbesar di Afrika ini tengah menempuh langkah-langkah besar terkait lingkungan, seperti mendorong konservasi energi lebih banyak dan pembaruan sumber daya. Kota ini mulai memanfaatkan energi dari angin di ladang pada tahun 2008, dan sekarang berusaha untuk mendapatkan 10% dari pembaharuan sumber daya tersebut pada tahun 2020. Upaya ini mengubah kehidupan di kota. Menurut blogger Sarah Khan, sekarang di Cape Town telah tersedia banyak rute sepeda, pasar petani, dan para koki yang menggunakan bahan-bahan lokal dalam masakannya.

Ia percaya kota tersebut bisa lebih baik lagi dalam hal transportasi dan listrik. Menurut pelopor kampanye bersepeda, Leonie Mervis, penduduk Cape Town memiliki alam yang luar biasa. Sepeda telah diperbolehkan untuk melintasi kota. Selain itu, dengan keuletan mereka dalam memanfaatkan energi matahari dan menanam sayuran itu merupakan bentuk kesadaran terhadap lingkungan kota.

 

 

PikiranRakyat

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


three × 2 =