Di Balik Rencana Gasifikasi Batubara

Foto: PTBukitAsam

 

Aksi keroyokan dihelat oleh tiga badan usaha milik negara (BUMN) bersama mitra swasta mereka. Ketiganya adalah PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Pertamina (Persero), dan PT Pupuk Indonesia (Persero), serta perusahaan swasta, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Jumat (8/12/2017), keempat perusahaan tersebut sepakatmenandatangani perjanjian kerja sama (head of agreement) hilirisasi batubara.

Melalui kerja sama ini, batubara yang diproduksi Bukit Asam akan diubah melalui teknologi gasifikasi menjadi produk akhir yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Teknologi gasifikasi memungkinkan konversi batubara muda menjadi syngas. Syngas merupakan bahan baku Dimethyl Ether (DME) yang bisa diolah menjadi bahan bakar, urea sebagai bahan baku pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

Publik Indonesia pun dibuat terkejut. Bukan apa-apa, dengan tingginya harga batubara Indonesia sekarang ini, pilihan gasifikasi boleh dibilang akan menjadi pilihan terakhir. Selain investasi infrastruktur yang tak murah, ekspor batubara dengan harga acuan batubara (HBA) mencapai US$94 per MMT sekarang tentu lebih menguntungkan.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apalagi untuk menunjang kerja sama ini, mereka akan membangun pabrik pengolahan gasifikasi batubara di Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) di mulut tambang batubara, Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

BACBIE akan berada di satu lokasi yang sama dengan PLTU Mulut Tambang Sumsel 8. Yang juga menarik, mereka mengklaim bahwa pabrik pengolahan gasifikasi batubara akan mulai beroperasi pada November 2022.

Namun, kondisi terkini pasar energi nasional mengisyaratkan lain. Adalah Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, yang mengatakan bahwa proyek gasifikasi batubara dapat menjadi solusi di saat harga gas nasional masih tinggi.

Pengoperasian pabrik gasifikasi batubara akan memudahkan penyediaan bahan baku gas dengan harga yang lebih rendah bagi pengguna, termasuk industri petrokimia. Saat ini, harga gas masih berada di kisaran US$7-8 per MMBTU. Di beberapa tempat, bahkan harganya masih US$9-10 per MMBTU.

Kementerian Perindustrian bahkan sudah memperkirakan bahwa tempat yang cocok bagi investor untuk membuka pabrik gasifikasi batubara berada di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur. Tentu ini cocok dengan rencana keempat perusahaan tersebut.

Pernyataan dari pihak Kementerian Perindustrian juga diperkuat oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Pada sebuah kesempatan, Darmin mengungkapkan bahwa harga gas untuk industri masih dikeluhkan lantaran masih tinggi. Padahal, pemerintah telah menerbitkan aturan harga gas industri melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 40 Tahun 2016 tentang Harga Gas Bumi untuk industri tertentu.

Yang memprihatinkan, sampai saat ini baru beberapa perusahaan saja yang mendapatkan potongan harga gas. Mereka adalah PT Kaltim Parna Industri, PT Kaltim Methanol Industri, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang Cikampek, PT Pupuk Sriwidjaja Palembang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Petrokimia Gresik, dan PT Krakatau Steel.

Menurut Darmin, tingginya harga gas disebabkan banyak faktor. Dari biaya produksi saat sumur mulai dibor hingga biaya distribusi dari sumbernya yang kemudian diterima oleh industri. Dalam hal distribusi, Darmin menyebut banyak pihak yang terlibat. Seringkali perusahaan penjual gas yang terlibat tak diketahui sebelumnya oleh pemerintah. Keterlibatan perusahaan penjual gas itulah yang membuat harga gas yang sampai ke industri masih mahal meskipun pemerintah sudah menugaskan BUMN di sektor distribusi gas untuk menurunkan biayanya.

