Intrik Tiada Akhir Sambut Pilkada Jabar

Sumber: Sindonews

 

Belum lagi dihelat, proses pemilihan gubernur dan wakil gubernur (pilgub) Jawa Barat terus jadi pemberitaan panas. Mulai dari Ridwan Kamil yang resmi diusung Partai Golkar, padahal sebelumnya partai beringin itu telah soild mengusung Dedy Mulyadi. Hingga kembali mencuatnya nama mantan wakil gubernur Dede Yusuf.

Selain itu, publik pun dikejutkan dengan naiknya nama Tatang Zaenudin dalam memperebutkan kursi calon gubernur. Nama terakhir ini diisukan akan didukung oleh dua partai besar, Partai Gerindra dan Partai Demokrat.

Yang menarik, beberapa lembaga survei seolah “bersepakat” bahwa pilkada Jabar 2018 masihlah amat cair dan tentu saja susah diprediksi. Sementara di level akar rumput, menguat nama tiga pasangan calon yang bakal bertarung, yakni Ridwan Kamil-Uu Ruzanul Ulum, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, dan Tatang Zaenudin-Ahmad Syaikhu.

Ridwan Kamil-Uu Ruzanul kian solid didukung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Nasional Demokrat (Nasdem), dan Partai Golkar. Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi kemungkinan besar akan diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Amanat Nasional (PAN). Pasangan ketiga, yakni Tatang-Syaikhu, dinilai sebagai kuda hitam yang bakal diusung Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat.

Hasil survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menampilkan gambaran yang tak jauh berbeda. Hasil survei lembaga yang dikenal publik pro pemerintah ini mencuatkan tokoh-tokoh seperti Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, Dede Yusuf, hingga dai kondang Abdullah Gymnastiar, atau akrab disapa sebagai Aa Gym.

Strategi gambit ala Parpol

Dari hasil-hasil survei itu juga, publik bisa melihat bahwa pertarungan memperebutkan pengaruh politik di tanah Pasundan kian kentara dan kuat tarik menariknya. Tak hanya mereka yang kontra pemerintah, termasuk pula partai yang ingin menjadi “king maker” memanfaatkan pertarungan dua kubu yang pro-kontra tersebut.

Seperti terlihat dari sepak terjang Partai Demokrat. Terutama setelah Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua dewan pembina partai tersebut menunjukkan diri untuk mendekat ke istana.

Di sisi lain, pihak pro penguasa pun tengah memperlihatkan diri kepada publik betapa mereka enjoy dengan posisi politik terkini. Baik PDIP, Nasdem, ataupun Golkar begitu kentara memainkan lakon yang sama dengan para pelaku yang berbeda.

Dengan mengusung Emil, Deddy Mizwar, ataupun Dedi Mulyadi, partai penguasa sudah bisa dipastikan bakal punya pengaruh yang lebih menancap di wilayah Jabar. Sebuah kondisi yang telah dirancang sedemikian rupa, yang tujuannya tak lain adalah pemilu legislatif 2019.

Apalagi banyak kalangan menilai, sikap PDIP menolak Emil adalah sebuah strategi semata. Walaupun di atas kertas partai banteng tak mendukung Emil, dengan diusungnya Wali Kota Bandung tersebut oleh partai pro pemerintah, PDIP tetap akan diuntungkan.

Apa keuntungannya? Tak lain kemungkinan terus berlangsungnya jabatan Jokowi sebagai presiden yang didukung penuh oleh PDIP untuk masa jabatan yang kedua. Dengan melepas wilayah Jabar kepada partai pendukung pemerintah yang lain, PDIP bisa berkonsentrasi penuh memenangi perhelatan pilkada di dua provinsi besar, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di Jateng, berarti PDIP kian kuat menancapkan kukunya, sedangkan di Jatim, pengaruh partai banteng menguat dengan mendompleng pada kekuatan politik NU yang bermuara pada Syaifullah Yusuf. Seperti diketahui, Syaifullah maju didampingi Abdullah Azwar Anas, yang merupakan Bupati Banyuwangi dan politisi PDIP.

Dengan skenario itu, posisi PDIP akan sangat kuat di Pulau Jawa. Mulai dari di Jabar berperan sebagai pemain belakang layar, di Jateng sebagai pemain utama pertama, dan di Jatim sebagai pemain utama kedua. Secara total, potensi raupan suara dalam pemilihan legislatif pun akan semakin besar.

Bonus akan kian besar bila ternyata di Jabar, perjudian PDIP untuk mencalonkan Deddy Mizwar yang notabene telah mendapatkan nama besar di masyarakat yang sebagian besar kontra dengan pemerintah, membuahkan hasil maksimal.

Kemenangan Demiz, panggilan Deddy Mizwar, lalu dilanjutkan kemenangan Ganjar Pranowo ataupun calon lain di Jateng, serta kemenangan Syaifullah-Azwar Anas adalah perayaan besar kemenangan PDIP di Jawa dan pada akhirnya potensi kemenangan mutlak di seluruh Indonesia pada pileg 2019 nanti.

Skenario apa yang bisa menjegal kemenangan pihak pemerintah?

Yang pertama, kesediaan PAN bergabung dengan Gerindra dan PKS membentuk poros baru dengan memunculkan nama yang fresh dan punya elektabilitas tinggi. Nilai plus akan datang dari PKS, yang kadernya Ahmad Heryawan dinilai publik Jabar berhasil menorehkan banyak prestasi selama dua periode kepemimpinan.

Koalisi ini akan kian kuat jika Partai Demokrat bergabung di dalamnya. Namun, melihat sepak terjang partai berlambang mercy itu yang penuh dengan ambiguitas dan permainan dua kaki, publik pun amat ragu Demokrat berani melawan arus dan bergabung dengan partai yang kontra dengan kepemimpinan Jokowi untuk dua periode.

Bilapun Partai Demokrat pada akhirnya memilih bergabung, pertarungan akan sangat seru. Apalagi digadang-gadang, baik Gerindra maupun Demokrat sepakat mengusung Tatang Zaenudin sebagai calon gubernur. Tatang dikenal publik sebagai tentara karier yang loyal terhadap Prabowo Subianto dan juga terpakai di masa pemerintahan Presiden SBY.

Pilihan yang agak melawan arus adalah, potensi terpilihnya Aa Gym sebagai calon gubernur. Jika ini benar terjadi, konstelasi pertarungan pro dan kontra pemerintah bakal kian terlihat karena Gerindra akan tetap bisa memasukkan nama Tatang sebagai calon wakil gubernur. Dengan risiko Partai Demokrat akan berpaling dan mendukung siapa pun calon dari pemerintah dengan imbal hasil posisi wakil gubernur di pilkada Jateng maupun Jatim.

Apakah itu yang akan terjadi? Hanya waktu yang bisa membuktikan.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


3 + 2 =