Deradikalisasi Teroris Indonesia

Mantan jihadis, Amir Abdillah (foto: Martin Goettske)

 

Amir Abdillah membunuh dan mencederai puluhan orang, tetapi pelaku teror yang sudah dinyatakan bebas itu berkilah bahwa dia hanya mengobarkan perang suci. Dia dan banyak rekan jihadisnya yang dibebaskan dari penjara berada di bawah bayang-bayang sorotan publik atas upaya deradikalikasi yang ditujukan kepada mereka.

Amir Abdillah memalingkan muka. Dia tidak ingin melihat foto dirinya. “Saya dulu bangga dengan apa yang saya lakukan,” kata pria berusia 41 tahun itu. Foto tersebut diambil saat Abdillah berusia 35 tahun, dan dijatuhi hukuman mati. Dia mengenakan jubah putih, kufi yang pas di kepala, dan berjenggot panjang.

Itu tampilan khas jihadist, katanya. Hari ini dia mengenakan celana jins, sweater biru, dan topi bisbol hitam. Satu-satunya yang mengingatkan pada foto adalah jenggotnya, yang sebagian telah bercampur uban. “Saya sudah menjadi orang yang berbeda sekarang,” katanya. “Saya tidak ingin lagi membunuh orang-orang Barat.”

Dia mengatakannya dengan suara datar, dan untuk beberapa saat seperti menyamarkan keseriusan dari apa yang dia ucapkan. Keinginan yang dia gambarkan –membunuh orang-orang Barat – ada dalam hatinya selama bertahun-tahun. Pada 2009, ia ambil bagian dalam serangan bom di dua hotel mewah di Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Sembilan orang tewas dan lebih dari 50 lainnya cedera.

Foto diri Abdillah telah berusia tujuh tahun. Foto itu diambil dalam persidangan pada 2010, saat dia dijatuhi hukuman delapan tahun penjara karena perannya dalam aksi teroris dan rencana membunuh presiden. Dia dijatuhi hukuman yang relatif ringan karena bersedia mengungkapkan informasi yang memungkinkan polisi untuk menangkap anggota sel teror lainnya. Dia bahkan dibebaskan sebelum waktunya – kurang dari enam tahun berada di balik jeruji besi – karena pihak berwenang menganggap dia sudah tidak radikal.

Sekarang dia berkendara di jalan-jalan yang sama di Jakarta yang dilaluinya saat dia menjadi suporter pemimpin al-Qaeda di Asia Tenggara. Yang berbeda, dia menyetir untuk Go-Car, layanan transportasi lokal seperti Uber.

“Saya masih bertemu dengan orang-orang yang menganggap saya pahlawan karena aksi tersebut,” katanya kepada saya saat mobil Toyota-nya terjebak di jalanan macet di Ibu Kota. Karpet dalam mobil putih itu bergambar Hello Kitty. Ada sebungkus tisu basah di dasbor dan seuntai tasbih tergantung di kaca tengah depan.

“Mereka masih menyambut saya. Sangat menggoda –  karena masyarakat lain membenci saya – tetapi saya langsung pergi ketika mereka mulai membicarakan tentang perang suci dan ingin menarik saya kembali.” Pihak berwenang di Indonesia mengklasifikasikan Abdillah sebagai teroris yang berhasil mengalami deradikalisasi. Namun, banyak juga yang gagal mengikuti sistem ini, di mana jumlah jihadis yang dipenjara merupakan yang terbanyak di dunia.

Di Indonesia, dalam 15 tahun terakhir, sebanyak 1.200 orang masuk penjara karena aksi terorisme dan hampir 100 di antaranya dibebaskan setiap tahunnya. Beberapa tahanan yang baru dibebaskan dari penjara, kembali melakukan aksi terorisme.

Januari tahun lalu, empat teroris yang memiliki hubungan dengan ISIS menyerang polisi yang tengah bertugas di sebuah kafe yang terletak di pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat – dua di antara pelaku baru saja dibebaskan dari penjara karena keterlibatan mereka dalam sebuah kamp pelatihan teroris. Sebelum melakukan aksi tersebut, keempatnya sempat meminta saran dari narapidana yang berpaham radikal.

