Mencari Pengobatan Terbaik Bagi Autisme

image: npofocus

 

Autisme adalah momok bagi setiap orangtua. Jelas tak ada satu orang pun yang tega melihat anak-anak yang dicintainya tumbuh tidak seperti anak sebayanya.

Setiap tahun masyarakat dunia menyediakan satu hari di mana autisme diperingati secara seremonial. Tujuannya adalah menemukan tindakan terbaik untuk mencegah, menyembuhkan, bahkan menghentikan pertumbuhan penyakit tersebut.

Masalahnya adalah, banyak kalangan berpendapat bahwa seremoni tahunan itu tak lebih dari sekadar kampanye pengobatan yang didukung perusahaan farmasi raksasa. Apa hubungannya? Tak lain karena hingga saat ini merekalah produsen obat, makanan, maupun minuman khusus bagi penderita autisme.

Berapa nilainya? Bila merujuk data lembaga kesehatan Amerika Serikat pada 2002, satu dari 150 anak di dunia menderita autisme. Dengan perkiraan jumlah anak adalah sepertiga dari enam miliar penduduk bumi, bila kebutuhan sehari-hari anak hingga dewasa muda normal sebesar US$10, berarti pasar obat, makanan, dan minuman secara untuk para penderita autisme secara global minimal bisa mencapai US$730 miliar per tahun.

Di Indonesia, tren peningkatan jumlah anak autis juga terlihat, meski tidak diketahui pasti berapa jumlahnya karena pemerintah belum pernah melalukan survei. Namun, dengan melihat secara sekilas kian banyak dibuka kelas atau bahkan sekolah khusus bagi anak penyandang autism di seluruh kota besar di Indonesia, jelas menjadi petunjuk valid.

Pengobatan Ganja

Usaha penemuan obat dan nutrisi yang murah bagi proses penanganan penderita autisme semakin giat dilakukan di seluruh dunia. Salah satu yang menarik perhatian adalah penelitian yang dimulai pada Januari di Shaare Zedek Medical Center di Yerusalem. Penelitian tersebut melibatkan 120 anak-anak dan orang dewasa muda, usia 5 sampai 29 tahun, yang menyandang autisme ringan hingga berat, dan akan bertahan sampai akhir 2018.

Adi Aran, ahli saraf anak yang memimpin penelitian, mengatakan bahwa hampir semua peserta sebelumnya memakai antipsikotik dan hampir setengahnya menanggapi secara negatif. Yael, ibu dari Noa Shulman yang menderita autis, dengan putus asa mendorong Aran dan dokter lain untuk meresepkan minyak ganja setelah menyaksikan berita tentang kisah seorang ibu yang menggunakan pengobatan ganja untuk anak autisnya dan mengatakan bahwa itu adalah satu-satunya yang membantunya.

Lebih dari 110 percobaan klinis ganja sedang dilakukan di Israel, lebih banyak dari negara lain, menurut Michael Dor, penasihat medis senior di unit ganja medis Kementerian Kesehatan.

Pengobatan untuk penderita epilepsi yang dilakukan Alan Shackelford, dokter yang terlatih Harvard, pada 2013, memicu lonjakan minat di seantero AS, dia menggunakan mariyuana medis untuk merawat seorang gadis muda di Colorado dan kejangnya menurun drastis. Shackelford mengatakan bahwa seorang rekannya menghabiskan waktu tujuh tahun untuk mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang di Amerika Serikat untuk mempelajari pengobatan ganja untuk meredakan gangguan stres pasca trauma.

Di Indonesia, pengobatan menggunakan ganja masih sarat dengan kontroversi. Kasus yang menimpa Fidelis asal Kalimantan Barat, adalah bukti sahih.

Pria berusia 36 tahun ini divonis penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Sanggau, Kalimantan Barat, karena terbukti bersalah dalam kepemilikan 39 batang ganja yang digunakan untuk mengobati sang istri, Yeni Riawati, yang menderita penyakit langka Syringomyeila. Sang istri meninggal pada 25 Maret 2017, atau tepat 32 hari setelah Fidelis ditahan BNN Kabupaten Sanggau karena terputusnya asupan ekstrak ganja yang saat itu menjadi satu-satunya harapan Yeni untuk bisa sembuh dan bertahan hidup.

Dalam sidang dengan agenda putusan, majelis hakim menilai Fidelis memenuhi unsur dalam Pasal 111 dan 116 UU Nomor 35 tentang Narkotika. Fidelis pun divonis majelis hakim delapan bulan penjara dan denda Rp 1 miliar subsider satu bulan pada 2 Agustus 2017.

Tim pengacara berkilah bahwa Fidelis hanya berupaya menyelamatkan nyawa istrinya yang menderita kanker sumsum tulang belakang. Dalam perspektif hukum, pembelaan diri sendiri dan orang lain yang dilakukan Fidelis terhadap istrinya yang sudah bersusah payah berobat ke berbagai rumah sakit dan herbal, tetapi belum ada obat yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Kemudian Fidelis berupaya mencari informasi mengenai penyakit Syringomyelia, yang menurut media dan dokter luar negeri obatnya adalah minyak dari ekstrak ganja. Upaya yang dilakukan ini adalah overmach yang bisa dibenarkan dalam hukum.

Autisme dan Genetis

Bertahun-tahun, berbagai kalangan dari berbagai macam kelompok studi kedokteran terus melakukan penelitian terkait penyebab autisme. Proses penelitian kian marak, seiring dengan kian banyaknya berita hoax dan bohong mengenai autisme yang dikatakan sebagai sebuah hasil gemilang perang senjata biologis.

Sebuah studi beberapa waktu lalu memberikan informasi mengenai penyebab autisme. Sekelompok peneliti dari Ichan School of Medicine di New York mengobservasi mengapa seseorang bisa mengidap autis. Dari hasil penelitian itu, peneliti memperoleh kesimpulan bahwa 83 persen autisme disebabkan oleh faktor gen.

Autism Spectrum Disorder (ASD) cenderung diderita oleh keluarga yang memiliki gen tertentu. Namun, para ahli mengatakan bahwa pewarisan gen tersebut kepada keturunannya adalah proses yang sangat rumit.

Sebanyak 2,6 juta kakak beradik, 37.570 pasangan kembar, dan 500 ribu pasangan saudara sepupu dilibatkan menjadi responden. Dari total keseluruhan responden, terdapat 14.516 anak yang didiagnosis mengidap ASD. ASD atau autisme ditandai dengan adanya kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Sinyal-sinyal autisme seringkali tidak disadari orangtua sebelum anaknya menginjak umur dua atau tiga tahun.

Kesimpulan yang dihasilkan dari studi Ichan School of Medicine ini jauh berbeda dengan hasil penelitian terdahulu. Lebih dari 50 tahun autisme dipercaya terjadi akibat kurangnya kasih sayang dan perhatian dari ibu kepada anaknya.

Sejumlah studi sebelumnya juga memberikan angka bervariasi terkait hubungan gen dan penyebab autisme. Pada 2011 Stanford University melaporkan kemungkinan terjadi autisme akibat warisan biologis hanya mencapai 38 persen.

Tiga tahun kemudian institusi yang sama kembali mengumumkan penelitian mengenai autisme. Pada 2014 disebutkan autisme yang disebabkan oleh faktor genetik angkanya kurang dari 50 persen, dilansir laman Sciencealert

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


seventeen − one =