Tanjakan Emen dan titik maut lain: ‘arwah penunggu’ atau faktor manusia?

Foto: Kompas/AgiePermadi

 

Kecelakaan di kawasan yang dikenal sebagai Tanjakan Emen yang menewaskan 27 orang, menghidupkan kembali legenda urban kawasan itu. Titik-titik ‘angker’ dan ‘maut’ dengan segala legendanya cukup banyak di seantero Indonesia.

Bus pariwisata dengan nomor polisi F 7959 AA yang terbalik itu membawa 50 penumpang dan baru keluar dari Gunung Tangkuban Perahu untuk menuju Ciater, Subang. Kakorlantas Polri Irjen Royke Lumowa, pada wartawan, mengatakan bahwa penyebab kecelakaan tersebut diduga adalah tidak berfungsinya sistem rem yang blong, serta pengaruh geografis dan geometris jalan.

Menurut dia, dalam kecelakaan maut ini ada dugaan kelalaian oleh sopir ataupun perusahaan pemilik bus. Polisi sudah menetapkan pengemudi bus, Am, sebagai tersangka dalam kecelakaan tersebut karena dianggap lalai, karena hanya memperbaiki rem yang rusak tersebut dengan baut sekedarnya.

Di media sosial, istilah ‘Tanjakan Emen’ sudah digunakan dalam lebih dari 21.000 cuitan sejak Sabtu (11/02). Beberapa pengguna media sosial menyoroti bahwa kecelakaan di Tanjakan Emen sudah terjadi secara berulang, dan harus ada antisipasinya.

Salah satu pengguna media sosial, @karman_mustamin menulis, “Dapat kiriman video Laka Lantas di Tanjakan Emen, antara Ciater-Bandung. Sudah sering terjadi kecelakaan fatal di lokasi tanjakan/turunan tajam ini. Herannya, tdk ada upaya antisipasi. Misalnya, bikin run-off area utk meminimalisir rem blong.”

Pernyataan itu kemudian dibalas oleh pengguna media sosial lain, @aristnugr yang membandingkannya dengan Tanjakan Gombel di Semarang yang punya “banyak runoff area.” Baik Tanjakan Emen maupun Tanjakan Gombel di Semarang sudah dikenal sebagai ‘tanjakan maut,’ dan karena itu juga mendapat reputasi buruk, jika tak mau disebut ‘angker’ oleh masyarakat.

Emen adalah nama khas pria di kalangan orang Sunda biasa. Sebuah versi menyebut, nama Tanjakan Emen disebut-sebut berasal dari kisah seorang pengemudi oplet Bandung-Subang bernama Emen yang tewas terbakar di sana , dan arwahnya jadi ‘penunggu’ tanjakan itu.

Ada pula versi lain. Namun apa pun versinya, faktanya adalah tanjakan itu secara faktual memang curam dan berkelok, membutuhkan keahlian dan konsentrasi khusus untuk melewatinya. Kecelakaan emi kecelakaan terjadi, ringan dan berat, dan berkembanglah cerita aneh-aneh tentang Emen, sang ‘penunggu’ yang merasa ‘tersingung’ oleh ulah pengemudi tertentu.

Lalu muncul cerita, entah dari mana dan bagaimana mulanya, bahwa siapa pun yang berkendara melewati tanjakan tersebut ‘disarankan’ untuk melempar koin atau rokok ke pinggir jalan. Kisah titik-titik maut seperti Tanjakan Emen banyak bertebaran di seantero tanah air. Dengan kisahnya sendiri-sendiri, dengan ritual ‘tolak bala’ sendiri-sendiri.

Yang banyak disebut antara lain Tanjakan Mandalawangi (Banten), Tikungan Ciloto (Jawa Barat) Munjul (Garut, Jabar), Cadas Pangeran (Sumedang, Jabar), Simpang Brumbung (Demak, Jawa Tengah), Tanjakan Krumput (Banyumas Jateng), Tanjakan Gombel (Semarang), Belokan Tarahan (Lampung ), Jembatan Simpang Benteng (Pontianak, Kalimantan Barat).

