Diaz Hendropriyono Terpilih jadi Ketua Umum PKPI

Foto: YustinusPaat

 

Jakarta  —  Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) akhirnya menetapkan Diaz Faisal Malik Hendropriyono sebagai ketua umum partai yang didirikan Edy Sudrajat dan Try Soetrisno tersebut. Diaz terpilih secara aklamasi karena hanya menjadi calon tunggal.

Dari tujuh calon yang mencuat sebelumnya, enam calon, yaitu Halida Hatta, Haris Sudarno, Sunan Kalijaga, Sardjono Kartosuwirjo, Ganang Sudirman, dan Dominggus Mandacan tak memenuhi syarat yang ditentukan dan tidak hadir dalam KLB yang dilaksanakan di Gedung Sekar Wijaya Kusuma, Jakarta Timur, Minggu (13/5).

“Dengan demikian, hanya Diaz Hendropriyono yang memenuhi persyaratan. Apakah kita sepakat dan menyetujui sebagai ketua umum yang terpilih secara aklamasi?” ujar Ketua Panitia KLB Rully Sukarta, yang memimpin sidang. Seluruh peserta kongres memberikan tanda persetujuan dan pimpinan sidang menetapkan hasil musyawarah mufakat tersebut.

Acara selanjutnya penyerahan pataka PKPI dari pendiri PKPI kepada ketua umum baru. Sementara itu, Diaz menyatakan siap mengemban amanah dan memenangkan PKPI pada Pemilu 2019. “Saya terima amanah ini. Berat memang, tetapi dengan kerja sama seluruh elemen partai, saya yakin kita bisa memenangkan pertarungan pada Pemilu 2019,” tegas Diaz.

Sebelumnya, mantan Ketua Umum DPP PKPI Hendropriyono pada saat sambutan pembukaan KLB mengatakan perlu ada regenerasi dalam pimpinan PKPI. Menurut dia, regenerasi perlu untuk mengkonsolidasi kekuatan menghadapi Pemilu 2019. “Jadi, kita tetap melaksanakan regenerasi demi ketepatan dan kecepatan yang lebih daripada status quo,” kata Hendropriyono.

Dia menilai regenerasi bukan berarti yang senior dan tua tidak dipakai lagi. Menurut dia, yang senior dan sepuh tidak pergi dari PKPI, tetapi tetap mendukung kepemimpinan generasi muda. Pasca-KLB, kata dia, kader PKPI yang senior dan sepuh akan mendukung dari belakang atau menerapkan asas Tut Wuri Handayani.

“Jadi semuanya itu tetap memimpin tapi di belakang. Pemimpin di belakang tidak pernah lebih jelek daripada pemimpin di depan, sama saja dan ini hanya tempat saja bahwa tempatnya itu tidak keluar dari kedudukan, tetap pada titik tempat kedudukan kepemimpinan. Dan itu tidak mengurangi efektivitas bahkan meningkatkan efisiensi,” kata dia.

BeritaSatu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


4 + twelve =