Tamparan Keras Jokowi untuk Memacu Ekspor

Sumber: internet

 

Publik Indonesia dikejutkan dengan pidato blak-blakan Presiden Joko Widodo terkait nilai ekspor tahun lalu. Presiden Jokowi mengatakan bahwa nilai ekspor Indonesia tertinggal dari beberapa negara tetangga, dan fakta itu membuat dirinya kecewa. Padahal Indonesia memiliki sumber daya dalam jumlah besar.

Menjadi pertanyaan Presiden Jokowi, bagaimana mungkin negeri ini bisa kalah dari Thailand, Malaysia, dan Vietnam, padahal apa yang dimiliki oleh ketiganya juga dipunyai Indonesia? Dari sisi sumber daya, Indonesia malah menjadi yang terbesar.

Sebenarnya apa yang terjadi? Memang sudah jadi rahasia umum bahwa perekonomian ketiga negara itu tumbuh lebih pesat bila dibandingkan dengan Indonesia karena berbagai faktor dasar. Pengamat perekonomian dari berbagai kalangan menyebutkan, kekalahan Indonesia tak lain karena tiga hal dasar, yakni peraturan, harga energi, serta tingkat suku bunga perbankan. Di ketiga hal dasar itu Indonesia kalah telak.

Pernyataan ini diamini oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Tom Lembong. Menurut Tom, ada dua aspek mengapa negara-negara tetangga bisa lebih unggul. Aspek pertama, regulasi. Sudah menjadi pengetahuan umum, regulasi di Indonesia selalu berubah secara mendadak sehingga menciptakan ketidakstabilan dan sulit sekali diterima investor.

Aspek kedua, keterbukaan. Vietnam bisa mendapat investasi US$ 176 miliar karena tidak melarang investasi apa pun masuk, seperti universitas, industri pertahanan, sekolah, pabrik, dan lainnya. Di Indonesia, menurut Tom, ada banyak sekali larangan, “Ini itu nggak boleh masuk, itu nggak boleh. Kalau mau masuk di sini maksimum 30 persen, di sana 90 persen.”

Merujuk pernyataan kepala BKPM tersebut, tak heran sebagian besar publik Indonesia menangkap bahwa pidato bernada sarkas dari Presiden Jokowi ditujukan pada dua aspek ini. Menurut Presiden Jokowi, ada yang salah dari rutinitas yang telah dilakukan selama ini. Ia pun meminta untuk sesegera mungkin dilakukan perubahan.

Tak hanya itu, Presiden Jokowi kemudian mengingatkan kembali instruksinya agar jajarannya mulai menyentuh pasar-pasar global yang selama ini terabaikan. Menurutnya, negara-negara lain sudah sejak lama melakukan itu.

Apakah hanya itu? Sebagian pengamat beropini bahwa apa yang dikatakan Presiden Jokowi merupakan sindiran halus bagi Kementerian Perdagangan. Sebagaimana diketahui, banyak pihak menilai Kementerian Perdagangan telah membuat blunder cukup parah dengan mengimpor beras pada saat panen raya.

Tak heran, kebijakan itu menuai banjir hujatan dari kalangan netizen Indonesia. Sebuah kondisi yang jelas berbahaya bagi popularitas Jokowi menjelang pemilihan presiden 2019.

Pertanyaannya, apakah benar instansi terkait ekspor cenderung berdiam diri hingga kinerja ekspor Indonesia begitu parah? Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa kinerja nilai ekspor Januari-November 2017 mengalami peningkatan 17,16 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kala itu disebutkan, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-November 2017 mencapai US$ 153,9 miliar. Yang menarik, dari total nilai tersebut, ekspor nonmigas mencapai US$ 139,68 miliar atau meningkat 16,89 persen. Sementara peningkatan terbesar ekspor nonmigas per November terhadap Oktober terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 152,3 juta (8,04 persen).

Penurunan terbesar ekspor nonmigas per November terhadap Oktober terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$ 133,5 juta (28,55 persen). Tak hanya itu, di sektor pertanian, ada golongan barang yang nilai ekspornya mengalami penurunan per November dibandingkan dengan Oktober, yaitu kopi, teh, dan rempah.

Hampir senada dengan BPS, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memandang ekspor Indonesia secara umum pada 2017 tumbuh positif. Optimisme ini didasari dengan membaiknya harga sejumlah komoditas asal Indonesia serta pulihnya ekonomi di negara-negara tujuan ekspor.

Peningkatan ekspor Indonesia juga berasal dari mulai terbukanya pasar negara-negara nontradisional. Negara-negara tujuan ekspor nontradisional merujuk pada negara dengan potensi ekonomi besar, tetapi belum banyak digarap pelaku eksportir Indonesia seperti Afrika Barat, Amerika Selatan, Asia Tengah, dan Asia Tengah.

Direktur Pelaksana II Indonesia Eximbank, Indra Wijaya Supriadi, mengungkapkan bahwa dari target penyaluran kredit ke Usaha Menengah Kecil Ekspor (UMKE), saat ini sudah terealisasi Rp 12 triliun. Pada 2016, kredit untuk UKME bisa terealisasi Rp 10,5 triliun.

Sementara itu, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, mengungkapkan ada banyak faktor penyebab nilai ekspor Indonesia rendah. Yang mencolok, antara lain ekspor masih didominasi barang mentah dan olahan dasar yang bernilai tambah kecil serta mudah terombang-ambing oleh fluktuasi harga global.

Upaya memecahkan masalah itu tidak mudah karena membutuhkan industri hilirisasi. Jika ingin nilai ekspor naik, menurut Bhima, pemerintah harus bekerja lebih keras untuk mendorong kinerja sektor manufaktur. Apalagi, porsi investasi yang masuk ke sektor manufaktur turun drastis dari 54,8 persen jadi 39,7 persen pada 2017.

Selain itu, menurut Bhima, untuk mendorong investasi, pemerintah harus melakukan evaluasi. Pemerintah menawarkan insentif yang lebih menarik kepada investor. Bhima menilai, insentif potongan pajak yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 1 Tahun 2018, cukup menarik. Dalam aturan itu, pemerintah akan memberikan insentif potongan PPh badan sebesar 30 persen selama enam tahun atau 5 persen setiap tahun.

Pernyataan berbeda datang dari anggota Komisi VI DPR, Bambang Haryo Soekartono. Dalam sebuah wawancara dengan media, Bambang memberikan pernyataan bahwa kendurnya kinerja ekspor Indonesia karena pemerintah pada awalnya terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur.

Ia pun mempertanyakan keheranan Presiden Jokowi. Menurutnya, seharusnya Presiden Jokowi telah mendapat briefing dari para pembantunya bahwa efek alokasi padat modal di proyek infrastruktur akan berakibat pada kurangnya perhatian pemerintah pada kinerja ekspor.

Bambang menilai, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengerek kinerja ekspor, misalnya dari produk kopi yang sudah sangat terkenal di dunia. Selain itu, produk tekstil dan alas kaki Indonesia juga cukup diperhitungkan di pasar dunia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


one × two =