Sebuah nirlaba lokal yang mendukung program deradikalisasi, Yayasan Prasasti Perdamaian, memperkirakan bahwa sebanyak 40 persen mantan narapidana militan masuk kembali ke lingkungan ekstremis begitu mereka bebas dari bui.

Brigadir Jenderal Hamidin, Kepala Program Antiradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengakui bahwa pihaknya cuma bisa menderadikalisasi dua pertiga narapidana militan, dan bahkan hanya “sampai level tertentu”. “Tidak semua yang keluar dari penjara kemudian berubah menjadi individu yang lebih baik,” katanya.

Amir Abdillah mulai tertarik dengan ide perang suci di awal abad ini. Ketika sebagian besar lapisan masyarakat mengutuk keras serangan bom Bali pada 2002 yang menewaskan 202 orang, dia justru merasa terinspirasi. Dia menonton video yang memberitakan bahwa pembunuhan itu dibenarkan, terutama jika korbannya orang-orang Amerika karena tentara mereka membunuh penduduk Muslim di Afghanistan. “Boleh membunuh orang-orang kafir,” pikir Abdillah saat itu. “Muslim sejati boleh membunuh mereka.”

Di tempat kerjanya – dia bekerja di bagian dapur sebuah hotel di Jakarta – dia berjumpa dengan beberapa orang yang memiliki pemikiran serupa. Mereka sering bertemu di musola hotel dan membahas persoalan politik dan agama. Salah satu koleganya adalah anggota kelompok militan Jemaah Islamiyah, dan pada 2007 pria tersebut memperkenalkan Abdillah dengan orang yang paling dicari di Indonesia, Noordin Mohammad Top, pria Malaysia yang merupakan pemimpin cabang al-Qaeda di Asia Tenggara dan dalang di balik beberapa serangan bom yang mematikan.

“Dia memotivasi saya. Dia mengatakan kepada saya bahwa kami sedang berperang, bahwa inilah saatnya beraksi,” kata Abdillah. Abdillah segera menjadi anggota tetap sel teroris dan ditugaskan di bagian logistik, memindahkan bahan peledak ke lokasi yang disasar dan mensurvei target bom yang mungkin terjadi. “Saya siap menjadi salah satu pelaku bom bunuh diri,” katanya.

Sel tersebut memilih dua petugas pembawa bom yang pada pagi hari tanggal 17 Juli 2009, meledakkan diri dalam tempo berbeda hanya dalam hitungan menit, satu di J.W. Marriott dan yang lainnya di Ritz-Carlton. Seorang warga negara Indonesia, seorang Selandia Baru, dua warga negara Belanda, dan tiga warga negara Australia tewas dalam serangan. “Tuhan Maha Besar,” bisik Abdillah saat berdiri di dekat lokasi kejadian. Setelah  bom meledak tersebut, ia merasa ketegangannya mereda.

“Pagi itu kami merasa gugup. Kami ingin tampil bagus dan merasa lega setelahnya. Malam harinya kami merayakan serangan itu sambil makan-makan. Saya kasihan dengan salah satu pelaku bom, Dani, tetapi bosnya mengatakan bahwa dia sudah berada di surga.”

Amir Abdillah dan sel-sel lainnya melakukan aksi bawah tanah di sebuah rumah kontrakan di pinggiran Jakarta, dan mulai merencanakan serangan berikutnya. Pemimpin mereka, Noordin Mohammad Top, telah memerintahkan aksi pembunuhan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, untuk membalas dendam karena mengizinkan eksekusi tiga militan Islam.

Rencana tersebut tidak pernah terlaksana karena polisi sudah lebih dulu menangkap Abdillah. Menurut versinya, selama beberapa bulan kemudian, dalam keadaan ditutup mata dan diborgol, polisi terus memukuli agar dia mau memberikan informasi tentang kaki tangannya.

Tak lama setelah itu Noordin M. Top dibunuh oleh polisi, bersama dengan anggota lainnya dari kelompok Amir Abdillah. Dalam persidangan, Abdillah ditanya apakah akan kembali melakukan aksi teror setelah dibebaskan. Dia menjawab: “Semua atas kehendak Allah.”

