Teror: Kami Tidak Takut!

Tokoh lintas agama kutuk bom gereja (Foto: Kumparan)

 

Ledakan bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Surabaya pada Minggu pagi 13 Mei saat umat Nasrani sedang beribadah sungguh menyisakan kepedihan mendalam. Tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi bagi umat Kristiani pada khususnya dan seluruh bangsa Indonesia pada umumnya. Kecaman datang dari berbagai kalangan, semua mengutuk tindakan tidak berperikemanusiaan tersebut.

Pelaku teror adalah satu keluarga. Sang bapak bernama Dita Oepriarto dengan menggunakan mobil menurunkan istri dan dua orang anak perempuannya, usia 12 dan 9 tahun, di Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro. Sang istri, Puji Kuswati meledakkan dirinya bersama dua orang anaknya di GKI tersebut.

Sang kepala keluarga menghentikan mobilnya di Gereja Pantekosta Pusat Jalan Arjuno yang kemudian meledak bersama bom yang dibawanya. Dua anak lelakinya yang berusia 18 dan 16 tahun berboncengan motor memasuki Gereja Santa Maria Tak Bercela di Ngagel, kemudian meledakkan diri mereka. Ada 13 orang korban meninggal dan 43 orang terluka akibat perbuatan satu keluarga ini.

Warga membersihkan jalan di depan Gereja Pantekosta Pusat (Foto: Reuters)

Tindakan Biadab

Apa yang mereka lakukan itu susah dicerna akal sehat dan hati nurani. Mengorbankan anak sendiri untuk mencelakai orang-orang yang sedang beribadah. Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif atau biasa dipanggil Buya Syafii, menggolongkan aksi bom di Surabaya tersebut sebagai tindakan superbiadab.

Buya prihatin dan sangat kecewa saat mengetahui bahwa pelaku bom bunuh diri tersebut kaum perempuan yang mengajak serta anak-anaknya. “Perempuan berani mati ini jelas sekali karena sudah dicuci otaknya, apa pun jadi berani. Dia sudah tak peduli aksinya itu merusak. Jangan ada lagi yang membela mereka,” ujar Buya.

Presiden Joko Widodo mengatakan, pemerintah akan menindak tegas pelaku teror di Indonesia. Ia pun menilai aksi bom bunuh diri adalah tindakan pengecut dan biadab. Presiden telah memerintahkan Kepala Kepolisian RI, Jenderal Tito Karnavian, agar menghentikan rentetan aksi teror yang terjadi.

“Saya perintahkan kepada Kapolri untuk tegas, tidak ada kompromi dalam melakukan tindakan-tindakan di lapangan untuk menghentikan aksi terorisme ini,” ujar Jokowi, panggilan akrabnya.

Profesor Mahfud M.D., Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013, dalam cuitannya di media sosial mengatakan bahwa sama biadabnya dengan teroris adalah mereka yang mengatakan teror-teror yg terjadi di Depok, Surabaya, dan Sidoarjo merupakan rekayasa aparat. Mereka tak berempati sama sekali, berhati srigala.

Memang, masih ada sebagian orang yang menganggap ledakan tiga bom bunuh diri di Surabaya dan serangan di Mako Brimob Depok beberapa hari yang lalu, dan juga serangan bom di Mapolrestabes Surabaya pada Senin 14 Mei 2018, merupakan rekayasa politik semata. Tidak usah empati, bahkan sekadar simpati ucapan belasungkawa pun tidak mereka tunjukkan.

#KamiTidakTakut

Bersamaan dengan hal tersebut juga muncul gerakan #KamiTidakTakut di media sosial. Tujuannya adalah untuk melawan aksi terorisme. Warga masyarakat diharapkan tidak takut untuk keluar rumah dan melakukan aktivitas seperti biasa sehingga tujuan pengirim teror untuk menyebar rasa takut tidak akan tercapai.

Namun, mencermati kejadian teror bom bunuh diri yang melibatkan seorang ibu dan anak-anak dari kalangan ekonomi menengah, sulit untuk merasa tidak takut. Kita menjadi waswas dengan sekeliling kita. Apakah kita bisa merasa yakin bahwa lingkungan dan komunitas kita tidak disusupi oleh mereka? Apakah ajaran yang mereka terima sama dengan yang kita pelajari? Adakah ujaran kebencian yang belakangan ini semakin menggempur kehidupan bermasyarakat jadi tertanam dalam benak mereka?

Seperti kisah keluarga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Mereka tinggal berkecukupan di suatu kompleks perumahan, melaksanakan ibadah di masjid yang sama dengan tetangganya, anak-anaknya suka main sepeda dan dulu pernah bersekolah, sang ayah memiliki bisnis dengan warga keturunan, sang ibu kerap datang ke pengajian. Mereka berbaur dengan warga, terlihat normal seperti keluarga lainnya, entah apa yang merasuki mereka untuk berbuat sekeji itu?

Bagaimanapun, kita tidak boleh takut akan ancaman teror. Waspada tentu saja harus. Tetapi tetaplah beraktivitas normal seperti yang sehari-hari dilakukan. Lebih awas dalam memperhatikan sekitar kita. Berani melaporkan bila menemukan ancaman radikalisme dan terorisme.

