Ketika Pajak Batubara Filipina Berdampak Ke Indonesia

Sumber: majalahbatu
 
 
Banyak pihak meramalkan bahwa salah satu motor perkembangan perekonomian Asia selain Cina adalah ASEAN. Selain produsen bahan mentah berkualitas hebat dan pasar yang luar biasa, ASEAN menjadi salah satu titik persilangan perdagangan di sektor energi.
 
Menariknya, masing-masing negara saling bergantung sama lain. Mereka dipersatukan oleh kepentingan yang sama, yakni bahan bakar murah dari minyak, gas, hingga batubara.
 
Oleh karena itu, jika ada negara yang secara sepihak mengeluarkan kebijakan perdagangan yang agresif, imbasnya akan dirasakan seluruh kawasan. Seperti yang baru-baru ini dilakukan Filipina. Kebijakan negeri kepulauan itu menaikkan tarif pajak atau bea masuk batubara sebesar 400% menjadi 50 peso per ton dari sebelumnya 10 peso berpotensi memberi dampak signifikan terhadap negara-negara lain, termasuk Indonesia.
 
Yang jelas adalah mengurangi pangsa pasar ekspor Indonesia ke negara tersebut. Namun, yang belum disadari adalah kebijakan tersebut akan berpotensi mengubah struktur pasar energi listrik negara-negara ASEAN, tak terkecuali Indonesia.
 
Ya benar, peningkatan pajak batubara akan berpotensi membuat energi listrik domestik Filipina jadi lebih mahal. Pasalnya, batubara merupakan salah satu sumber energi murah bagi sektor kelistrikan Filipina.
 
Kian tingginya harga batubara impor jelas akan mengerek tingkat biaya operasional PLTU di sana. Apalagi saat ini Filipina adalah produsen terbesar geotermal dunia. Dengan kata lain, listrik yang menyuplai negeri tersebut sebagian besar adalah hasil dari gas panas bumi.
 
Walaupun pemerintah negeri itu telah mengklaim bahwa energi listrik yang dihasilkan panas bumi lebih murah, adalah fakta bahwa tarif listrik di Filipina secara rata-rata merupakan yang tertinggi di ASEAN. Jelas sangat tak mungkin bila kedua indikator ini tidak saling kuat berhubungan.
 
Sebagaimana diketahui, hingga saat ini Filipina menempatkan tiga pembangkit panas buminya sebagai yang terbesar di dunia. Pembangkit Malitbog dengan kapasitas 230 MW, Kompleks Pembangkit Tiwi yang punya kapasitas 290 MW, dan yang terakhir Kompleks Pembangkit Makiling-Banahaw dengan kapasitas 460 MW.
 
Bagaimana perbandingan tarif listrik antarnegara ASEAN? Benarkah tarif listrik di negara yang dipimpin oleh Presiden Duterte itu menjadi yang termahal?
 
Menurut data yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), seperti dikutip detikFinance, Selasa (21/7/2017), per Januari 2017 tarif listrik untuk rumah tangga di Filipina mencapai Rp 2.109/kWh. Bandingkan dengan Indonesia yang mematok tarif Rp 1.467/kWh, Malaysia Rp 1.374/kWh, Thailand Rp 1.351/kWh, dan Vietnam Rp 1.279/kWh. Filipina bahkan mengalahkan Singapura yang mencapai Rp 1.878/kWh dan Vietnam Rp 1.596/kWh.
 
Memang untuk pelanggan bisnis menengah tegangan rendah, tarif listrik di Filipina terhitung yang termurah, yakni Rp 1.262/kWh. Bandingkan dengan Singapura Rp 1.321/kWh, Indonesia Rp 1.467/kWh, dan Malaysia Rp 1.867/kWh. Filipina hanya kalah dari Thailand, yang tarifnya Rp 1.135/kWh.
 