Mantan Dirjen Pajak ini juga pernah bercerita bahwa pemerintah membutuhkan debat panjang dalam menurunkan harga gas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, dari US$13,5 per MMBTU hanya turun menjadi US$10 per MMBTU. Berdasarkan Permen Nomor 40/2016, harga gas di wilayah tersebut seharusnya US$9 per MMBTU.

Rencana ketiga BUMN dan Chandra Asri pun kian punya peluang terwujud. Belum lama ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim telah berhasil melakukan inovasi dalam mengubah batubara menjadi gas (gasifikasi). Terobosan ini diciptakan untuk membantu industri kecil menengah (IKM) agar lebih efisien dalam penggunaan energi dan ramah lingkungan.

Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, mengatakan bahwa penerapan inovasi tersebut cocok diterapkan di IKM. Terutama IKM yang masih memakai bahan bakar dari kayu dan bahan bakar minyak (BBM) untuk produksinya. Industri ini akan lebih hemat jika menggunakan gas dari batubara.

Menurut Archandra, dengan adanya gasifikasi, batubara menjadi lebih bersih dan bisa hemat sampai 60 persen. Untuk industri kecil, hemat 60 persen itu besar. Gasifikasi batubara untuk IKM merupakan teknologi yang dikembangkan Perekayasa Yenny Sofaeti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.

Data Kementerian ESDM mencatat saat ini di Yogyakarta terdapat sekitar 100 IKM peleburan aluminium yang membutuhkan BBM cukup besar. Diperkirakan, dengan total konsumsi BBM mencapai 5.800 liter BBM bersubsidi saja per hari, dalam satu bulan penghematan bisa mencapai 84.000 liter atau 1 juta liter per tahun. Dengan harga solar yang mencapai Rp 5,100 per liter, dalam setahun bisa dilakukan penghematan sebesar Rp 5 miliar lebih!

Jika di level UKM saja pemerintah telah begitu menggebu untuk merealisasikan rencana tersebut, maka sangat besar kemungkinan itu juga akan terjadi di level yang lebih tinggi dan lebih luas cakupannya.

Turunnya Permintaan Global

Apakah faktor domestik telah bertransformasi menjadi pendorong yang begitu kuat? Siapa bilang! Bersinerginya keempat perusahaan di bisnis hilirisasi batubara ternyata tak semata karena melimpahnya produksi dalam negeri dan mahalnya harga gas untuk industri.

Secara global, diperkirakan permintaan batubara dunia akan menurun dalam lima tahun, dengan hanya tumbuh 0,5 persen atau sedikit lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan sekarang karena penurunan konsumsi Cina. Demikian Badan Energi Internasional atau IEA mengatakan dalam laporannya, seperti dikutip Reuters, Senin (18/12).

Proyeksi itu tak hanya menjatuhkan harga batubara yang kini kembali mahal. Dasarnya adalah konsumsi batubara tahun lalu anjlok sebanyak 1,9 persen menjadi 5,357 miliar ton, dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Rendahnya harga gas, kenaikan penggunaan energi terbarukan dan efisiensi, mengurangi permintaan, kata IEA dalam laporan tahunan pasar batubara.

Permintaan batubara dunia diperkirakan tumbuh rata-rata 0,5 persen setahun menjadi 5,534 miliar ton pada 2022. “Hanya naik sedikit dari tingkat permintaan saat ini dan artinya penggunaan batubara tidak akan stagnan untuk sekitar satu dekade,” kata badan tersebut.

Penggunaan batubara akan berkurang di Eropa, Kanada, Amerika dan Cina, konsumen batubara terbesar di dunia. Namun, di Asia Tenggara, India, Pakistan, dan Bangladesh, konsumsi batubara diperkirakan meningkat.

Dari sisi pasokan, total pasokan batubara dunia diperkirakan akan naik 0,8 persen setiap tahun menjadi 5,534 miliar ton pada 2020, didorong oleh produksi dari negara-negara non-OECD. Batubara diperkirakan akan menyumbang 26 persen pada bauran energi di 2022, turun dari 27 persen pada 2016, menurut laporan tersebut.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


16 + 18 =