Iran Ancam Sanksi Serius Demonstran Anti-Pemerintah

AP Photo

 

Jakarta  —   Pemerintah Iran melalui Kepala Pengadilan Revolusi Mousa Ghazanfar Abadi mengatakan para pemrotes anti-pemerintah yang masih berunjuk rasa setelah hari kedua akan dikenakan “sanksi serius”. “Pemrotes yang ditangkap di hari ketiga unjuk rasa dan seterusnya akan dihadapkan pada sanksi serius,” kata Abadi kepada kantor berita Tasnim sebagaimana dikutip Anadolu, Rabu (3/1).

Abadi mengatakan para pemrotes yang beraksi pada Sabtu (30/12) dan seterusnya bakal disanksi karena melakukan penghasutan meski sudah diperingatkan oleh aparat, alih-alih menggunakan hak sipil mereka berdemonstrasi. Dia mengklaim bahwa salah seorang pemrotes yang tertangkap merupakan warga asing dan memiliki keterkaitan dengan badan intelijen asing.

Peringatan ini muncul menyusul demonstrasi besar-besaran yang tengah berlangsung di beberapa kota di Iran sejak akhir Desember lalu. Ribuan massa di beberapa kota seperti Teheran, Kermanshah, Sari, Mashad, dan Kashmar turun ke jalan memprotes kenaikan harga dan dugaan korupsi yang meluas.

Sebagian pedemo juga mengungkapkan kekhawatiran terkait keterlibatan Iran dalam konflik di Timur Tengah, seperti di Suriah dan Irak. Para pengunjuk rasa menuntut Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang telah menjabat sejak 1989 untuk lengser.

Setidaknya 23 orang, termasuk seorang polisi, tewas dalam protes yang telah memasuki hari kelima ini. Pejabat berwenang mengatakan hingga kini ada 450 demonstran yang telah ditahan, termasuk 200 orang yang di tahan di Ibu Kota Teheran. Seorang anggota komisi keamanan nasional parlemen, Hashmatullah Flahat Bisha, menuding pemerintah tidak menjabarkan data mengenai kondisi ekonomi negara sesungguhnya.

“Masalah ekonomi masyarakat itu nyata. Statistik yang dijelaskan pemerintah terkait kondisi ekonomi masyarakat tidak mencerminkan situasi yang sesungguhnya dihadapi warga. Dan kita semua saat ini memperingatinya melalui demonstrasi,” ucap Bisha.

“Pemerintah mengumumkan bahwa tingkat pengangguran mencapai 11 persen, tapi kenyataannya lebih tinggi dari itu. Hal yang sama terjadi pada data inflasi yang dijelaskan pemerintah. Tingkat inflasi sebenarnya tidak berada pada batas normal sebagaimana dipaparkan sejumlah pejabat,” kata Bisha.  Dia juga mendesak parlemen untuk memeriksa data-data statistik pemerintah tersebut.

Unjuk rasa anti-pemerintah ini merupakan yang terbesar sejak Revolusi Hijau 2009 lalu. Khamenei menuding “musuh-musuh” Iran memprovokasi para demonstran hingga memicu kerusuhan dan masalah di negaranya, meski tak merinci siapa rival yang dimaksud.

Dia menyebut musuh-musuh Iran telah menggunakan uang, politik, intelijen, hingga senjata untuk menyetir para pedemo.  Presiden Hassan Rouhani telah mengimbau warga untuk tenang. Dia juga mengatakan warga Iran berhak mengkritik pemerintah, tapi tetap mengingatkan bahwa pelaku kerusuhan harus ditindak secara tegas.

 

 

CNNIndonesia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


8 + 5 =