Metode Baru dalam Rentetan Peristiwa Teror yang Wajib Diwaspadai

Sumber: Internet

 

 

Dalam sepekan, rentetan peristiwa teror terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Berawal dari kerusuhan napi di rutan Salemba cabang Mako Brimob Depok, Jawa Barat, yang memakan korban lima orang anggota polisi. Dua hari kemudain, teroris beraksi, kali ini sasarannya adalah tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur.

Tiga bom tersebut meledak nyaris bersamaan. Bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Santa Maria Tak Bercela yang berada di Jalan Ngagel Madya Utara. Tak lama kemudian bom leedak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, di Jalan Arjuno, dan ketiga bom meledak di GKI Jalan Diponegoro, Surabaya.

Pelaku pengeboman di Jalan Arjuno diduga menabrakkan mobil yang dikendarainya ke gerbang gereja. Seketika bom meledak. Peristiwa yang sama juga terjadi di GKI Jalan Diponegoro. Bom meledak ketika dua remaja laki-laki berboncengan menaiki motor. Begitu dihalau petugas, seketika bom pun meledak.

Malam harinya bom meledak di rumah susun sewa (rusunawa). Pelaku pengeboman berhasil ditembak mati oleh petugas Densus 88.

Rentetan teror ternyata belum usai. Pagi harinya bom kembali meledak. Senin pagi itu bom meledak di pintu gerbang Mapolresta, Surabaya. Metodenya sama, dua kendaraan roda dua memasuki halaman kantor polisi dan kemudian, duaaarr. Bom meledak, kendati dalam kapasitas yang kecil.

Peristiwa berikutnya adalah penangkapan terduga pelaku teror di Sidoarjo. Para pelaku ini diduga berasal dari kelompok yang sama. Pada penangkapan terduga pelaku terorisme di Sdioarjo, ditemukan enam bom aktif yang siap diledakkan.

Rentetan teror merembet. Kali ini Mapolda Riau jadi sasaran. Bukan bom, kali ini serangan menggunakan celurit yang dilakukan oleh empat orang tidak dikenal. Rabu pagi, sebuah mobil Avanza berwarna putih memasuki gerbang Mapolda Riau. Tidak lama empat orang turun dari mobil dan melakukan penyerangan terhadap orang-orang yang ada di sekitar mereka. Akibatnya satu orang meninggal, dan tiga lainnya luka-luka.

Menerobos Masuk

Ada yang baru dalam rentetan peristiwa teror kali ini, yaitu menggunakan kendaraan dan menerobos masuk ke sasaran tembak. Sebelumnya pelaku teror melakukan aksinya dengan berjalan kaki  dan memasuki tempat umum atau menuju sasaran. Seperti bom J.W. Marriot pada 2009. Metode ini jelas patut diantisipasi oleh pihak kepolisian.

Intelijen negara jelas dipertanyakan. Bagaimana mereka bekerja, sampai bisa terjadi rentetan peristiwa seperti sekarang ini? Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun mengatakan, para teroris sekarang ini juga mempelajari bagaimana cara menghindari atau tidak terdeteksi dari intelijen. Salah satu caranya bisa jadi dengan melakukan pengeboman bersama keluarganya.

Miris memang, karena pelaku melibatkan anak-anak dalam aksinya. “Pengantin”, istilah untuk pelaku bom bunuh diri bukan lagi orang dewasa, akan tetapi anak-anak. Metode seperti ini jelas baru, dan perlu diantisipasi oleh intelijen, Polri, dan aparat yang berwenang.

Keterlibatan Anggota Keluarga

Bukan hanya menggunakan kendaraan. Peristiwa bom kali ini yang berhasil mencuri perhatian adalah keterlibatan istri dan anak. Sebelum melakukan pengeboman, dua anak laki-laki Dita Oepriyanto, diberitakan sempat berjamaan subuh di masjid dekat tempat tinggal mereka. Bahkan mereka juga dikabarkan menangis dan berpelukan usai salat subuh.

Banyak pihak yang terkejut dengan keterlibatan satu keluarga. Pengamat terorisme Sidney Jones berpendapat ini adalah hal baru dan belum pernah terjadi sebelumnya. Jika sebelumnya “pengantin” adalah laki-laki dewasa, kelompok yang diduga menjadi dalang terorisme selama ini yaitu ISIS justru berpendapat bahwa aksi teror adalah jihad keluarga.

Bukan hanya laki-laki atau perempuan dewasa yang bisa menjadi “pengantin”, bahkan remaja dan anak-anak yang masih di bawah umur pun sah untuk berjihad dan menjadi “pengantin”. Sederhananya lagi, anak-anak tidak dicurigai sebagai pelaku teror ketika mereka melintas atau memasuki keramaian atau sasaran pengeboman.

Selain itu metode penyerangan langsung dengan senjata tajam juga patut dipertanyakan dan diwaspadai oleh aparat. Bukan tidak mungkin aksi tersebut menginspirasi dan diikuti oleh yang lain.

Kantor polisi bukan untuk pertama kalinya jadi sasaran aksi pelaku teror. Sebelumnya pernah terjadi, misal ledakan di pos polisi Sarinah beberapa waktu lalu. Polisi menjadi sasaran, bisa jadi karena seringkali mereka melakukan penangkapan dan menjadi near enemy atau musuh yang paling dekat dengan para teroris tersebut.

Namun, sebetulnya yang paling penting adalah tujuan pelaku teror untuk menimbulkan rasa takut bagi banyak orang. Mereka tidak menyasar berapa jumlahnya, tetapi seberapa banyak orang yang merasa takut dan kemudian menghindari keramaian atau justru pindah dari satu kawasan tertentu.

Bukan tidak mungkin, lambat laun kondisi demikian akan mengganggu stabilitas negara, dan ujung-ujungnya berpengaruh pada perekonomian nasional.

Fadila

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


17 − three =