Bahkan di jalan yang bisa dibilang relatif baru dibangun pun, seperti tol Cipularang, ada kisah-kisah yang muncul yang kemudian dihubungkan dengan kecelakaan serta keselamatan perjalanan. Di sekitar Jembatan Sewo, Indramayu, misalnya. Di sana ada ritual para pengemudi melempar uang, yang kemudian uangnya akan diambil oleh orang-orang yang memang menunggu dengan memegang sapu jalan. Ritual itu diyakini bersumber dari kepercayaan agar para pengemudi ‘tidak diganggu’.

Namun, menurut Erreza Hardian, instruktur pengemudi yang aman dari lembaga Defensive Indonesia, kecelakaan tak ada urusannya dengan dongeng dan kisah dedemit, hantu, atau arwah penasaran. “Banyak faktor kecelakaan, tapi hampir 99% adalah faktor manusianya. Baik itu manusia secara individu atau pengemudi, ada juga konstruksi jalan, rambu-rambu, lampu jalan, kesiapan kendaraan, tapi itu ujung-ujungnya yang mengerjakan manusia juga,” kata Erreza pada BBC Indonesia, Senin (12/02).

“Yang 1% yang nggak bisa kita apa-apakan: itu alam.” Namun bukan alkam gaib. Melainkan, “misalnya cuaca. Tapi itu juga sudah ada prakiraannya,” tandas Erreza.¬† “Kalau pola pikirnya di situ ada mitos, mitos, mitos, ya udah berarti kena induksi bahwa mitos. Akhirnya dia menjadi khawatir, dari yang konsentrasi penuh kemudian dia memikirkan hal-hal yang sifatnya negatif, karena dia nggak punya pengetahuan yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya dia mengemudi,” kata Erreza.

Keadaannya jadi lebih buruk, kecelakaan lebih rentan terjadi, menurut Erreza, karena kebanyakan orang belajar mengemudi secara otodidak dan idak melalui kursus yang memadai. “Turun-temurun (mengemudi), nggak jelas dari siapa. Secara skill, mungkin mereka sudah terbiasa, jago, bertahun-tahun bisa, tapi secara pengetahuan, pola berpikir, itu yang tidak pernah diubah selama bertahun-tahun,” katanya.

Padahal, dengan belajar mengemudi yang baik melalui kursus yang benar, menurut Erreza, akan “ada hitung-hitungan fisika bagaimana kita turun dan naik tanjakan dengan selamat”. “Baik itu kendaraannya sedan, SUV, MPV, truk, bus, bermuatan atau enggak, itu ada ilmunya, bukan karena mitosnya. Contohnya, kalau bebannya berlebih, tentu mobil punya daya dorong yang berat ke belakang pada saat naik. Apa yang harus dilakukan sopir dengan pengetahuan ini? Begitu pula turunan, ada gaya momentum ke depan, kalau kita tidak menguasai teknik secara benar, mobil akan ke mana-mana,” tambahnya.

Sehingga dia yakin, ada penjelasan yang bisa diberikan pada setiap kecelakaan. “Mitosnya misalnya ‘remnya tiba-tiba blong’, padahal nggak ada rem yang tiba-tiba blong. Rem itu pasti ada gejalanya, pasti ada perlakuan yang salah dari pengemudi.”C “Contohnya, dia rem terus dari atas waktu turunan. Rem ini kan besi ketemu sama besi, intinya, walaupun ada bahan-bahan lain, tapi itu kan menimbulkan panas. Kalau dia masih pakai minyak rem, minyak remnya pasti akan mendidih, kalau mendidih, pasti remnya nggak akan pakem. Kedua, kalau dia pakai rem angin, kalau dia rem, rem terus, anginnya lama-lama habis, ya pasti blong,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimoeljono mengatakan bahwa dia mendapatkan laporan dari bagian penelitian dan pembangunan Kementerian PU bahwa kontur Tanjakan Emen memang bermasalah sehingga pemerintah “akan mengubah bentuk geometri” di kawasan tersebut.

 

 

BBC

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


nineteen − 2 =