Di dunia maya, warganet gencar mengampanyekan #BersatuLawanTerorisme. Bangsa Indonesia tidak sudi dipecah belah oleh segolongan teroris yang ingin menghancurkan NKRI. Lalu, pemerintah bisa berbuat apa untuk melindungi warga negaranya dari aksi terorisme?

Basmi Sampai ke Akarnya

Presiden Jokowi sudah meminta DPR untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada masa sidang berikutnya. Ia menilai pembahasan RUU ini oleh parlemen sudah berlangsung lama, memakan waktu lebih dari dua tahun.

Jokowi menuturkan, jika hingga akhir masa sidang berikutnya, yaitu pada Juni 2018, DPR tak kunjung mengesahkan RUU itu, pemerintah akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu). “Ini merupakan sebuah payung hukum yang penting bagi aparat, Polri untuk bisa menindak tegas dalam pencegahan maupun dalam tindakan,” kata Jokowi. “Perlu saya tegaskan lagi, kami akan lawan terorisme dan kami akan basmi terorisme sampai ke akar-akarnya.”

Presiden Jokowi akan membasmi terorisme sampai ke akarnya (Foto: Biro Pers Setpres)

Cukupkah pernyataan Presiden itu menimbulkan rasa aman? Mungkin hanya sedikit. Kapolri mengklaim, sulit memberantas jaringan teroris karena terganjal ketentuan dalam UU Terorisme. Regulasi yang diajukan pemerintah untuk direvisi tak kunjung disahkan DPR karena masih adanya perdebatan antara pemerintah dengan DPR. Polri tidak punya undang-undang yang kuat untuk menindak mereka.

Tito mencontohkan, saat ada WNI yang dideportasi dari Suriah karena diduga terlibat dengan ISIS, Polri tidak bisa menindak mereka kecuali sangkaan pemalsuan paspor, KTP dan lainnya. Begitu juga saat nama kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS berkali-kali disebutkan dalam persidangan, Polri tidak bisa menindak langsung karena belum diatur UU Terorisme.

Sementara itu Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, bicara soal peran TNI yang paling cocok dalam hal pemberantasan terorisme. Menurut Moeldoko, untuk penanganan teroris, sebaiknya bantuan TNI sesuai dengan kebutuhan. Namun, dia menegaskan Presiden Jokowi telah memberi perintah agar TNI-Polri berkolaborasi dalam hal ini.

“Ada, tergantung kebutuhan. Bisa nanti pengerahan badan intelijen strategis untuk membantu tim intelijen dari kepolisian, tetapi tergantung dari kepentingan di lapangan, seperti apa yang diinginkan teman-teman kepolisian,” kata Moeldoko. “Intinya, presiden telah memerintahkan kepolisian dan TNI kolaborasi dan Kapolri menyatakan itu di Surabaya.”

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian (foto: Antara)

Peran TNI di revisi UU Terorisme telah disepakati. Mereka akan terlibat, tetapi nantinya akan diatur lagi lewat Perpres. Ditegaskan Moeldoko, pemberantasan terorisme tetap akan dikomandoi pihak kepolisian.

Seperti yang sudah disuarakan banyak pihak, sekaranglah saatnya pemerintah bersikap tegas melawan terorisme. Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) yang merupakan gabungan 14 ormas Islam – di antaranya NU (Nahdlatul Ulama) dan Persis (Persatuan Islam) – mendukung Presiden Jokowi untuk mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu), bila RUU Terorisme tak kunjung disahkan. Alasannya, negara saat ini sudah darurat terorisme.

Bersatulah Semua

Dalam beberapa hari ke depan umat Islam akan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Bulan suci penuh rahmat itu tentunya ingin dilalui dengan damai. Setelah itu akan ada perayaan Idul Fitri dilanjutkan dengan libur panjang. Lebaran dan liburan serta mudik sudah pasti merupakan momen penting dalam tradisi orang Indonesia. Kita semua ingin bersilaturahmi dalam suasana yang damai dan sukacita, tidak terganggu dengan aksi terorisme yang memecah belah persatuan bangsa.

Kemudian pada bulan Agustus hingga September mendatang Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, pesta olahraga se-Asia. Negeri indah kita akan dikunjungi sedikitnya 45 negara yang akan berpartisipasi dalam berbagai cabang olahraga. Bagaimana kita bisa meyakinkan mereka bahwa Indonesia aman untuk dikunjungi kalau kita sendiri merasa takut?

Bulan Ramadhan, Lebaran, liburan, mudik, dan hajatan besar Asian Games ini tentu membutuhkan partisipasi segenap lapisan masyarakat untuk menjadikannya aman dan menyenangkan. Mari kita bantu pemerintah dengan bersatu melawan terorisme.

Jangan saling bertengkar dan mencaci maki karena perbedaan keyakinan. Jangan mau diadu domba. Jangan menyebarkan berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Laporkan akun-akun penyebar hoax dan radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budi pekerti. Sebarkan pesan-pesan perdamaian. Perkuat persatuan kita sebagai bangsa yang berani menghadapi segala bentuk rongrongan akan kedaulatan NKRI. Bersatulah semua.

Seperti lirik lagu Pemuda yang ditulis musisi Candra Darusman puluhan tahun lalu,

Bersatulah semua seperti dahulu… Lihatlah ke muka… Keinginan luhur kan terjangkau semua…

Dessy Savitri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1 × two =