Pembukaan Kedutaan AS di Jerusalem Telan 52 Korban Jiwa

Foto: Mohammed Abed/AFP/Getty Images

 

Jakarta  —  Sekitar 52 orang tewas dalam kekerasan di Gaza menjelang pembukaan kontroversial Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jerusalem pada Senin (14/05) waktu setempat. Upacara yang menandai kepindahan kedutaan AS dari ibukota resmi di Tel Aviv ke Jerusalem disambut ribuan demonstran yang mengecam langkah tersebut. Protes di perbatasan Gaza-Israel Senin bertepatan dengan Hari Nakba, “hari malapetaka” Palestina, yakni pendirian Israel tahun 1948 dan pengusiran warga Palestina dari rumah mereka di Israel.

Di antara puluhan korban tersebut terdapat lima anak di bawah usia 18 tahun. Hampir 2.000 mengalami luka-luka dalam bentrokan itu. Dilansir UPI, Militer Israel mengatakan sekitar 10.000 lebih warga yang ikut berpartisipasi dalam protes Gaza tersebut. Demonstrasi mingguan di perbatasan selama tujuh minggu terakhir, yang menyebabkan lebih dari 50 kematian dan lebih dari 9.000 cedera.

Sementara Israel memuji pengalihan kedutaan, diumumkan oleh Presiden Donald Trump tahun lalu, padahal keputusan itu sudah dikecam keras oleh banyak negara Arab. Deputi Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag mengatakan, Turki menarik kembali utusannya di Tel Aviv dan Washington untuk konsultasi atas langkah kedutaan dan tindak kekerasan berikutnya. Pemerintah juga menyatakan tiga hari berkabung atas kematian warga Palestina.

“Hari ini akan turun dalam sejarah sebagai Senin Berdarah bagi Muslim dan negara-negara Islam,” kata Bozdag. “Status bersejarah dan spiritual Jerusalem tidak akan pernah berubah. Seperti sebelumnya, Jerusalem akan terus menjadi ibukota Palestina independen,” katanya. Pembukaan Senin menyusul bentrokan meluas selama akhir pekan. Puluhan ribu Zionis, sayap kanan Israel, berpartisipasi dalam Bendera Maret pada Minggu, prosesi tahunan yang menandai Hari Jerusalem, akhir perang 1967 dan penggabungan Jerusalem Timur dan Barat.

Pertempuran meletus di sepanjang rute ke Temple Mount, yang melewati kawasan Muslim di kota. Beberapa warga Palestina ditangkap, begitu pula enam orang Yahudi yang menyanyikan lagu-lagu polisi yang kemudian digambarkan sebagai hasutan. Kebanyakan vendor di Muslim Quarter membuka toko mereka, meskipun ada peringatan bahwa polisi tidak akan dapat melindungi mereka jika Maret Bendera berubah menjadi kekerasan.

Kedua belah pihak dipisahkan oleh polisi di Temple Mount, sebuah situs suci untuk orang Yahudi, Muslim dan Kristen, dan beberapa orang Yahudi yang telah dipindahkan karena melanggar aturan perilaku. Langkah Kedutaan Besar AS terlihat di Israel sebagai peristiwa transformatif yang menghancurkan dekade netralitas AS pada hubungan Israel-Palestina.

Palestina menganggap Jerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina, semestinya negara itu menjadi negara berdaulat, dan menafsirkan langkah Kedutaan AS merupakan pememihakan kepada Israel. Israel secara efektif menguasai Jerusalem Timur setelah perang tahun 1967, meskipun tidak ada negara yang mengakui pengambilalihan itu sampai pernyataan Trump terkait pemindahan kedutaan.

Jurnas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


one + twenty =