SMI Menteri Terbaik Dunia, Gerindra: Rasio Utang Terus Naik

ilustrasi : via Moneter

 

Jakarta  —   Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI) dinobatkan sebagai Menteri Terbaik di Dunia dalam World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab. Mengenai itu Politisi Partai Gerindra Heri Gunawan mengingatkan, penghargaan itu mesti menjadi cambuk bagi SMI untuk membebaskan lebih dari 250 juta jiwa dari beban utang.

SMI, menurutnya, jangan sampai terlena oleh rasio utang yang sering disebut masih aman itu. “Kita tahu, rasio utang terus menunjukkan angka yang naik. 2014 sebesar 24,7 persen, 2015 naik tajam ke 27,4 persen, lalu 2016 menjadi 27,9 persen, dan 2017 ada di angka 28,2 persen. 2018 diproyeksi bisa menyentuh angka 29 persen terhadap PDB. Ini adalah pekerjaan rumah yang besar yang harus dipecahkan terus-menerus. Itu tidak selesai dengan sanjungan, pujian, dan penghargaan,” papar Heri di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Di sisi lain, tuturnya, beban jatuh tempo pembayaran utang makin besar. Pada 2018 nanti sebesar Rp390 triliun, dan ketika 2019 nanti pada kisaran Rp420 triliun. “Sehingga, total keseluruhan pada pembayaran jatuh tempo mencapai Rp810 triliun,” ungkapnya. Heri menyampaikan, masih banyak pekerjaan rumah lainnya yang belum dituntaskan SMI.

Sebagai contoh, menghadirkan postur APBN yang kredibel. Selama ini defisit APBN belum mampu dipecahkan, dan kerap berkibat pada beban utang yang besar.  “Ini adalah janji SMI yang belum dilunasi. Bahwa bagaimana postur APBN kita bisa benar-benar kredibel, tanpa pemborosan di sana-sini,” ungkap Heri. Heri pun menegaskan, rakyat Indonesia membutuhkan postur APBN yang bisa mengangkat martabat semua orang.

Terlebih, angka kemiskinan menyentuh 27 juta jiwa, dan ketimpangan yang masih bertengger di kisaran 0,39. “Lalu daya beli masih stagnan di kisaran 4,9 persen. Bukankah tidak elok kita berbangga diri dengan sanjungan, penghargaan dan pujian, di saat saudara-saudara kita masih ada yang tersisih?” tanya Heri. Dengan meraih penghargaan tersebut, Heri juga mengingatkan SMI untuk tidak merasa benar sendiri.

Tak bisa diprotes karena merasa sudah menjadi yang terbaik. SMI harus tetap bisa menerima semua masukan. “SMI harus tetap terbuka dengan kritik bahwa pengelolaan belanja dan utang dalam APBN belum maksimal. Apalagi, ke depan, skenario akan digantungkan sepenuhnya pada sektor keuangan,” ucap Heri. Karenanya, Heri menyarankan SMI untuk terus mengoreksi dan mengevaluasi seluruh kinerja institusinya.

Heri juga mendorong SMI untuk terus mencari pendapatan negara dengan lebih kreatif. Lebih-lebih dengan berakhirnya Program Pengampunan Pajak, negara makin sulit merealisasikan penerimaan yang lebih baik. “Terakhir, penghargaan, sanjungan, dan pujian adalah sesuatu yang tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab, lebih dari 250 juta rakyat Indonesia butuh lebih dari itu,” pungkas Heri.

 

 

Rilis.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


16 − 11 =