Kelapa Sawit Bukan Penyebab Deforestasi

Pelaku industri kelapa sawit mesti siap hadapi jalur hukum para penyebar hoax. Foto : parlementaria.com
Pelaku industri kelapa sawit mesti siap hadapi jalur hukum para penyebar hoax. Foto : parlementaria.com

Perkebunan kelapa sawit bukanlah penyebab deforestasi hutan tropis di Indonesia. Pandangan tersebut disampaikan Prof. Yanto Santosa, peneliti dari Institut Pertanian Bogor, dalam Forum Group Discussion bertajuk “Sawit dan Deforestasi Hutan Tropika” yang digelar di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, 12 April 2018.

Prof. Yanto memaparkan hasil penelitiannya yang membuktikan bahwa perkebunan kelapa sawit bukan penyebab deforestasi. Dirinya juga meminta pemerintah untuk menindak semua pihak yang secara sistematis sengaja menyebarkan isu deforestasi tanpa data akurat dan valid.

Menurutnya, sebagian besar areal yang dimanfaatkan sebagai lokasi pengembangan kelapa sawit bukan berasal dari hutan primer, melainkan areal bekas tebangan berupa hutan sekunder dan sebagian besar bekas perkebunan karet yang dikelola masyarakat.

“Dari delapan perkebunan sawit besar yang kami teliti, saat izin usaha perkebunan diterbitkan sudah bukan merupakan kawasan hutan. Tudingan terhadap perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab deforestasi lebih didasari bukan kepentingan lingkungan dan ekosistem, melainkan kepentingan bisnis bangsa asing lantaran produknya terancam, tak mampu berkompetisi sehat dengan kelapa sawit,” papar Prof. Yanto.

Sejak tahun 2006, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), baik dalam maupun luar negeri, menuduh lahan perkebunan kelapa sawit berasal dari hutan primer sehingga menyebabkan deforestasi dan menurunkan keanekaragaman hayati.

Tudingan deforestasi itu terus berulang, hingga parlemen Uni Eropa memboikot minyak sawit Indonesia dengan melarang penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit terhitung 2021 mendatang.

Manfaatkan Lahan Sekunder

Prof. Yanto tak membantah kemungkinan ada perkebunan kelapa sawit yang memanfaatkan lahan hutan primer. “Namun, perkebunan kelapa sawit siapa atau yang mana lahannya hasil deforestasi? Jika tudingan cuma berdasarkan hasil pengamatan, sampling pada beberapa lokasi kebun saja, itu tidak valid untuk mengatakan perkebunan kelapa sawit Indonesia adalah hasil deforestasi.”

“Hasil penelitian di beberapa perkebunan sawit besar dan perkebunan sawit rakyat di Riau, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan, menunjukkan asal usul status, riwayat penggunaan lahan dan asal jenis tutupan lahan yang bervariasi, dan sebagian besar bersumber dari hutan sekunder,” ungkap Prof. Yanto.

Dalam pandangannya, tak bisa hanya dengan membandingkan dua atau lebih kondisi tutupan lahan, melalui penafsiran citra landsat untuk tahun liputan berbeda dipakai landasan pernyataan telah terjadi deforestasi.

Guna mencapai kesimpulan yang valid, data dan fakta harus dilengkapi dengan penelusuran asal usul status lahan yang bersumber pada peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), termasuk kronologis perizinan, terutama izin-izin yang telah terbit atas lahan.

“Kajian sejarah riwayat penggunaan lahan mutlak diperlukan. Selain kronologis perizinan, juga penting , diperolehnya informasi riwayat penggunaan lahan dari berbagai narasumber. Juga perlu dipahami bahwa deforestasi itu tidak selalu berkonotasi negatif, bahwa deforestasi bermanfaat atau positif bila tidak melanggar RTRW kabupaten, provinsi, maupun nasional yang berlaku,” tutur Prof. Yanto.

Berdasarkan hasil penelitian dan fakta yang dia temukan di lapangan, Prof. Yanto meminta ketegasan pemerintah terhadap para pelaku deforestasi negatif dan pihak yang secara sistematis menyebarkan isu perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab deforestasi tanpa data akurat dan valid.

“Selain itu, harus ada keberanian semua pemangku kepentingan terkait kebun sawit untuk memperkarakan secara hukum pihak-pihak yang secara sistematis menyebarkan isu deforestasi. Sungguh isu deforestasi ini sangat mengancam keberlangsungan ekonomi bangsa,” kata Prof. Yanto.

Selama ini industri kelapa sawit kerap diterpa isu negatif sebagai biang keladi deforestasi hutan tropis. Isu miring ini jelas tak hanya merugikan kelangsungan industri kelapa sawit nasional, tetapi juga mengancam sumber devisa besar bagi negara.

Industri kelapa sawit di Tanah Air sudah menjadi sasaran tembak berbagai pihak yang punya agenda tersembunyi di balik upaya perlindungan serta pelestarian hutan tropis. Sebenarnya mereka berniat mematikan industri kelapa sawit yang telah terbukti menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Program hilirisasi industri kelapa sawit dalam rangka meningkatkan devisa bagi Indonesia telah berhasil. Berdasarkan data 2017, lewat pengembangan olahan CPO, Indonesia mampu meraih pendapatan US$22,9 miliar atau sekitar Rp314,8 triliun.

Pencapaian ini juga memperlihatkan bahwa industri kelapa sawit punya kontribusi devisa yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Bila dibandingkan dengan pendapatan yang diraih pada 2016, yakni US$17,8 miliar, ada kenaikan pendapatan yang diraih Indonesia dari sektor industri kelapa sawit, yaitu sebesar US$5,1 miliar.

“Kenaikan pendapatan di tahun 2017 ini terjadi karena produksi CPO Indonesia melonjak mencapai 38 juta ton. Dari 38 juta ton tersebut yang diekspor ke-50 negara sebanyak 31 juta ton dan 7 juta ton dipakai untuk pasar domestik,” papar Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Dari 31 juta ton yang diekspor dalam bentuk CPO, hanya mencapai 7 juta ton dan yang terbesar sisanya, 24 juta ton, diekspor dalam bentuk produk olahan mulai dari minyak goreng, biodiesel, hingga bahan pembuatan kosmetik.

Indonesia merupakan negara penghasil CPO terbesar di dunia dan memiliki perkebunan sawit sebesar 11,9 juta hektare (berdasarkan data 2017). Rinciannya, 4,7 juta hektare (42%) merupakan kebun rakyat, baik plasma maupun rakyat swadaya.

Lalu, sebanyak 7,2 juta hektare lahan perkebunan sawit dikuasai oleh berbagai perusahaan. Selain itu, industri kelapa sawit telah memberikan lapangan kerja bagi sekitar 25 juta orang baik secara langsung maupun tidak langsung. Abhyudaya Wisesa

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


18 − eight =