Namun, tarif listrik golongan bisnis besar tegangan menengah Filipina yang mencapai Rp 1.229/kWh adalah yang tertinggi di bawah Vietnam dengan Rp 1.468/kWh dan Singapura Rp 1.293/kWh. Bandingkan dengan Malaysia Rp 1.320/kWh, Indonesia Rp 1.115/kWh, atau Thailand Rp 1.114/kWh.
 
Tarif golongan industri tegangan menengah Filipina juga menduduki peringkat ketiga termahal dengan Rp 1.196/kWh, di bawah Singapura Rp 1.2015/kWh dan Thailand Rp 1.270/kWh. Bandingkan dengan Malaysia Rp 1.140/kWh, Indonesia Rp 1.115/kWh, ataupun Vietnam Rp 948/kWh.
Untuk tarif listrik golongan industri besar tegangan tinggi Filipina bahkan menempati posisi kedua di bawah Thailand.
 
Imbas ke Indonesia
 
Adalah fakta bahwa saat ini sekitar 70 persen batubara Filipina diimpor dari Indonesia. Filipina juga tercatat di Statistik Kinerja Ekspor Kementerian Perdagangan 2016 sebagai negara terbesar ketujuh untuk tujuan ekspor batubara Indonesia dengan volume sekitar 16,6 juta ton dan nilai transaksi (FOB) mencapai 796 juta dolar AS.
 
Dengan meningkatnya pajak batubara di negara itu hingga empat kali lipat, penurunan nilai volume impor dari Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Pertanyaannya adalah, bagaimana potensi kenaikan tarif listrik di Filipina bisa menghampiri Indonesia?
 
Walaupun baru potensi, fakta bahwa harga batubara ekspor Indonesia lebih mahal daripada harga domestik, banyak pihak meyakini bahwa hal tersebut sangat terbuka untuk terjadi. Mana mungkin produsen akan melepas batubara ekspor buangan dari Filipina dengan harga domestik?
 
Di sisi lain, pasar tradisional batubara seperti Cina dan India secara serempak bersepakat untuk mengurangi laju impor batubara. Memang masih ada Vietnam dan Thailand, yang kian rakus mengonsumsi batubara seiring dengan kian mahalnya harga gas yang menjadi bahan bakar utama bagi pembangkit listrik mereka, tetapi untuk menyerap semuanya jelas tak mungkin.
 
Tak pelak, batubara buangan dari Filipina akan masuk pasar domestik dengan harga yang tentu tak akan jauh dari harga ekspornya. Di sinilah potensi kenaikan tarif listrik akan kian terbuka lebar. Apalagi sejak jauh-jauh hari, Direktur Utama PLN, Sofyan Basyir, terus meminta bantuan pemerintah terutama Menteri ESDM hingga Presiden Jokowi untuk memberikan keringanan harga batubara pada perusahaan setrum negara itu.
 
Alasannya sederhana, harga batubara berdampak langsung kepada keuangan perseroan. Sofyan kala itu menjelaskan, PLN mengeluarkan dana besar, yakni sekitar Rp10 triliun, untuk pembelian energi primer batubara.
 
Jadi, jika harga batubara tidak disesuaikan, perseroan akan mengalami tekanan keuangan. Hal itu juga akan memengaruhi kemampuan berinvestasi. Ditambah lagi, pemerintah telah memutuskan tidak menaikkan tarif tenaga listrik.
 
Saat ini, lanjut Sofyan, PLN telah mengusulkan harga batubara DMO ditetapkan sebesar biaya produksi ditambah margin 15-25 persen untuk produsen batubara. PLN juga menangkap sinyal bahwa pemerintah akan mengabulkan permintaan tersebut.
 
Dengan bertambahnya kebutuhan batubara PLN, tetapi suplai yang tersedia di pasar kian menipis, tak terelakkan PLN pun pasti akan meraup suplai batubara buangan dari kian ketatnya pasar Filipina. Tentu saja dengan harga yang tak mungkin sama murahnya dengan harga batubara domestik. Jikalau ini yang terjadi, tak akan mungkin target PLN untuk menekan biaya produksi listrik nasional menjadi kenyataan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


fifteen + 6 =