Hari ini, bagaimanapun, dia bilang dirinya sudah menjauhi jihadisme. “Saya tidak tahu apa yang bisa membuat saya ikut dalam serangan saat itu. Saya hanya yakin bahwa saya melakukan hal yang benar. Baru ketika saya melihat korban luka bakar, saya menyadari kejahatan terorisme. Korbannya ada yang hanya bekerja sebagai staf hotel, seperti saya, dan banyak lagi orang Muslim biasa. Saya menyadari efek bom, bahwa kita tidak bisa memilih korban dengan presisi.”

Program deradikalisasi pemerintah Indonesia berfokus pada agama – pemikirannya adalah bahwa umat Islam menjadi teroris karena mereka telah disesatkan oleh interpretasi dan pemahaman yang salah.

“Mereka harus memiliki pandangan lain tentang Islam. Ini adalah perjuangan ideologis yang harus kita menangkan,” kata Brigadir Jenderal Hamidin.

Dialog dengan para ulama dan psikolog dimaksudkan untuk membuat para jihadis memahami bahwa tindakan mereka salah dan tidak dapat dibenarkan oleh agama. Namun, menurut BNPT, hampir setengah dari tersangka teroris menolak berpartisipasi dalam program deradikalisasi.

Pada saat yang sama, penjara-penjara di Indonesia ditengarai menjadi tempat berkembang biaknya paham ekstremis dan teror. Sebuah survei baru-baru ini oleh Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), sebuah think tank di Jakarta, menunjukkan bahwa kapasitas penjara yang penuh sesak, kurangnya penjaga, dan tingkat korupsi yang tinggi telah mempermudah ekstremis merekrut pejuang jihad, terutama dari kalangan narapidana muda.

Menurut IPAC, setidaknya 18 mantan narapidana terlibat dalam aksi teror di Indonesia sejak 2010, sebagian besar berubah menjadi radikal di dalam penjara.

Hamidin mengakui bahwa upaya antiradikalisasi juga terhambat oleh kenyataan bahwa pihak berwenang tidak memiliki program formal untuk mengawasi para pelaku teror setelah dibebaskan atau untuk membantu mereka memulai kehidupan baru jauh dari pengaruh ekstremis – misalnya melalui bantuan keuangan.

Usaha itu hampir seluruhnya dipikul oleh organisasi nonpemerintah. “Sulit bagi para jihadis untuk kembali ke tengah masyarakat yang sudah menganggap mereka sebagai monster,” kata Dete Aliah, dari Yayasan Prasasti Perdamaian, yang menawarkan pelatihan kerja dengan pinjaman kecil. “Jika mereka tidak mendapat dukungan, ada risiko yang jauh lebih tinggi sehingga mereka tersedot kembali ke jaringan teroris di mana mereka merasa diterima dan punya komunitas.”

Kembali ke jalanan di Jakarta, Amir Abdillah tiba-tiba menepi di pinggir jalan dan menghentikan mobilnya. Saatnya untuk sholat zuhur dan dia berjalan ke masjid terdekat. Saat kembali ke mobil dengan wajah baru dibasuh dan rambut basah yang sudah disisir, dia bilang dirinya sungguh beruntung. Keluarganya membantu dia, baik secara finansial maupun psikologis.

“Tanpa dukungan dari keluarga, saya tidak akan berhasil,” katanya. “Saya sudah pernah bertemu teman lama yang masih merasa takut dengan saya. Saya mengerti mereka.”

Abdillah telah diundang beberapa kali untuk berbicara dengan kelompok pemuda radikal tentang pengalamannya sebagai bagian dari upaya pencegahan. “Tetapi, saya tidak bisa berbuat banyak,” katanya. “Lagipula, anak-anak muda selalu ingin menjadi pahlawan.”

 

Penulis :

   Martin Goettske  –  Jurnalis Denmark, tinggal di Beijing 

 

 

Diterjemahkan dari The Saturday Paper, 13 Mei 2017

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


5 × 2 =